Showing posts with label Lab. Show all posts
Showing posts with label Lab. Show all posts

Thursday, April 11, 2013

PENGGUNAAN STRATEGIS ARV: PENCEGAHAN SEKALIGUS PENGOBATAN (2)

Sebelum kita sampai kepada “Treatment for prevention” ada baiknya kita kembali sejenak ke “BAGAIMANA CARA ARV BEKERJA”. ARV (Anti RetroViral) yang saat ini ada, memang belum sepenuhnya mempunyai “killing power” terhadap HIV. Bagaimanapun ARV masih bisa diandalkan (saat ini) karena kemampuannya untuk menghambat proses replikasi HIV di dalam sel CD4. Proses replikasi tersebut dapat dibaca di posting HIV AIDS: Sel CD4 sasaran virus penyebab AIDS.
 
Ada banyak jenis ARV yang bekerja pada simpul-simpul replikasi yang berbeda. Penggunaan kombinasi beberapa jenis ARV yang mempunyai titik tangkap berbeda merupakan kekuatan handal untuk menghambat replikasi HIV. Dengan pengobatan yang terus-menerus maka lama-kelamaan jumlah HIV yang bersirkulasi akan berkurang, sampai tidak terdeteksi. Untuk mengetahui hal ini perlu pemeriksaan Viral Load secara berkala disamping pemeriksaan jumlah sel CD4 yang diharapkan akan naik. Mengenai Viral Load dapat dibaca pada posting HIV AIDS: CD4 Count dan Viral Load.
 
Sasaran pengobatan dengan ARV adalah mencapai Viral Load serendah-rendahnya sampai tidak terdeteksi dalam pemeriksaan laboratorium.
 
 
 
PROSES REPLIKASI HIV DAN KERJA ARV
 
Di bawah adalah gambaran singkat proses replikasi HIV dan di bagian mana ARV berperan menghambat replikasi tersebut. Gambar-gambar diambil dari website aidsmap.
 
Pada gambar 1 dapat dilihat bagaimana awal proses HIV memasuki sel CD4.
 
Diawali dengan HIV menempelkan diri (fusi) ke reseptor yang memang sudah ada di sel inang, dalam hal ini sel CD4.
 
Obat yang disebut “entry inhibitor” (termasuk didalamnya CCR5 inhibitors dan fusion inhibitors) akan menghambat proses pendaratan HIV ke sel CD4, sehingga tidak terjadi "fusi"
 
Dengan demikian satu simpul telah diatasi, dan apabila masih bisa lolos maka kita akan berjuang di simpul berikutnya
 
Pada gambar 2 HIV telah memasuki sel CD4 dan berubah bentuk. DNA Virus terbentuk dengan bantuan enzim reverse transkriptase.
 
Hal ini dapat dicegah dengan ARV yang disebut “nukes” dan “non-nukes”
 
Catatan: Nama ilmiah “nukes” adalah nucleoside reverse transkriptase inhibitors (NRTIs) sedangkan “non-nukes” adalah non-nucleoside reverse transkriptase inhibitors (NNRTIs).
 
Dengan demikian HIV yang berhasil lolos dan memasuki sel CD4 akan dihambat proses replikasinya pada tahap pembentukan DNA Virus.
 
Gambar 3 menjelaskan bahwa HIV berhasil membentuk DNA virus dan masuk lebih dalam lagi ke nucleus sel CD4 dengan bantuan enzim integrase guna berintegrasi dengan DNA sel CD4.
 
Dalam hal ini kita punya ARV yang berperan menghambat terjadinya integrasi ini, yaitu yang disebut dengan integrase inhibitor.
 
Hasilnya adalah tidak terjadi integrasi antara kedua DNA (virus dan CD4)
 
 
Gambar 4 menunjukkan apabila DNA virus berhasil berintegrasi dengan DNA sel inang (sel CD4) maka yang terjadi adalah terbentuknya virus RNA baru, yang akan digunakan sebagai genom (genetik informasi) RNA untuk membuat protein virus.
 
Selanjutnya virus RNA baru dan protein bergerak ke permukaan dengan hasil akhir terbentuklah virus muda yang baru.
 
Enzim protease yang dilepas dari protein HIV akan bersama-sama menuju permukaan selanjutnya mematangkan virus baru ini dan siap memasuki sel CD4 lainnya.
 
Dalam kondisi ini obat-obat ARV yang punya potensi sebagai Protease Inhibitor (PI) akan mencegah terjadinya pematangan virus baru.
 
Gambar 5 adalah kondisi apabila virus berhasil melakukan replikasi.
 
Virus baru yang sudah dimatangkan oleh enzim protease akan keluar dari sel CD4 guna melanjutkan tugasnya menginfeksi sel-sel CD4 lainnya yang masih sehat.
 
Sayang bahwa saat ini obat yang punya kemampuan membunuh virus  belum ada. Tetapi melalui penggunaan kombinasi ARV dengan titik tangkap seperti dijelaskan dalam gambar 1 s/d 4, replikasi virus ini akan dihambat.
 
Dengan pengobatan secara teratur selama hidup maka replikasi besar-besaran akan dihambat, bahkan jumlah virus bisa menjadi sangat sedikit sampai tidak terdeteksi keberadaannya.
 
 
KESIMPULAN
 
Sasaran pemberian ARV adalah menurunkan jumlah virus sampai serendah-rendahnya sehingga tidak terdeteksi oleh pemeriksaan laboratorium.
 
Hasilnya adalah umur harapan hidup dan kualitas hidup orang dengan HIV AIDS akan meningkat sama dengan mereka yang HIV negatif.
 
Pertanyaannya adalah: Apakah jumlah virus yang “undetectable” aman dari risiko menularkan kepada orang lain? Kalau memang aman, berarti “Treatment is prevention”.
 
Posting ini adalah episode ke dua dari empat tulisan

Penggunaan Strategis ARV: Pengobatan sekaligus pencegahan (2)

Dilanjutkan ke PENGGUNAAN STRATEGIS ARV: PENCEGAHAN SEKALIGUS PENGOBATAN (3)
 
RUJUKAN BACAAN

http://www.niaid.nih.gov/topics/hivaids/understanding/biology/Pages/structure.aspx
http://www.niaid.nih.gov/topics/HIVAIDS/Understanding/Biology/Pages/hivReplicationCycle.aspx

Wednesday, April 3, 2013

PENGENDALIAN TB: SUKSES TETAPI PERLU INOVASI BARU (2)

Menggarisbawahi posting Pengendalian TB: Sukses tetapi perlu inovasi baru (1) dapat kita tegaskan bahwa: Apabila pengendalian TB gagal, maka akan menghambat pencapaian sasaran MDG yang lain, yaitu pemberantasan kemiskinan dan penurunan angka kematian ibu/wanita. Bahkan pendidikan pun akan terhambat. Oleh sebab itu pengendalian TB harus sustain dan senantiasa mengembangkan inovasi-inovasi baru.
 
 
KETERBATASAN “TOOLS” PENGENDALIAN TB SAAT INI
 
Ada tiga hal utama yang perlu mendapatkan perhatian, ibarat mesin mobil, maka mesin mobil TB ini adalah mesin generasi tua yang walaupun masih bagus tetapi jalannya tentusaja kalah dibandingkan mesin baru dengan tehnologi baru. Kekhawatirannya adalah: Jangan-jangan kita kalah cepat berlari dengan bakteri TB itu sendiri yang bagaimanapun pasti berupaya supaya tetap bertahan hidup. Jangan lupa ia masih tetap survive sejak ribuan tahun yang lalu. Apa sajakah ke tiga hal tersebut?
 
 
1. DIAGNOSIS:
 
Diagnosis TB secara mikroskopis umurnya sudah lebih dari seratus tahun. Memang masih OK tetapi lambat. Demikian pula Error Rate bisa tinggi. Hanya mampu mendeteksi kurang-lebih 50% dari pasien yang diperiksa. Saat kita mulai mendiagnosa dengan cara ini, TB-HIV belum ada dalam angan-angan kita. Diagnosa mikroskopis kurang efektif untuk ODHA dengan TB. Demikian pula untuk mendiagnosa TB pada anak, mengingat mendapatkan dahak anak juga bukan barang mudah.
 
Saat ini sudah ada Rapid Test untuk mendiagnosa TB sekaligus MDR-TB walaupun belum pas untuk digunakan di Point of Care. Baru di sarana rujukan.
 
 
 
2. OBAT
 
Obat TB yang terakhir ditemukan usianya sudah 40 tahun, yaitu paduan empat obat dengan lama pengobatan 6 bulan. Untuk ukuran 10 tahun yang lalu waktu 6 bulan itu cepat. Tapi untuk ukuran sekarang, apa tidak bisa lebih cepat lagi? Semakin pendek lama pengobatan, ketaatan pasien pasti makin tinggi. Disamping pengobatan butuh waktu lama, obat tersebut juga mahal, angka kesembuhan relatif rendah dan toksik. Dengan beberapa ARV (obat HIV) pun inkompatibel, sehingga sulit menetapkan paduan yang pas untuk TB-HIV.
 
Obat baru terus diteliti, dan kemungkinan dapat diperkenalkan setelah tahun 2013.
 
 
 
3. VAKSIN
 
Vaksin BCG yang saat ini kita kenal, usianya juga sudah lebih dari 90 tahun. Dampaknya dalam penurunan epidemi TB tidak nampak, dan efektivitasnya dalam memberikan perlindungan diragukan.
 
Penelitian terus dilakukan, tetapi saat ini kandidat utama vaksin pengganti vaksin BCG yang ditemukan Calmette dan Guerin ini belum lolos uji klinis fase 3
 
 
 
TUNTUTAN PASIEN
 
Penelitian terus dilakukan. Titik terang untuk obat dan diagnosa sudah ada. Tetapi tuntutan pasien melalui perwakilan Communities Affected by TB pada konggres ke 43 IUATLD di Kualalumpur cukup berat:

1.    Zero TB Death dan TB Infection
 
2.    Menyediakan sarana diagnosis yang cepat dan tepat
 
3.    Menyediakan vaksin TB yang efektif secepatnya
 
4.    Mengurangi lama pengobatan dengan obat baru yang tidak toksik. Tidak tanggung-tanggung tuntutannya. Untuk TB yang masih sensitif dengan OAT lini pertama, supaya diupayakan sembuh dalam 4 bulan pada tahun 2015 dan di bawah 2 minggu pada tahun 2025. Sedangkan untuk TB resisten obat dari 24 bulan menjadi 9 bulan.

Bukan main dan bukan main-main. Kita harus memihak pasien, jadi inovasi untuk penelitian tentang hal ini harus benar-benar intensif.

Wednesday, January 9, 2013

HIV DAN AIDS: CD4 COUNT dan VIRAL LOAD

Lanjutan dari HIV DAN AIDS: CD4 Count (Jumlah Sel CD4)
 
Pemeriksaan CD4 Count dan Viral Load merupakan dwi-tunggal dalam pemantauan hasil pengobatan dengan ARV. Yang pertama menghitung jumlah sel-sel kekebalan yang kita punyai dan yang kedua menghitung jumlah partikel (copy) virus yang ada. Bila yang satu tinggi, logikanya yang satu akan rendah, demikian pula sebaliknya.
 
 
VIRAL LOAD
 
Viral Load adalah jumlah partikel virus dalam 1 mm kubik darah. Semakin banyak jumlah partikel virus dalam darah berarti semakin besar kerusakan Sel CD4, makin rentan untuk terjadi infeksi oportunistik dan perjalanan dari HIV positif menjadi AIDS pun menjadi semakin cepat.

Sama halnya dengan jumlah Sel CD4, maka dengan menghitung besarnya Viral Load kita dapat:
 
1.    Memonitor perjalanan penyakit
2.    Menetapkan kapan memulai pengobatan dengan ARV
3.    Mengetahui efektifitas pengobatan

Pengobatan dengan ARV akan mengurangi reproduksi virus HIV, menurunkan Viral Load dan melindungi sistem imun tubuh.
 
 
ANGKA NORMAL DAN FLUKTUASI VIRAL LOAD
 

Berbeda dengan tes-tes laboratorium lainnya, maka Viral Load tidak mempunyai angka normal. Orang yang tidak terinfeksi HIV tidak akan ada Viral Load samasekali. Viral Load menunjukkan berapa partikel virus (disebut: copy) yang ada dalan 1 mm kubik darah kita. Tujuan pengobatan HIV/AID adalah menurunkan angka Viral Load serendah mungkin sampai pada tingkatan “tidak terdeteksi” yaitu pada kisaran 40-75 copy per sampel darah.
 
Viral Load berubah dari waktu ke waktu. Pada awal infeksi maka Viral Load bisa tinggi, mencapai jutaan. saat itu sistem imun masih mampu bereaksi dan mendorong kembali Viral Load sampai ke “set point”. Viral Load akan dipertahankan rendah sampai tiba saatnya kerusakan sel-sel CD4 semakin besar. Pada saat inilah terapi dengan ARV mulai diperlukan.
 
Pemeriksaan Viral Load dilakukan pada awal orang didiagnosa HIV positif guna memperoleh data awal, selanjutnya akan direkomendasikan untuk melakukan pemeriksaan setiap 3-6 bulan karena yang penting adalah mengetahui trend dari Viral Load (naik atau turun). Perlu dicatat bahwa Viral Load bukan untuk pemeriksaan sewaktu atau satu kali.
 
 
CD4 COUNT, VIRAL LOAD DAN PENULARAN HIV
 
CD4 Count bersama-sama Viral Load menghasilkan potret lengkap kondisi sistem imun kita dalam melawan virus HIV. Tujuan kita adalah mempertahankan CD4 Count setinggi mungkin dan Viral Load serendah-rendahnya (sampai tidak terdeteksi). Hasil pemeriksaan Viral Load akan meningkatkan keyakinan keberhasilan pengobatan.
 
Viral Load yang rendah akan “menurunkan risiko” penularan HIV melalui hubungan seksual. Walau demikian perlu diperhatikan bahwa Viral Load yang tidak terdeteksi bukanlah jaminan bahwa seorang HIV positif tidak akan menularkan virusnya ke orang lain. HIV bisa tetap ada di cairan sperma, cairan vagina maupun air susu ibu. Langkah-langkah pengamanan dengan proteksi tetap diperlukan, misalnya dengan menggunakan kondom secara konsisten dalam setiap hubungan seksual.
 
 
KESIMPULAN
 
Pemerikaan CD4 dan Viral Load memberikan informasi esensial perkembangan virus HIV dalam tubuh manusia. Sasaran pengobatan ARV adalah menghasilkan CD4 Count setinggi-tingginya dan Viral Load serendah-rendahnya (tidak terdeteksi).
 
Patokan pemberian ARV (www.aidsmap.com/) adalah:

CD4 COUNT
500-1200
Normal untuk orang yang tidak terinfeksi HIV
Di atas 350
Biasanya pemberian ARV belum direkomendasikan
Di bawah 350
Pemberian ARV mulai direkomendasikan
Di bawah 250
risiko infeksi oportunistik amat tinggi, ARV direkomendasikan
VIRAL LOAD
100.000-1 juta
Amat tinggi
Di bawah 100.000
Untuk ODHA yang tidak dalam pengobatan: rendah
Di bawah 50
Tidak terdeteksi: merupakan target pengobatan HIV dan AIDS


Dilanjutkan ke: Sel CD4 sasaran virus AIDS

 
TULISAN TERKAIT


Pengertian HIV dan AIDS
HIV dan Sistem Kekebalan Tubuh
HIV-AIDS: Sel CD4 dan Sistem Kekebalan Tubuh
HIV-AIDS: CD4 Count (Jumlah Sel CD4)
HIV-AIDS: CD4 Count dan Viral Load
HIV-AIDS: Sel CD4 Sasaran Virus HIV

Rujukan Bacaan:
http://aids.gov/hiv-aids-basics/just-diagnosed-with-hiv-aids/understand-your-test-results/viral-load/index.html

http://www.who.int/diagnostics_laboratory/faq/viral_load/en/index.html

Tuesday, January 8, 2013

HIV DAN AIDS: CD4 COUNT (JUMLAH SEL CD4)

Seperti telah disebutkan dalam posting HIV/AIDS: Sel CD4 dan Sistem kekebalan Tubuh, kedudukan Sel CD4 dalam sistem pertahanan tubuh amatlah penting.
 
WHO menyebut: CD4+ T-cells are also known as helper T-cells and act as a co-ordinator of the immune response. Sementara aidsmeds.com menyebut: Helper T-Cells (also called T4 or CD4+ cells) help other cells destroy infective organisms. Sedangkan aids.gov menuliskan: CD4 cells or T-cells are the “generals” of the human immune system Helper T-Cells.
 
Sel CD4 adalah jenderal yang mengkoordinir sistem imun tubuh dalam menghancurkan organisme infektif yang masuk. Masalahnya adalah yang diserang virus HIV justru sel CD4 ini. Dengan dilumpuhkannya sel-sel CD4 maka sistem kekebalan tubuh menjadi kehilangan komando sehingga terjadi kelemahan pada seluruh sistem imun tubuh.
 
Mengetahui jumlah sel CD4 dalam kaitan dengan infeksi HIV/AIDs menjadi amat penting dalam upaya kita mengetahui:
 
1.    Seberapa besar kekuatan pertahanan tubuh yang masih ada
2.    Kapan kita harus memulai pengobatan dengan ARV
3.    Memantau dampak pengobatan dengan ARV

 
JUMLAH NORMAL SEL CD4
 
Jumlah sel CD4 dihitung dalam milimeter kubik darah, bisa manual dengan mikroskop atau otomatis dengan cytometer. Angka normal bervariasi, ada yang menyebut 600-1200; 500-1000; 500-1500 dan 1400-1500 per mm kubik darah. Dapat disimpulkan bahwa angka normal adalah di atas 500 per mm kubik darah.
 
Makin tinggi jumlah sel CD4 berarti makin baik sistem imun kita. Sebaliknya makin rendah jumlah sel CD4 berarti makin rendah daya tahan tubuh kita. How low is low sehingga kita harus memulai pengobatan dengan ARV ada banyak pendapat. Ada yang memberi batas di bawah 500 sudah perlu diberikan pengobatan, tetapi pada umumnya mengatakan bahwa pengobatan dengan ARV dimulai bila CD4 count ada pada angka 350 atau lebih rendah.
 
 
BERBAGAI PERTIMBANGAN
 
The U.S. Department of Health and Human Services menyarankan ARV diberikan pada angka CD4 350 atau lebih rendah karena pada jumlah tersebut  tubuh mulai rentah terhadap infeksi oportunistik. Sementara ahli yang lain berpendapat bahwa akan lebih mudah mengontrol jumlah Sel CD4 apabila ARV sudah diberikan pada jumlah CD4 di atas 350. Sedangkan CDC Atlanta (yang dikutip aids.gov) tidak menyarankan ARV diberikan sepanjang jumlah Sel CD4 masih dalam batas-batas normal kecuali dalam kondisi tertentu misalnya kehamilan. Pada intinya, kebijakan klinis akan menjadi pertimbangan kapan ARV diberikan.
 
Ketersediaan obat yang cukup adalah syarat mutlak pengendalian HIV AIDS. Tidak boleh terjadi “stock-out” adalah kata kuncinya. Berarti harus memperhitungkan buffer stock untuk mengantisipasi peningkatan jumlah yang membutuhkan ARV maupun jumlah yang perlu diberikan ARV di atas angka “cut-off’ 350 atau angka lain yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. Risikonya akan ada “obat sisa” yang memang harus terjadi sebagai konsekwensi tidak boleh terjadi stock-out. Auditor perlu diberi penjelasan sehingga tidak dianggap sebagai “kerugian negara”.
 
 
KESIMPULAN
 
Pemeriksaan jumlah Sel CD4 direkomendasikan setiap 3-6 bulan dengan tujuan memantau dampak pengobatan. Perlu dicatat karena masih ada salah pemahaman, bahwa pemeriksaan Sel CD4 bukan pemeriksaan diagnostik HIV AIDS.
 
Harapan dari pengobatan dengan ARV adalah meningkatnya jumlah Sel CD4 setinggi mungkin. Hal ini berarti meningkatnya daya tahan tubuh,  quality of life dari ODHA akan meningkat dan lebih aman dari serangan infeksi oportunitistik. .
 
Meningkatnya jumlah Sel CD4 logikanya akan diikuti menurunnya jumlah partikel virus HIV. Sebaliknya bila Sel CD4 menurun maka viral load meningkat. Penghitungan jumlah Sel CD4 dan Viral Load menjadi dua pemeriksaan yang amat penting dalam follow-up pengobatan dengan ARV. Dilanjutkan ke HIV/AIDS: CD4 Count dan Viral Load


TULISAN TERKAIT

Pengertian HIV dan AIDS
HIV dan Sistem Kekebalan Tubuh
HIV-AIDS: Sel CD4 dan Sistem Kekebalan Tubuh
HIV-AIDS: CD4 Count (Jumlah Sel CD4)
HIV-AIDS: CD4 Count dan Viral Load
HIV-AIDS: Sel CD4 Sasaran Virus HIV

Rujukan Bacaan:

http://www.who.int/diagnostics_laboratory/faq/cd4/en/index.html

Monday, January 7, 2013

HIV DAN AIDS: SEL CD4 DAN SISTEM KEKEBALAN TUBUH

Bicara mengenai HIV dan AIDS maka sistem kekebalan tubuh adalah salah satu topik utama. Dalam membahas sistem kekebalan tubuh terkait dengan HIV/AIDS, kita akan selalu mendengar kata CD4 Cells dan CD4 Cell Counts (Sel CD4 dan Jumlah Sel CD4). Siapakah sebenarnya Sel CD4 ini? Apakah peran mereka sehingga menjadi perhatian utama kita? Jangan biarkan berlalu tanpa tahu. Tulisan ini adalah lanjutan dari HIV dan Sistem Kekebalan Tubuh.
 
 
SEL CD4, SEL-T Penolong (Helper) dan Sel T4
 
Tiga nama di atas, CD4 Cells, Helper T-Cells dan T4 Cells sebenarnya merujuk kepada sel yang sama. Disebut Sel T karena diproduksi di sumsum tulang dan dimatangkan di kelenjar Thymus (T), Disebut “Helper” karena perannya membantu sel-sel pertahanan tubuh lainnya.
 
Nama yang populer saat ini memang CD4. Mengapa disebut “CD” tidak ada kaitannya dengan Corps Diplomatic atau (mohon maaf) “Celana Dalam”. CD adalah singkatan dari Cluster of Differentiation, merujuk pada klaster protein yang membentuk reseptor pada permukaan sel tersebut. Ada banyak sekali klaster, tetapi dalam hubungan dengan HIV/AIDS maka CD4 dan CD8 yang paling utama dan paling sering dibahas.
 
 
SEL CD4: DARI MANA DATANGNYA?
 
Dalam bahasa awam, yang tanggung-jawab terhadap berfungsinya sistem kekebalan tubuh adalah sel darah putih. Salah satu dari beberapa jenis sel darah putih adalah yang disebut Limfosit (Lymphocyte). Sel CD4 adalah salah satu bentuk dari Limfosit ini.
 
Ada dua jenis sel Limfosit, yaitu Sel B (B-cells) dan Sel T (T-cells).
 
Disebut Sel B karena diproduksi sekaligus dimatangkan di Bone marrow (sumsum tulang). Sel B akan menghasilkan antibody guna melawan patogen yang memasuki tubuh manusia.
 
Disebut Sel T karena produksinya di Bone marrow tetapi pematangannya di kelenjar Thymus (T).
 
Ada tiga kelompok Sel T, yaitu:

1.    Helper T-Cells yang disebut juga dengan nama Sel T4 atau CD4. Tugasnya adalah mengkoordinir dan menggerakkan sel-sel kekebalan tubuh lainnya untuk menghancurkan organisme penyebab penyakit yang masuk ke tubuh manusia.

2.    Supressor T-Cells dikenal juga dengan nama Sel T8 atau CD8 dengan tugas mengendalikan unsur kekebalan tubuh yang lain sehingga tidak menyerang jaringan normal

3.    Killer T-Cells disebut juga CTLs (Cytotoxic T-Lymphocytes) salah satu jenis sel T8 yang tugasnya mengenali dan merusak sel-sel abnormal atau yang terinfeksi.

 
SEL CD4: APA MISINYA?
 

Diantara sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia, maka tanggung-jawab sel-sel CD4 amat besar. Tugas mereka adalah mengatur berfungsinya sistem kekebalan tubuh.

Sel CD4 inilah yang memberi sinyal bahaya dan selanjutnya menggerakkan sel-sel pertahanan tubuh yang lain untuk menyerang intruder yang akan mengganggu tubuh manusia, misalnya virus dan bakteri. Bisa dikatakan bahwa sel CD4 adalah jenderalnya sistem kekebalan tubuh.
 
 
KESIMPULAN
 
Jumlah sel CD4 menjadi indikator yang amat penting dalam menentukan tingkat kekebalan tubuh manusia. Kita harus mampu mempertahankan “jumlah CD4” dalam batas-batas normal pada kisaran 500-1000 sel per milimeter kubik darah, sehingga kita mampu mempertahankan diri dari komplikasi-komplikasi yang berhubungan dengan HIV AIDS khususnya mencegah terjadinya infeksi oportunistik.
 
Jumlah Sel CD4 akan menentukan kapan seorang ODHA harus memulai pengobatan. Penghitungan jumlah sel CD4 menjadi bagian penting dalam pengobatan: Memulai dan follow-up nya. Dilanjutkan ke: HIV DAN AIDS: CD4 Cell Count (Jumlah Sel CD4)


TULISAN TERKAIT






Rujukan bacaan:
http://aids.gov/hiv-aids-basics/
http://www.aidsmeds.com/articles/

Most Recent Post