Sunday, March 17, 2013

STRATEGI MELAWAN TB DENGAN DOTS (6): MONITORING DAN EVALUASI


Menemukan suspek, mendiagnosa dan mengobati sampai sembuh adalah sebuah proses sekuensial paling strategis dalam pengendalian TB. Bila suspek sudah ditemukan harus didiagnosa. Bila diagnosa positif harus diobati, seterusnya bila sudah diberi obat harus tuntas sampai sembuh. Dari tiga hal tersebut kinerja sistem kesehatan dinilai. Oleh sebab itu diperlukan sistem pencatatan dan pelaporan yang baik.
 
Bila kita anggap ketiga hal tersebut sebagai sebuah simpul, maka kinerja masing-masing simpul harus dimonitor secara tetap. Selanjutnya dilakukan evaluasi terhadap kinerja, misalnya Case Detection Rate dan Success Rate pengobatan.
 
 
Monitoring dan Evaluasi (sering kita kenal dengan  singkatan Monev atau M & E) saling bergandengan dan tidak bisa hilang salah satu.  Tidak mungkin kita melakukan evaluasi tanpa monitoring sebelumnya, dan apa manfaatnya monitoring kalau tidak dilakukan evaluasi. Monev dilakukan terhadap kinerja dan dampak.
 
Bila kita merujuk kembali ke seri tulisan UNIVERSAL ACCESS maka kinerja dalam jangka pendek akan menghasilkan output yang berupa angka penemuan penderita dan angka keberhasilan pengobatan. Bila program pengendalian bisa terlaksana dengan efektif sekaligus efisien maka dalam jangka menengah akat terlihat dampaknya yang berupa menurunnya angka kesakitan dan kematian.
 
 
SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN HARUS BAIK
 
Tidak boleh ditawar lagi: Pencatatan dan pelaporan (Recording dan Reporting) program TB harus benar, lengkap dan tepat waktu di semua jenjang, mulai dari tingkat pelayanan dasar sampai ke pusat.
 
Oleh sebab itu guna memudahkan komunikasi dari perifer sampai sentral diperlukan pencatatan yang seragam khususnya terhadap data individual pasien, mulai didiagnosa, pengobatan dan hasil pengobatan yang selanjutnya seriap tribulan dimasukkan dalam laporan kohort.
 
Tentusaja kondisi logistik obat dan reagensia untuk pemeriksaan laboratorium harus dicatat dengan baik pula sehingga tidak terjadi hal yang paling ditakuti yaitu “stock-out”.
 
Di sarana pelayanan data ini dapat digunakan untuk monitoring hasil pengobatan, di tingkat Kabupaten/Kota dapat untuk mengidentifikasi masalah lokal, demikian seterusnya sampai di tingkat nasional dan global. Oleh sebab itu diperlukan supervisi reguler secara berjenjang guna mengetahui kualitas informasi sekaligus meningkatkan mutu kinerja.
 
 
KUALITAS PENCATATAN DAN PELAPORAN HARUS DITINGKATKAN
 
Tantangan pengendalian TB semakin bertambah besar, dengan adanya TB resisten obat (MDR-TB dan XDR-TB) dan TB-HIV.
 
Demikian pula dengan semakin meningkatnya umur harapan hidup manusia, maka risiko penderita TB dengan diabetes maupun sebaliknya, diabetes dengan TB akan meningkat. Biakan sputum, DST, test HIV, tes gula darah dll perlu dilakukan dalam memperkuat kawalan penderita menuju kesembuhan.
 
Kebutuhan pelatihan perlu diidentifikasi. Pelatihan petugas pencatatan dan pelaporan di semua jenjang perlu ditingkatkan. Evaluasi pelatihan diberikan pra, selama dan paska pelatihan.
 
Sistem pencatatan secara elektronik perlu dikembangkan sampai ke semua tingkat, dengan tujuan memudahkan pekerjaan petugas. Hambatan-hambatan pada software, hardware dan akses jaringan internet perlu diantisipasi.
 
 
KESIMPULAN
 
Guna mencapai akses universal maka semua provider kesehatan harus dilibatkan. Dalam hal ini perlu diciptakan sistem pencatatan, pelaporan, monitoring dan evaluasi dengan lebih memberikan perhatian pada fasilitas pelayanan kesehatan yang tidak terkait langsung secara hirarkhi dengan pengelola program TB, yaitu rumah sakit (pemerintah dan swasta) serta dokter praktek swasta.
 
Dilanjutkan ke: STRATEGI MELAWAN TB DENGAN DOTS (7): KESIMPULAN
 
TULISAN INI ADALAH EPISODE KE 6 DARI 7 TULISAN
 

 
Rujukan bacaan

No comments:


Most Recent Post