Friday, November 16, 2012

TEMPAT BERKEMBANG-BIAK NYAMUK MALARIA


 
Tempat perindukan nyamuk umumnya disebut Breeding place” atau “breeding site”. Pada prinsipnya Nyamuk Anopheles akan meletakkan telur-telurnya di di genangan air bersih dan tidak kena polusi, hanya selera lokasi berkembang-biak masing-masing spesies tidak sama. Misalnya  larva Anopheles dapat kita temukan di air tawar maupun rawa-rawa berair payau, rawa mangrove (bakau), sawah, selokan yang tertutup rumput, di tepian sungai, demikian pula genangan air (sementara) akibat hujan.  Kebanyakan spesies lebih menyukai habitat yang ada tumbuh-tumbuhannya, walau ada juga yang tidak. Ada yang memilih genangan air terbuka dengan sinar matahari penuh, sementara yang lain memilih  tempat-tempat terlindung di hutan-hutan. Ada juga  beberapa spesies yang larvanya kita dapatkan di lubang-lubang pohon dan ketiak daun (CDC Atlanta)
 
Bila kita membaca Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan, Kemenkes RI, Triwulan 1, 2011, maka tempat berkembang biak vektor malaria dapat dibagi dalam tiga kelompok yaitu: Persawahan, perbukitan/hutan dan pantai/aliran sungai
 
1. Persawahan: An. aconitus, An. Annullaris, An. barbirostris, An. kochi, An karwari, An.nigerrimus, An.sinensis, An.tesellatus, An.Vagus, An. letifer.
 
2. Perbukitan/hutan: An.balabacensis, An.bancrofti, An.punculatus, An.Umbrosus.
 
3. Pantai/aliran Sungai: An.flavirostris, An.Koliensis, An.ludlowi, An.minimus, An.punctulatus, An.parangensis, An.sundaicus, An.subpictus.
 
 
PEMBAGIAN TUGAS YANG RAPI
 
Sepertinya kerajaan nyamuk dari genus Anopheles ini sudah memiliki sistem pemerintahan yang tertata. Untuk tempat tinggal sudah ditentukan siapa tinggal dimana. Bahkan jam kerja pun sudah diatur (baca: Kapan dan dimana Anopheles menyergap).
 
Kita sudah tahu sejak lulus SD bahwa Malaria ditularkan oleh Nyamuk Malaria (Anopheles) yang berkembang-biak di “rawa-rawa”. Ini yang membuat kita lengah. Rawa konotasinya air payau di pantai. Kalau kita tinggal jauh di darat, atau di pegunungan bukan berarti bebas ancaman anopheles. Disana ada spesies anopheles lain yang menanti.
 
Sebagai contoh, bila kita bicara tentang Anopheles sundaicus, maka spesies ini ditemukan pada air payau. Untuk air payau yang kadar garamnya tinggi diserahkan kepada Anopheles subpictus subpictus). Pada tempat yang lebih tinggi, misalnya di kaki gunung (400-1000m) telah menanti Anopheles aconitus dan lebih tinggi lagi (sampai 1600 m) pada genangan air jernih yang kaya sinar matahari, terdapat Anopheles maculatus menunggu kita disana.
 
Barangkali karena areal pesawahan cukup luas, maka kalau dihuni satu spesies saja, pasukan Anopheles ini kurang kuat. Setidaknya tiga spesies mengawal disana: Di pesawahan bertingkat terdapat Anopheles aconitus. Pada sawah yang siap ditanami ada Anopheles kochi, dan satu lagi Anopheles sawah adalah Anopheles barbirostris.
 
Anopheles tidak akan membiarkan habitat manusia aman. Bila memungkinkan semua tempat yang bisa digenangi air, baik permanen atau temporer akan dia coba menguasainya. Anopheles kochi ditugasi mengisi bekas injakan kerbau, Anopheles balabacensis ke cekungan bekas dilewati truk, Anopheles barbirostris juga dikirim ke air tergenang yang alirannya pelan, kemudian pada parit, kolam yang penuh rumput akan ditugasikan Anopheles subpictus malayensis.
 
Jangan lupa pula bahwa Anopheles menunggu manusia berbuat kesalahan. Ia akan melihat peluang pada tambak bandeng atau udang yang “neglected” atau “abandoned”. Demikian pula bekas galian-galian tambang kalau dibiarkan cekung, terbuka dan dibiarkan saja merupakan lahan subur yang tinggal pakai saja. Ironisnya, semua ini yang menyediakan manusia. Raja Anopheles akan mengatakan: “Dari manusia, oleh manusia, untuk nyamuk”
 
 
BEBERAPA CONTOH GAMBAR TEMPAT PERINDUKAN
 
 
 
 
 
PENUTUP
 
Manusia harus waspada. Kata kunci tempat berkembang biak nyamuk hanya dua: “Air tergenang” dan “air tidak terpolusi”. Kata kunci pengendaliannya ada empat: jangan biarkan air tergenang (keringkan atau alirkan), tebarkan predator ke air (untuk genangan besar yang permanen), beri "polusi" ke air (misalnya larvacida dengan catatan jangan sampai membahayakan manusia) dan bunuh nyamuk dewasa (dengan residual spraying dengan catatan juga jangan sampai membahayakan manusia)
 
Rujukan bacaan:
Epidemiologi Malaria di Indonesia, Buletin  Jendela Data dan Informasi Kesehatan, Triwulan I, 2011, Kemenkes RI



No comments: