Showing posts with label Prevensi. Show all posts
Showing posts with label Prevensi. Show all posts

Thursday, September 19, 2013

TUBERKULOSIS RESISTEN (KEBAL) OBAT: APAKAH DAPAT DICEGAH, DIOBATI DAN DISEMBUHKAN

Perjuangan manusia melawan TB sudah amat lama. Sebutan Tuberkulosis dari masa ke masa yang berbeda-beda, menunjukkan respons manusia dalam mengatasi TB. Bahkan Tuberkulosis pernah dijuluki “The captain of all these men of death” Tuberkulosis masih tetap mengganggu umat manusia sampai sekarang.  Dapat dibaca di Tuberkulosis: Penyakit Purba di Era Global (1) dan lanjutannya.
 
Penemuan Mycobacterium tuberculosis oleh Robert Koch pada tahun 1882 tidak segera disusul dengan penemuan obatnya. Antibiotik pertama untuk TB (Streptomycin) baru ditemukan pada tahun 1944. Obat lini pertama TB yang digunakan dalam DOTS usianya juga sudah cukup tua. Sebenarnya dapat diterima akal kalau terjadi resistensi kemudian timbul  Multi-Drug Resistent TB (MDR-TB) dan Extensively Drug resistant TB (XDR-TB). Penelitian untuk obat baru TB termasuk vaksin TB sampai sekarang terus dilakukan.
 
Tiga pertanyaan abadi umat manusia terhadap penyakit adalah: Apakah dapat dicegah, apakah dapat diobati, dan kalau diobati apakah bisa sembuh?
 
 
APAKAH MDR/XDR-TB DAPAT DICEGAH?
 
Sepanjang kita tahu cara penularan dan faktor risikonya, semua penyakit dapat dicegah, termasuk TB Kebal Obat yang dapat dibaca pada tulisan terdahulu,  TUBERKULOSIS RESISTEN (KEBAL) OBAT: BAGAIMANA PENULARANNYA DAN SIAPA YANG BERISIKO TERTULAR.
 
Pencegahan adalah tindakan paling bijaksana yang dapat kita lakukan.
 
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah fondasi pencegahan penyakit. Misalnya olahraga, makanan bergizi, tidak merokok, rumah sehat yang cukup ventilasi dan pencahayaan, dll akan meningkatkan daya tahan tubuh kita. Demikian pula perilaku tidak etis seperti meludah sebarang tempat dan batuk tanpa menutupi mulut harus dihindari.
 
Seorang penderita TB harus patuh mengikuti petunjuk petugas kesehatan: Minum obat teratur dan jangan berhenti sebelum waktunya. Jangan sampai putus obat. Kalau akan bepergian agak lama pastikan kita punya bekal obat yang cukup selama perjalanan.
 
Hindari kontak dekat (bukan diskriminasi) dalam jangka waktu lama dengan penderita MDR/XDR-TB, baik di keramaian maupun di tempat tertutup (misal: Rumah sakit dan Lembaga Pemasyarakatan termasuk Rumah Tahanan). Tindakan Dalin (Pengendalian Infeksi, Infection Control) harus dilaksanakan di tempat-tempat tersebut. Penggunaan masker oleh penderita dan petugas yang melayani perlu dilakukan).
 
Peran petugas kesehatan dalam hal ini amat besar. Diagnosa harus cepat ditegakkan. Dengan demikian penderita akan lebih cepat minum obat, peluang sembuh lebih besar dan peluang menularkan ke orang lain akan lebih kecil. Petugas Kesehatan juga harus mematuhi prosedur pengobatan, memastikan penderita minum obat dengan benar dan melakukan pengawasan pengobatan secara langsung. Hal ini akan lebih menjamin kesembuhan penderita dan mengurangi risiko terjadinya TB Resisten Obat (MDR-TB: Multiple Drug Resistent TB; XDR-TB: Extensively Drug Resistent TB)
 
 
APAKAH ADA VAKSIN UNTUK MENCEGAH MDR/XDR-TB?
 
Kita mengenal vaksin BCG (Bacille Calmette-Guérin) untuk mencegah TB. Di banyak negara berkembang vaksin ini digunakan secara nasional dalam program imunisasi sebagai salah satu dari imunisasi dasar untuk anak-anak. BCG efektif untuk mencegah terjadinya TB berat pada anak, tetapi efektifitasnya untuk mencegah terjadinya TB (termasuk MDR/XDR-TB) masih diperdebatkan. Penelitian untuk vaksin baru masih terus dilakukan.
 
 
APAKAH MDR/XDR-TB DAPAT DIOBATI DAN DISEMBUHKAN?
 
MDR-TB ada obatnya (dibahas di tulisan lain) dan dapat pula  disembuhkan, demikian pula XDR-TB. Tetapi tidak cukup dengan strategi DOTS, harus DOTS-Plus yang berarti harus menggunakan obat lain yang tidak hanya jauh lebih mahal (kurang-lebih 100 kali lipat untuk MDR-TB, sedangkan untuk XDR-TB 2 kali lipat biaya pengobatan MDR-TB). Tidak hanya lebih mahal tetapi juga lebih toksis, efek samping lebih banyak, jangka waktu pengobatan jauh lebih lama (18-24 bulan) dibandingkan dengan pengobatan TB biasa yang hanya 6 bulan dengan strategi DOTS. Angka kesembuhannya pun lebih rendah dibandingkan TB biasa (Angka keberhasilan pengobatan di atas 90%).
 
Keberhasilan pengobatan bergantung berapa banyak obat yang resisten, beratnya penyakit, kepatuhan berobat dan daya tahan tubuh. Kepatuhan perlu digarisbawahi. Walaupun biaya pengobatan sudah dijamin pemerintah, tetapi jangka waktu pengobatan yang lama (18-24 bulan) ditambah efek samping obat yang cukup banyak merupakan tantangan berat. Oleh sebab itu dukungan petugas, keluarga dan masyarakat guna memberikan motivasi mutlak diperlukan.
 
BACAAN TERKAIT
 
 
DILANJUTKAN KE TB RESISTEN OBAT (MDR/XDR-TB): SEBERAPA BESARKAH MASALAHNYA? 
 
RUJUKAN BACAAN
 
Core Curriculum on Tuberculosis: What the Clinician Should Know, CDC, 2011

Monday, July 1, 2013

PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK (9): TANTANGAN

Penularan HIV dari Ibu HIV positif kepada bayi dalam kandungannya merupakan masalah besar tetapi dapat diatasi sepanjang prosedur diikuti secara konsisten dan konsekwen.
 
Ketersediaan dan akses terhadap pelayanan masih menjadi kendala di berbagai negara. Tetapi bila ketersediaan dan akses sudah ada, mengapa peluang ini tidak dimanfaatkan?
 
Seperti telah kita ketahui, bila tidak ada upaya pencegahan samasekali maka risiko seorang Ibu HIV positif melahirkan bayi HIV positif adalah 15-45 persen.
 
Dengan intervensi yang efektif maka risiko ini dapat diturunkan sampai dibawah 5 persen. Secara global disepakati bahwa pada tahun 2015 tidak ada lagi infeksi baru melalui MTCT, yang merupakan TANTANGAN kita bersama.
 
 
 
Tulisan ini adalah lanjutan  pembahasan PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK (8): PERAN LAKI-LAKI.
 
 
TANTANGAN
 
Secara global tantangan yang kita hadapi dalam pencegahan penularan (HIV) dari ibu (HIV Positif) kepada anak yang dilahirkannya masih cukup besar. Banyak negara belum memiliki pelayanan PMTCT yang memadai.
 
Banyak pula wanita yang bertempat tinggal jauh dari klinik pelayanan PMTCT dimana  biaya transportasi tidak murah.
 
Demikian pula beban kerja ibu rumah tangga (misalnya merawat anak dan mengurus rumah tangga), kesemuanya dapat menghambat akses ibu ke klinik PMTCT.
 
Disisi lain walaupun tersedia pelayanan PMTCT yang berkualitas, masih ada hambatan sosial budaya yang menyebabkan wanita tidak bisa mengakses layanan PMTCT tersebut. Ketakutan terhadap STIGMA dan DISKRIMINASI khususnya pada wanita yang kehidupannya amat bergantung pada suami, akan menghambat wanita  mengikuti tes HIV dan pengobatan dengan ARV untuk kesehatannya maupun PMTCT. Ketakutan kalau dikucilkan atau disingkirkan adalah salah satu penyebab wanita tidak kembali ke klinik PMTCT. Akibatnya tentusaja wanita tersebut tidak mengetahui status HIVnya.
 
Hal-hal lain yang menghambat PMTCT adalah: Tidak ditawari testing, ketidak-taatan menjalani pengobatan ARV, kurangnya dukungan sosial, tidak mengikuti konseling, terinfeksi HIV pada saat kehamilan dan tidak tahu status HIVnya, selanjutnya setelah melahirkan apabila harus menggunakan susu formula untuk menggantikan ASI maka mahalnya harga susu formula akan memaksa ibu menyusui dengan ASI dan tidak adanya akses terhadap air bersih (apabila menggunakan susu formula) akan memperbesar risiko diare.
 
Sistem kesehatan yang lemah: Misalnya keterbatasan sumberdaya, khususnya SDM kesehatan dan pembiayaan kesehatan mengakibatkan wanita/ibu tidak bisa mendapatkan pelayanan PMTCT yang seharusnya bisa diterima dengan mudah. Sistem Kesehatan harus kuat di semua lini, dalam kaitan dengan PMTCT harus kuat di semua Prong (1 s/d 4)
 
 
 
TESTING DAN KONSELING HIV: AMAT PENTING
 
Tidak ada pelayanan HIV tanpa testing dan tidak ada testing tanpa konseling. Testing adalah gerbang pertama yang harus dilalui untuk semua pelayanan HIV AIDS:
 
1. Wanita yang tidak tahu status HIVnya tidak dapat memanfaatkan pelayanan PMTCT (Pelayanan PMTCT ada 4 prong sesuai dengan status HIV dan kehamilan)
 
2. Wanita yang hasil test negatif pada awal kehamilan masih bisa terinfeksi HIV selama kehamilan (oleh sebab itu harus tetap mengikuti program PMTCT
 
3. Tanpa konseling, wanita dengan HIV positif dengan berbagai alasan bisa tidak meminum ARV yang diberikan secara teratur dan terus-menerus
 
4. ARV adalah bagian dari PMTCT; PMTCT tidak hanya ARV; Konseling akan membantu memecahkan masalah termasuk motivasi keteraturan penggunaan ARV
 
5. Guna mencapai “success rate PMTCT” yang tinggi perlu didukung staf yang kompeten dan terlatih termasuk kemampuan “Health Education” yang di back-up dengan HIV testing dan konseling yang efektif. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi salah-pengertian tentang HIV dan AIDS, yang menimbulkan stigma dan diskriminasi.
 
 
KUNCINYA: UNIVERSAL ACCESS
 
Pengertian universal akses dapat dibaca di UNIVERSAL ACCESS (1): TANTANGANNYA TANTANGAN yang secara umum artinya adalah jangkauan menyeluruh dari seluruh aspek pelayanan kesehatan. Semua wanita (tanpa melihat status sosial ekonomi dan lokasi geografis) harus bisa mendapatkan akses universal yang bermutu dalam pelayanan PMTCTmulai pencegahan sampai dukungan, perawatan dan pengobatan (Prong 1 s/d 4) guna kesehatannya sendiri, maupun anaknya, mulai persalinan sampai tumbuh dan berkembang. Berarti hal-hal yang menghambat PMTCT harus diatasi: Sosial, budaya dan tehnik pelayanannya.

Monday, June 3, 2013

PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK (8): PERAN SUAMI

Melanjutkan PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK (7): “PRONG 4” DARI PMTCT, pada pembahasan ini dapat kita simpulkan bahwa Klien utama dari PMTCT mulai dari prong 1 sampai dengan 4 adalah “wanita”. Tetapi kita samasekali tidak boleh berhenti disini dengan mengatakan: PMTCT adalah urusan perempuan. Disini kita berhadapan dengan perempuan dalam usia reproduktif dan terkait dengan kehamilan. Wanita hamil akan melahirkan anak dan wanita bisa hamil karena ada peran laki-laki.
 
Ada berbagai kemungkinan dalam hal ini. Wanita tersebut HIV negatif sedang suaminya HIV positif. Atau sebaliknya, yang wanita HIV positif sedang suaminya HIV negatif. Kemungkinan lain adalah keduanya tidak tahu status HIV mereka, tetapi mereka termasuk kelompok yang berisiko tertular HIV (dapat dibaca di HIV: Dimana berada dan bagaimana cara penularannya). Bagaimanapun mengetahui status HIV lebih baik daripada tidak mengetahui.
 
 
PERAN SUAMI
 
Peran laki-laki (suami) amat besar dalam mencegah HIV AIDS (Dapat dibaca di Mencegah HIV AIDS: Peran Laki-laki sangat besar). Khusus dalam Pencegahan Penularan (HIV) dari Ibu ke Anak, maka peran laki-laki ada di semua prong (Prong 1 sampai 4).
 
Oleh sebab itu intervensi PMTCT (Prevention of Mother to Child Transmission) harus berlandasan pada prinsip: Bahwa baik ibu maupun bapak, keduanya berperan dalam transmisi HIV ke bayi.
 
Masalahnya: Yang melahirkan adalah ibu, sehingga ibu sering menjadi kambing hitam. Di tempat dimana masih ada ketidak setaraan gender, hal ini dapat berakibat terjadinya stigma dan diskriminasi kepada ibu HIV positif (Dapat dibaca di Stigma dan Diskriminasi (1): Tantangan pengendalian HIV/AIDS).
 
Melibatkan keduanya: Laki-laki dan perempuan adalah vital untuk suksesnya PMTCT. Apalagi bila melihat Data kemenkes RI mengenai faktor risiko penularan HIV yang terbesar adalah melalui hubungan seks heteroseksual (antara laki-laki dan perempuan), yaitu sebesar 58,7%, (lihat gambar di atas) dapat disimpulkan bahwa laki-laki dan perempuan harus berperan sejak Prong ke 1 supaya wanita tidak terinfeksi HIV.
 
Mengenai hal ini dapat dirujuk kembali ke tulisan:
 
 
 
 
KESIMPULAN
 
Baik laki-laki maupun perempuan harus:

1.    Berpartisipasi secara sejajar dalam mengambil keputusan cara mencegah transmisi HIV antara keduanya
2.    Berperan secara sejajar dalam pemilihan metode keluarga berencana bila harus ber KB.
3.    Mengikuti Konseling dan testing HIV secara bersama-sama
4.    Bertanggungjawab untuk perilaku seksual yang aman selama isteri dan menyusui
5.    Memperoleh informasi tentang pelayanan PMTCT selengkapnya
6.    Bertanggungjawab dalam pemilihan makanan bayi yang aman
7.    Dukungan dari pasangan amat besar nilainya dalam “care, support dan treatment” yang terkait dengan HIV dan AIDS.

Upaya PMTCT secara umum bertujuan MENCEGAH tingkat epidemi HIV AIDS yang saat ini posisi Indonesia adalah CONCENTRATED pada sub-populasi berisiko tinggi, menjadi GENERALIZED (dapat dibaca di Tingkatan Epidemi HIV AIDS).
 
Bila  tingkat epidemi sudah “generalized” maka jejaring penularan melalui hubungan seksual di kalangan populasi umum sudah cukup untuk mempertahankan penularan yang “independen” dari sub-populasi berisiko tinggi. Dalam hal ini Indikator proksi yang digunakan adalah ibu hamil. Dalam epidemi yang “generalized” ini prevalensi HIV di kalangan ibu hamil secara konsisten di atas 1%. Oleh sebab itu peran PMTCT amat penting dimana beban terberat ada pada Prong 1 dan 2 dan peran laki-laki amat besar.
 
Dilanjutkan ke PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK (9): TANTANGAN
 
 
RUJUKAN BACAAN
 
Prevention of Mother-to-Child Transmission of HIV Generic Training Package,  WHO/CDC

Saturday, June 1, 2013

PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK (7): “PRONG 4” DARI PMTCT

Melanjutkan PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK (6): “PRONG 3” DARI PMTCT, dimaka kita bertemu dengan wanita HIV Positif yang hamil, dan kita ingin ibu tetap sehat (walau HIV positif) dan anak bisa lahir dengan HIV negatif, maka pada Prong 4  ini klien kita adalah Wanita HIV positif, anaknya dan keluarganya.
 
HIV positif adalah sesuatu yang jangka panjang sehingga pelayanannya pun jangka panjang. Prong 4 menunjukkan “keparipurnaan” pelayanan PMTCT (Prevention from Mother to Child Transmission) dimana masih dibutuhkan Care, Support dan Treatment untuk masa depan ibu, anak, dan keluarga.
 
Anak yang dilahirkan dari ibu HIV positif membutuhkan follow-up yang reguler, terutama pada dua tahun pertama kehidupan, misalnya Testing HIV, monitoring gizi dan tumbuh kembang termasuk imunisasi.
 
Disinilah prong 4 bermain: Tanpa keberadaan prong 4 maka PMTCT bukanlah PMTCT.
 
 
Prong 4: Better integration of HIV care, treatment and support for women found to be positive and their families.
 
 
PERLU JEJARING PELAYANAN YANG KUAT
 
Pelayanan kesehatan dan dukungan sosial amat penting bagi wanita dengan HIV positif, anak dan suaminya. Prong 1 sampai dengan 4 adalah suatu kontinuum, suatu pelayanan yang berkelanjutan. Pelayanan tidak berhenti sampai wanita selamat melahirkan pada Prong 3. Masih banyak yang harus dilakukan dan hal ini merupakan peran pelayanan pada Prong 4, misalnya:

·         Perawatan dan pengobatan dengan ARV jangka panjang untuk ibu, anak dan suami yang HIV positif
·         Pelayanan terhadap gejala-gejala penyakit yang dialami.
·         Pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit-penyakit yang terkait dengan HIV (Infeksi oportunistik)
·        Pelayanan kesehatan reproduksi: Konseling Keluarga Berencana (KB) dan pelayanan KB.
·         Dukungan gizi
·         Dukungan psikososial
·         Pengobatan paliatif bila diperlukan

 
ANAK YANG DILAHIRKAN IBU DENGAN HIV

Anak-anak yang dlahirkan ibu dengan HIV lebih membutuhkan perhatian dibandingkan anak-anak yang lain. Anak yang ibunya terinfeksi HIV lebih berisiko menderita penyakit dan gangguan gizi karena beberapa alasan:

·         Kemungkinan anak tersebut juga HIV positif dan menjadi sakit walau pelayanan kesehatan dan gizi sudah tersedia
·         Anak yang mendapatkan makanan pengganti ASI (Karena tidak disusui ibunya dengan berbagai alasan kesehatan) lebih berisiko sakit dan kekurangan gizi.
·         Bila ibunya sakit, maka tidak bisa melakukan pemeliharaan kepada anaknya dengan baik.

 Mereka perlu follow-up secara reguler terutama pada dua tahun pertama dari hidupnya, misalnya: Imunisasi, Pencegahan terhadap penumocystic pneumonia dan penyakit lainnya, Testing HIV dan monitoring reguler terhadap makanan, gizi serta proses tumbuh-kembangnya.
 
 
PENUTUP
 
Bila seorang wanita dapat diyakinkan bahwa ia akan memperoleh pelayan perawatan dan pengobatan terbaik untuk dirinya, anaknya dan keluarganya, ia akan mau melakukan konseling dan tes HIV.
 
Bila ternyata wanita  (ibu) tersebut HIV positif maka ia akan bersedia menerima pelayanan Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak atau PMTCT (Prevention of Mother to Child Transmission).
 
 
RUJUKAN BACAAN
 
Prevention of Mother-to-Child Transmission of HIV Generic Training Package,  WHO/CDC

Thursday, May 23, 2013

PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK (6): “PRONG 3” DARI PMTCT

Melanjutkan PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK (5): “PRONG 2” DARI PMTCT (BAGIAN KEDUA), dimaka kita bertemu dengan wanita HIV Positif yang belum ingin hamil maupun yang ingin hamil, maka pada Prong 3  ini klien kita adalah wanita HIV positif yang hamil.
 
Alangkah baiknya kalau yang kita temui adalah Wanita hamil yang sudah menempuh perjalanan dari Prong 1 dan telah tahu status HIVnya melalui Tes HIV. Kemudian ia masuk ke Prong 2: Disini ia menyiapkan kondisi fisiknya. Bila belum siap ikut KB dulu, bila sudah siap (misalnya Jumlah Sel CD4 tinggi dan Viral Load rendah serta mendapatkan pengobatan dengan ARV ), ia hamil dan selanjutnya mendapatkan pelayanan di Prong 3.
 
Masalahnya menjadi beda kalau Universal Access (untuk testing HIV dan pengobatan ARV bagi yang membutuhkan) belum tercapai. Bisa saja terjadi status HIV baru diketahui setelah hamil, atau setelah melahirkan. Akan terjadi saling kejar antara upaya upaya pencegahan dan transmisi HIV dari Ibu ke janin dalam kandungan.
 
 
 
PRONG 3
 
Prong 3: For pregnant women living with HIV, ensure HIV testing and access to the antiretroviral drugs that will help mothers’ own health and prevent infection being passed on to their babies during pregnancy, delivery and breastfeeding.
 
Kata kunci program PMTCT dalam Prong 3 adalah:
  • Mengidentifikasi wanita hamil dengan HIV melalui testing HIV
  • Menyediakan intervensi spesifik komprehensif yang efektif untuk mencegah transmisi HIV dari Ibu HIV positif ke anak: Akses ARV guna kesehatan ibu dan pencegahan penularan selama kehamilan, persalinan dan menyusui
  • Peran laki-laki (suami amat besar)
 
INTERVENSI SPESIFIK PMTCT DALAM PRONG 3
 
Intervensi spesifik dalam PMTCT (Prevention from Mother to Child Transmission) pada prinsipnya sebagai berikut:
 
 
1. TESTING DAN KONSELING HIV
 
Bila wanita hamil datang dari sistem pelayanan PMTCT (dari Prong 2) kita sudah tahu situasinya.
 
Tetapi bila wanita hamil tersebut  datang tanpa tahu status HIVnya, maka ada dua opsi yang dapat dilakukan.
 
Pertama: Bila tingkat epidemi HIV sudah generalized, seyogyanya semua wanita hamil ditawart tes HIV
 
Kedua: Bila tingkat epidemi HIV masih concentrated, bisa ditawarkan testing bila dalam wawancara, mengarah ke perilaku berisiko baik dari yang bersangkutan maupun suaminya.  Testing bisa diinisiasi klien, bisa oleh petugas. Klien diberi penjelasan kemudian minta testing, atau petugas memberi penjelasan kemudian menawarkan testing
 
Mengenai tingkat epidemi dapat dibaca di TINGKATAN EPIDEMI HIV AIDS
 
Hanya dengan testing status HIV bisa diketahui. Hanya dengan mengetahui status HIV rencana kedepan dapat disiapkan lebih dini sekaligus lebih naik.
 
 
2. PENGOBATAN DENGAN ARV UNTUK IBU DAN BAYI.
 
Wanita hamil dengan HIV harus mendapatkan akses dengan ARV. ARV sebenarnya dapat diberikan kapan saja: Bisa pada CD4 di atas 350, Bisa saat CD4 350 atau lebih rendah. Jumlah sel CD4 perlu dimonitor secara berkala.
 
ARV diberikan untuk kepentingan ibu dan bayi yang akan dilahirkan. Bila ibu tidak sempat mendapatkan ARV karena berbagai hal, misalnya status HIV ibu baru diketahui menjelang persalinan maka bayi akan mendapatkan ARV profilaksis (untuk pencegahan).
 
Pada prinsipnya: Indikator keberhasilan pemberian ARV untuk ibu adalah “turunnya Viral Load”
 
 
3. PELAYANAN ANTENATAL DAN PERTOLONGAN PERSALINAN YANG AMAN DAN BERMUTU
 
Penularan HIV bisa terjadi selama persalinan. Oleh sebab itu pertolongan persalinan harus aman untuk ibu, aman untuk bayi sekaligus aman untuk petugas. Peningkatan risiko penularan dari Ibu dan tindakan-tindakan yang membawa risiko perlu diantisipasi. Mengenai risiko-risiko yang mungkin terjadi dapat dibaca pada PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK (5): FAKTOR RISIKO TERJADINYA PENULARAN.
 
Ibu yang mendapatkan pengobatan dengan ARV, jumlah sel CD4 tinggi (termasuk Viral Load rendah), tidak ada komplikasi kehamilan yang membawa risiko untuk bayi, dapat bersalin normal tanpa tindakan Sectio Caesaria. Dokter spesialis yang menangani akan menetapkan hal ini.
 
Pada intinya, tujuan pertolongan persalinan disini adalah: Mengurangi risiko bayi kontak dengan darah ibu (yang HIV positif).
 
 
4. PEMBERIAN MAKANAN BAYI YANG AMAN
 
Dengan pemberian informasi yang tepat, konseling dan dukungan, Ibu dapat menentukan sendiri apakah akan menyusui sendiri bayinya (dengan ASI) atau menggunakan Susu Formula. Dapat dibaca pada PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK (5): FAKTOR RISIKOTERJADINYA PENULARAN bahwa makin lama seorang ibu menyusui bayinya, risiko menularkan HIV (yang terdapat pada ASI) juga makin tinggi.
 
Bila kondisi memungkinkan, diberikan ASI Eksklusif (ASI saja) selama 6 bulan, kemudian baru diganti dengan susu formula.
 
Pemberian makanan bayi disini pada dasarnya: mencegah bayi tertular HIV melalui Air Susu Ibu dari Ibu HIV positif.
 
 
5. RUJUKAN KE “CARE, SUPPORT DAN TREATMENT” YANG KOMPREHENSIF
 
Pelayanan tidak berhenti sampai ibu selesai melahirkan dan membawa bayinya pulang ke rumah.  Care, Support dan Treatment yang komprehensig harus terus diberikan, tidak hanya kepada Ibu, tetapi juga bayi yang dilahirkan dan suaminya. Pada prinsipnya: Akses kepada pelayanan komprehensif yang berkesinambungan harus tetap ada. Pelayanan tidak berhenti di Prong 3.
 
 
KESIMPULAN
 
Menarik untuk dibaca tulisan Merry Wahyuningsih dalam detikHealth, berjudul: Menikah dan punya anak dengan pengidap HIV, siapa takut?
 
Dewasa ini, walau belum ada obat untuk membunuh HIV (virus penyebab AIDS) tetapi dengan mengikuti program PMTCT secara konsekwen dan konsisten, risiko penularan HIV dari Ibu (HIV positif) kepada bayi dalam kandungan sudah bisa ditekan sampai dibawah 5 %. Syaratnya: Mengerti caranya dan disiplin.
 
Dilanjutkan ke: PENCEGAHAN PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK (7): “PRONG 4” DARI PMTCT
 
RUJUKAN BACAAN
 
Prevention of Mother-to-Child Transmission of HIV Generic Training Package,  WHO/CDC
 


Most Recent Post