Wednesday, November 21, 2012

SEBUTAN TUBERKULOSIS DARI MASA KE MASA

Penyakit tuberkulosis sudah ada sejak sejarah manusia belum ditulis. Tuberkulosis sudah ada sejak lebih dari 5000 tahun yang lalu Ada yang menyebut 7000 ada juga yang 9000, pokoknya sudah lama lampau. Para ahli menemukan jejak-jejak Tuberkulosis dari galian-galian arkeologis, misalnya pada mummi dan fosil tulang, dilihat secara fisik maupun melalui  hasil ekstraksi DNA. .
 
Pada masa itu Tuberkulosis belum diketahui penyebabnya. Jadi yang paling gampang adalah mengatakan sebagai penyakit kutukan atau penyakit keturunan. Robert Koch baru berhasil menemukan Mycobacterium tuberculosis pada tahun 1882. Sebelum itu, penderita tuberkulosis masih dalam jaman kegelapan dengan kesakitan dan kematian yang amat tinggi, demikian pula pengobatannya. Belum ada bayang-bayang sama sekali bahwa Tuberkulosis dapat dicegah dan diobati.
 
 
PHTHISIS
 
Hippocrates Wikipedia
Catatan jaman Yunani kuno sekitar tahu  460 sebelum masehi mendeskripsikan kondisi seperti yang dialami penderita Tuberkulosis sebagai “phthisis”. Pengertian “phthisis” kurang-lebihnya adalah pelemahan dan pengurusan tubuh. Hippocrates menyebutkan gejala-gejalanya antara lain: Demam, batuk berdahak kental, kehilangan nafsu makan, makin kurus, makin lemah dan lama-kelamaan mati merana. Saat itu sudah ada penjelasan bahwa “phthisis” disebabkan sesuatu yang terjadi di dalam paru-paru sehingga sering disebut juga “phthisis pulmonal”.
 
Hippocrates dan banyak tokoh lain ternyata menganggap “phithis” disebabkan faktor keturunan. Walau demikian ada satu orang ternama yang pendapatnya berseberangan. Aristoteles meyakini bahwa “phthisis” bukan penyakit keturunan melainkan penyakit menular lewat sesuatu yang ada di udara.
 
 
CONSUMPTION


Consumption
Kalau kita membuka kamus Inggris – Indonesia, maka salah satu arti dari “consumption” adalah penyakit paru-paru atau TBC. Pernah seorang teman yang tidak berlatar-belakang kesehatan bertanya:
 
“Lho mas, konsumsi itu kan artinya makan. Kok malah dipakai untuk memberi nama TBC”. Lalu disambung dengan apa yang dia ketahui: “Orang TBC kan nggak punya nafsu makan?” Kemudian diputusi sendiri: “Tapi katanya, sebelum kena sakit yang tiga huruf A, B dan C itu, nafsu makan memang meningkat”.
 
Kata “consumption” kemungkinan muncul pada abad pertengahan saat Tuberkulosis masih menjadi pembunuh utama di Eropa. Pengertiannya sama dengan “phthisis”, disamping demam, keringat, batuk berdahak yang bisa bercampur darah, maka badan makin lemah, makin kurus, makin pucat, seolah-olah ada yang memakan (mengkonsumsi) dari dalam. Itulah latar belakang mengapa disebut "consumption". Pada saat itu belum diketahui bahwa Mycobacterium tuberculosis lah yang memakan pelan-pelan dari dalam dan menyebabkan "phthisis" atau "consumption"
 
 
WHITE PLAGUE


Sebutan White Plague masih tenar saat ini
Epidemi Tuberkulosis di Eropa diperkirakan terjadi pada abad ke 17 dan berlangsung kurang lebih 200 tahun. Wabah ini dikenal sebagai “The Great White Plague”. Kematian akibat Tuberkulosis tidak terhitung banyaknya. Pada pertengahan abad ke 17 Tuberkulosis menjadi penyebab kematian utama di Eropa.
 
Mengapa saat itu dijuluki “white plague” karena penderita kelihatan amat pucat. Mengapa amat pucat? Karena terjadi “consumption” alias ada yang menggerogoti dari dalam. Jadi “white plague, consumption dan phthisis” maksudnya sama saja. 

Adanya istilah “white plague” hal ini untuk membedakan dengan wabah penyakit Pes yang terjadi juga di eropa kurang-lebih 3 abad sebelumnya. Wabah Pes kala itu juga menimbulkan korban kematian besar, dikenal dengan julukan “Black death” atau “black plague”. (Catatan: Orang jawa menyebut Pageblug, penyakit yang ibaratnya "esuk lara sore mati").
 
 
TUBERKULOSIS
 
R. Morton dan JK Schonlein
Adalah Sir Richard Morton (1637-1698) seorang dokter Inggris yang pada tahun 1689 pertama kali memberi nama “tubercle” untuk lesi jaringan paru akibat penyakit yang saat itu belum disebut Tuberkulosis. Lesi jaringan berbentuk massa bulat tersebut selalu didapati pada paru-paru penderita “consumption” atau “phthisis”.
 
150 tahun kemudian, tepatnya tahun 1839, profesor Johann Lukas Schonlein (1793-1864) seorang dokter Jerman, profesor di  Universitas Berlin memberikan terminologi “Tuberculosis” untuk penyakit “consumption” atau “phithis” dengan “tubercle” di jaringan parunya. Itu baru sebutan untuk penyakitnya. Penyebab penyakitnya sendiri, baru ditemukan 43 tahun kemudian, pada tahun 1882 oleh Robert Koch. Ia tidak neko-neko dalam memberi nama, langsung saja Mycobacterium tuberculosis.
 
Sungguh sebuah perjalanan panjang untuk sebuah nama.
 
 
EPILOG.


Dari dulu sudah dilarang meludah
Disebutkan dalam Tuberculosis Fact Sheet WHO, Oktober 2012 bahwa Tuberkulosis adalah pembunuh terbesar kedua setelah HIV/AIDS.

Pada tahun 2011 dimana keberhasilan pengendalian Tuberkulosis sudah on track bahkan banyak negara berhasil mencapai sasaran MDGs, ternyata di dunia ini masih terdapat kurang lebih 8,7 juta penderita dengan 1,4 juta kematian akibat Tuberkulosis.
 
Bisa kita bayangkan, pada masa sekarang dimana Tuberkulosis sudah bisa disembuhkan dalam tempo minimal 6 bulan, sisa penderitanya masih segitu banyak. Jaman dulu, betapa mengerikannya. Tidak heran bila John Bunyan (1680) menyebut “Consumption” sebagai “THE CAPTAIN OF ALL THESE MEN OF DEATH” (IwMM)

RUJUKAN BACAAN

http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs104/en/
http://www.britannica.com/EBchecked/topic/528094/Johann-Lukas-Schonlein
http://en.wikipedia.org/wiki/Richard_Morton_(physician)
http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_tuberculosis
http://www.news-medical.net/health/History-of-Tuberculosis.aspx 

No comments:


Most Recent Post