Tuesday, December 18, 2012

STIGMA DAN DISKRIMINASI (1): TANTANGAN PENGENDALIAN HIV/AIDS

Kata “stigma” konon berasal dari Yunani jaman dulu,  untuk menyebut  bekas luka akibat kulit ditempel besi panas yang dilakukan pada budak, penjahat atau orang-orang yang dianggap kriminal lainnya, sehingga mudah diidentifikasi sebagai orang yang hina atau harus dijauhi. Stigma juga bisa diartikan sebagai “label” untuk orang-orang yang tidak dikehendaki.
 
Dalam pengertian yang sederhana, stigma adalah sikap atau attitude negatif yang terkait dengan keyakinan atau pengetahuan seseorang. Sedangkan diskriminasi adalah perilaku atau action yang dilakukan. Dengan demikian asal-usul terjadinya “stigma” dan “diskriminasi” adalah dari pandangan negatif terhadap orang atau kelompok tertentu yang dianggap mempunyai sesuatu yang tidak baik.
 
Upaya menghilangkannya tentu dengan menghapus pandangan negatif tersebut melalui peningkatan pengetahuan masyarakat. Inilah tantangan besar kita dalam upaya “stop stigma and discrimination”. Khususnya dalam pengendalian HIV/AIDS
 
 
STIGMA DAN DISKRIMINASI: BANYAK DIKAITKAN DENGAN HIV/AIDS
 
Stigmatisasi dan diskriminasi sebenarnya tidak hanya dialami ODHA. Sebelum ada HIV/AIDS, para penyandang kusta maupun orang-orang yang pernah menyandang kusta merasakan pengalaman tidak menyenangkan dengan adanya stigma dan diskriminasi ini. Dengan ditemukannya obat MDT yang bisa menyembuhkan kusta tanpa cacat asal penyakitnya ditemukan dini dan berobat teratur selama minimal 6 bulan, pandangan dan sikap negatif ini mulai hilang.
 
Hippocrates konon melarang murid-muridnya mengunjungi penderita “Phthisis” (sebutan TB Paru pada waktu itu) karena akan menurunkan kredibilitas tabib, sebab tidak mampu menyembuhkan. Berarti ada perlakuan beda untuk penderita TB.
 
Dibandingkan TB Paru dan Kusta, yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu, AIDS adalah sesuatu yang amat baru. Indonesia baru mengenal AIDS pada tahun 1987. Adalah wajar kalau kemudian ada pandangan dan kepercayaan-kepercayaan yang salah mengenai HIV/AIDS ini. Apalagi pada awal-awal masuknya HIV/AIDS, label tentang Tidak ada obat, kematian, seks, obat bius dan moral melekat amat erat dengan HIV/AIDS.
 
Masalahnya sekarang ini adalah abad ke 21, abad kemajuan. Kalau ada stigma dan diskriminasi, mestinya ya pada awal-awal dikenalnya penyakit. Sekarang sudah waktunya menuju ke “Zero discrimination”.

Beberapa hal yang mendukung timbulnya stigma antara lain: HIV/AIDS dikaitkan dengan ketiadaan obat dan kematian; Dikaitkan dengan perilaku seksual yang justru sudah merupakan stigma tersendiri  di beberapa kelompok masyarakat; pandangan moral dan ketidak tahuan serta informasi yang salah tentang HIV/AIDS
 
STIGMA DAN DISKRIMINASI: BARRIER UTAMA PENGENDALIAN HIV/AIDS
Sekjen PBB: Ban Ki-moon
“AIDS related stigma” akan diikuti dengan diskriminasi, misalnya perlakuan negatif dan pembatasan-pembatasan kesempatan yang bisa mempengaruhi seluruh aspek kehidupan ODHA: Mulai dari pergaulan sosial, kesempatan memperoleh pendidikan dan pekerjaan, pelayanan kesehatan, bepergian, dan lain-lain. Hal ini justru menghambat upaya pengendalian HIV/AIDS, membuat AIDS tetap menjadi “the silent killer” seperti dikatakan Sekjen PBB, Ban Ki-moon pada International AIDS Conference di Mexico City, 6 Agustus 2008 yang dikutip The Washington Times:
Stigma remains the single most important barrier to public action. It is the main reason too many people are afraid to see a doctor to determine whether they have the disease, or to seek treatment if so. It helps make AIDS the silent killer, because people fear the social disgrace of speaking about it, or taking easily available precautions. Stigma is a chief reason the AIDS epidemic continues to devastate societies around the world.
 
KESIMPULAN
Ketidak-tahuan bisa diakibatkan karena orang memang tidak tahu atau memperoleh informasi yang salah. Hal ini akan menimbulkan sikap atau attitude negatif yaitu “stigma” yang memberi label atau cap kepada ODHA dengan predikat-predikat yang tidak baik. Akibat dari sikap tersebut tumbuhlah perilaku diskriminatif, dimana yang paling menonjol adalah: perbedaan perlakuan, penolakan dan pembatasan.
Satu-satunya yang diuntungkan dengan adanya Stigma dan diskriminasi hanyalah virus AIDS, karena banyak orang takut mengetahui status HIVnya, dan yang sudah tahu kalau dirinya HIV positif akan kesulitan mengakses pelayanan. Penularan dan kematian yang terkait dengan AIDS akan jalan terus. Inilah tantangan sekaligus ancaman stigma dan diskriminasi harus dijawab.

No comments:

Most Recent Post