Kata
“stigma” konon berasal dari Yunani jaman
dulu, untuk menyebut bekas luka akibat kulit ditempel besi panas yang
dilakukan pada budak, penjahat atau orang-orang yang dianggap kriminal lainnya,
sehingga mudah diidentifikasi sebagai orang yang hina atau harus dijauhi.
Stigma juga bisa diartikan sebagai “label”
untuk orang-orang yang tidak dikehendaki.
Dalam
pengertian yang sederhana, stigma adalah
sikap atau attitude negatif yang terkait dengan keyakinan atau pengetahuan
seseorang. Sedangkan diskriminasi adalah
perilaku atau action yang dilakukan. Dengan demikian asal-usul terjadinya
“stigma” dan “diskriminasi” adalah dari pandangan negatif terhadap orang atau
kelompok tertentu yang dianggap mempunyai sesuatu yang tidak baik.
Upaya
menghilangkannya tentu dengan menghapus pandangan negatif tersebut melalui
peningkatan pengetahuan masyarakat. Inilah tantangan besar kita dalam upaya “stop stigma and discrimination”. Khususnya
dalam pengendalian HIV/AIDS
STIGMA
DAN DISKRIMINASI: BANYAK DIKAITKAN DENGAN HIV/AIDS
Stigmatisasi
dan diskriminasi sebenarnya tidak hanya dialami ODHA. Sebelum ada HIV/AIDS,
para penyandang kusta maupun orang-orang yang pernah menyandang kusta merasakan
pengalaman tidak menyenangkan dengan adanya stigma dan diskriminasi ini. Dengan
ditemukannya obat MDT yang bisa menyembuhkan kusta tanpa cacat asal penyakitnya
ditemukan dini dan berobat teratur selama minimal 6 bulan, pandangan dan sikap
negatif ini mulai hilang.
Hippocrates
konon melarang murid-muridnya mengunjungi penderita “Phthisis” (sebutan TB Paru
pada waktu itu) karena akan menurunkan kredibilitas tabib, sebab tidak mampu
menyembuhkan. Berarti ada perlakuan beda untuk penderita TB.
Dibandingkan
TB Paru dan Kusta, yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu, AIDS adalah sesuatu
yang amat baru. Indonesia baru mengenal AIDS pada tahun 1987. Adalah wajar
kalau kemudian ada pandangan dan kepercayaan-kepercayaan yang salah mengenai
HIV/AIDS ini. Apalagi pada awal-awal masuknya HIV/AIDS, label tentang Tidak ada
obat, kematian, seks, obat bius dan moral melekat amat erat dengan HIV/AIDS.
Masalahnya sekarang
ini adalah abad ke 21, abad kemajuan. Kalau ada stigma dan diskriminasi, mestinya ya pada awal-awal
dikenalnya penyakit. Sekarang sudah waktunya menuju ke “Zero discrimination”.
Beberapa
hal yang mendukung timbulnya stigma antara lain: HIV/AIDS dikaitkan dengan
ketiadaan obat dan kematian; Dikaitkan dengan perilaku seksual yang justru sudah merupakan
stigma tersendiri di beberapa kelompok masyarakat;
pandangan moral dan ketidak tahuan serta informasi yang salah tentang HIV/AIDS
STIGMA
DAN DISKRIMINASI: BARRIER UTAMA PENGENDALIAN HIV/AIDS
![]() |
Sekjen PBB: Ban Ki-moon |
“AIDS
related stigma” akan diikuti dengan diskriminasi, misalnya perlakuan negatif
dan pembatasan-pembatasan kesempatan yang bisa mempengaruhi seluruh aspek
kehidupan ODHA: Mulai dari pergaulan sosial, kesempatan memperoleh pendidikan
dan pekerjaan, pelayanan kesehatan, bepergian, dan lain-lain. Hal ini justru
menghambat upaya pengendalian HIV/AIDS, membuat AIDS tetap menjadi “the silent killer” seperti dikatakan
Sekjen PBB, Ban Ki-moon pada International AIDS Conference di Mexico City, 6
Agustus 2008 yang dikutip The Washington Times:
Stigma remains the single most important barrier to public action. It is
the main reason too many people are afraid to see a doctor to determine whether
they have the disease, or to seek treatment if so. It helps make AIDS the
silent killer, because people fear the social disgrace of speaking about it, or
taking easily available precautions. Stigma is a chief reason the AIDS epidemic
continues to devastate societies around the world.
KESIMPULAN
Ketidak-tahuan
bisa diakibatkan karena orang memang tidak tahu atau memperoleh informasi yang
salah. Hal ini akan menimbulkan sikap atau attitude negatif yaitu “stigma” yang
memberi label atau cap kepada ODHA dengan predikat-predikat yang tidak baik. Akibat
dari sikap tersebut tumbuhlah perilaku diskriminatif, dimana yang paling menonjol
adalah: perbedaan perlakuan, penolakan dan pembatasan.
Satu-satunya yang
diuntungkan dengan adanya Stigma dan diskriminasi hanyalah virus AIDS, karena banyak orang takut mengetahui status
HIVnya, dan yang sudah tahu kalau dirinya HIV positif akan kesulitan mengakses pelayanan. Penularan
dan kematian yang terkait dengan AIDS akan jalan terus. Inilah tantangan sekaligus
ancaman stigma dan diskriminasi harus dijawab.
No comments:
Post a Comment