Tuesday, April 9, 2013

PENGGUNAAN STRATEGIS ARV: PENCEGAHAN SEKALIGUS PENGOBATAN (1)

Bila kita merujuk kembali ke peringatan Hari AIDS Sedunia tahun 2011, saat itu kita dibuat kagum dengan tiga pesan utama yang “berani” yaitu GETTING TO ZERO: Zero New HIV Infection, Zero Discrimination dan Zero AIDS Related Death.
 
Ketiga hal tersebut saling terkait. Bila kita mampu meyakinkan masyarakat bahwa penularan HIV bisa dicegah bahkan sampai “NOL” maka “DISKRIMINASI pun akan berkurang sampai ke titik NOL.

Bila diskriminasi dan penularan bisa mencapai NOL maka sudah pasti bahwa kematian yang ada kaitan dengan AIDS akan mudah menjadi NOL pula.
 

GETTING TO ZERO: KOMITMEN KITA SEMUA
 
“Getting to Zero sudah menjadi komitmen global sejak 2011. Komitmen di tingkat Kepala Negara ASEAN dinyatakan dalam the 19th ASEAN Summit in Bali, dan dirilis oleh UNAIDS dalam feature story berjudul ASEAN Leaders commit to “getting to Zero” tanggal 23 Nopember 2011: The Heads of State and government from the ten countries that make up the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) have committed to making Zero New HIV Infections, Zero Discrimination and Zero HIV Related Deaths a reality, in a declaration adopted at the 19th ASEAN Summit in Bali, Indonesia (17-19 November 2011).
 
Dalam penutupan ASEAN Summit tersebut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan: "We underline the importance of effective and comprehensive response to prevent and reduce the number of new infections and provide appropriate treatment, care and support to key affected populations and other vulnerable groups," said President of Indonesia and Chair of the 19th ASEAN Summit, Susilo Bambang Yudhoyono, in his Chair’s Statement at the close of the Summit. Demikian dikutip oleh UNAIDS.
 
Bila sudah ada komitmen tingkat tinggi, maka apa lagi yang kita tunggu? Kita harus segera menyempurnakan langkah yang sudah ada guna mencapai “tiga zero” tersebut.
 
 
MENINGKATKAN UPAYA
 
Bila kita memang ingin mewujudkan “Getting to Zero” atau NOL untuk infeksi baru, diskriminasi dan kematian maka upaya pencegahan dan pengobatan HIV di negara kita perlu ditingkatkan. Dalam kajian tentang respons sektor kesehatan terhadap HIV (2011), Indonesia memang telah menunjukkan kemajuan berarti dalam memperluas akses guna mendapatkan terapi dengan antiretroviral.
 
Walau demikian kita tidak boleh berpuas diri sampai disini. Kajian tersebut di atas juga memberi peringatan bahwa masih ada beberapa hal yang perlu diantisipasi, yaitu: Kemajuan yang tidak seimbang antar upaya pengendalian, sehingga perlu upaya keras dalam “bridging the gap” guna mengatasi kesenjangan tersebut.


KESIMPULAN

Kesenjangan yang paling menonjol adalah antara pengobatan dan pencegahan. Dalam kaitan dengan pengobatan maka kepatuhan dan retensi harus kita pastikan dapat terlaksana. Universal coverage dalam pengobatan harus bisa dicapai dan sustain: Tidak ada putus obat maupun “stock out”.

Kejutan tahun 2011 adalah hasil penelitian yang menyatakan bahwa :Treatment is prevention”. Dengan kata lain kita akan semakin berurusan dengan obat, yaitu ARV. Oleh sebab itu kita harus memiliki pemahaman bagaimana ARV bekerja.

Posting ini adalah episode pertama dari empat tulisan

 
Dilanjutkan ke PENGGUNAAN STRATEGIS ARV: PENCEGAHAN SEKALIGUS PENGOBATAN (2)


RUJUKAN BACAAN

http://www.unaids.org/en/resources/presscentre/featurestories/2011/november/20111123asean/
http://www.un.org/en/events/aidsday/2011/
http://www.unaids.org/en/media/unaids/contentassets/documents/unaidspublication/2010/JC2034_UNAIDS_Strategy_en.pdf
Personal Communication: Yoana Anandita, Technical assistant HIV/AIDS for Partnership, Communication and Community Organization, WHO, Project Office Directorate general DC and EH, MoH RI.

No comments:


Most Recent Post