Tuesday, March 19, 2013

STRATEGI MELAWAN TB DENGAN DOTS (7): KESIMPULAN

Telah dibahas pada episode pertama bahwa DOTS adalah singkatan dari Directly Observed Short Course Treatment. Intinya pemberian obat jangka pendek dengan pengawasan langsung, dengan lima komponen utama yang benar-benar harus dilaksanakan, yaitu:
 
  • Secure political commitment, with adequate and sustained financing
  • Ensure early case detection, and diagnosis through quality-assured bacteriology
  • Provide standardized treatment with supervision, and patient support
  • Ensure effective drug supply and management
  • Monitor and evaluate performance and impact
Kalau boleh kita ambil kata kuncinya saja, maka lima komponen tersebut adalah (1) komitmen politis, (2) Penemuan kasus secara bakteriologis, (3) pengobatan dengan strategi DOTS, (4) Manajemen suplai/logistik dan (5) Monitoring dan evaluasi.
 
 
KOMITMEN POLITIS DAN PROGRAM
 
Bila "posisi" kelima komponen tersebut kita “mainkan”  maka bisa kita ringkas menjadi dua pilar utama yaitu "komitmen politis" dan "komitmen teknis" untuk melaksanakan program sesuai kesepakatan global.
 
Posisi komitmen politis amat penting karena program pengendalian TB yang merupakan program jangka panjang (setidaknya sesuai visi “a world free of TB” pada tahun 2050) tidak akan terlaksana tanpa dukungan anggaran yang berkesinambungan yang ditetapkan secara legal oleh  pemangku kebijakan terutama di daerah.
 
Kita lihat pada gambar di bawah, bahwa TB dapat dikendalikan hanya dengan cara:
 
1.   Menemukan penderita sebanyak-banyaknya dan menyembuhkan sebanyak-banyaknya. Dalam hal ini kita sepakat untuk menemukan minimal 70 persen dan mengobati miniman 85 persen dari yang ditemukan
 
2.   Pengobatan menggunakan obat yang sudah standar selama 6-8 bulan (FDC), dengan strategi DOTS dan dukungan penderita untuk taat
 
Oleh sebab itu perlu suplai logistik obat dan reagensia yang cukup dan tidak terputus. Untuk itu perlu dilakukan monitoring dan evaluasi secara berkala, antara lain terhadap penatalaksanaan penderita dan manajemen logistik.
 
 
 
AKSES UNIVERSAL
 
Visi kita adalah eliminasi TB dari dunia. Tidak ada cara lain kecuali harus mampu mencapai “Universal Access” untuk penemuan dan pengobatan penderita. Idealnya ditemukan semua, diobati semua dan sembuh semua. Pasti bukan sesuatu yang mudah.
 
Merujuk pada seri tulisan UNIVERSAL ACCESS bahwa syarat pertama yang harus dipenuhi adalah “Availability” sarana pelayanan yang secara fisik dan keuangan dapat dijangkau serta secara sosiokultural dapat diterima.  Barulah kita bisa mimpi untuk mencapai “coverage” seperti yang diharapkan. Disini kita menghadapi perilaku mencari pengobatan (health seeking behavior) oleh masyarakat yang dipengaruhi banyak faktor dan perlu diarahkan.
 
Setelah coverage kita amankan maka kita harus mampu menjamin efektifitas pengobatan, yaitu semua provider kesehatan konsekwen dan konsisten menggunakan FDC dengan strategi DOTS untuk pengobatan TB.  Alurnya dapat dibaca pada gambar di bawah.
 
 
Banyak barrier yang menghambat perjalanan penderita menuju ke tempat pelayanan DOTS. Barrier tersebut berada di dua tempat: Yang satu ada di penderita dan masyarakat, sedang satunya lagi ada di sistem kesehatan itu sendiri. Dapat dirujuk ke posting BARRIER PENGHALANG KESEMBUHAN TB PARU (1) dan (2) dengan bagan seperti gambar di bawah.
 
 
 
 
PENUTUP
 
Strategi DOTS saja, dengan lima komponennya belumlah mampu mengendalikan TB secara keseluruhan. DOTS hanya sekedar strategi pengobatan: Obat kombinasi yang standar (FDC: Fixed Drug Combination), melalui pengawasan langsung (DOT: Directly Observed Treatment) dengan  dukungan penderita dan Jangka pendek (Short Course: selama 6-8 bulan).
 
Dengan analogi permainan sepakbola, pejuangan melawan TB ibarat sudah di depan gawang lawan. Justru tantangan menjadi semakin berat.
 
Dalam hal ini antara lain adanya MDR-TB dan XDR-TB, TB-HIV, Belum semua provider kesehatan menggunakan strategi DOTS, Kemitraan belum digalang secara optimal, penelitian untuk TB masih kalah prioritas dengan yang lain, demikian pula sistem kesehatan sendiri belum terlalu solid.
 
Hal-hal ini semua selanjutnya dikemas dalam strategi pengendalian TB yang kita semua sudah kenal dengan nama: THE STOP TB STRATEGY.
 
TULISAN INI ADALAH EPISODE KE 7 (TERAKHIR) DARI 7 TULISAN
 

Rujukan bacaan

 
A Guide to Developing Knowledge, Attitude and Practice Surveys: Annex A, Cough to Cure Pathway (WHO, 2008)

No comments:


Most Recent Post