Showing posts with label Kelambu. Show all posts
Showing posts with label Kelambu. Show all posts

Wednesday, February 6, 2013

DONGENG TENTANG NYAMUK (2): SINGA DAN NYAMUK


Dari Fabel Aesop yang mengisahkan serigala dan nyamuk pada abad ke 7 sebelum masehi,  kita beralih ke Brothers Grimm, story teller Jerman pada abad ke 18 yang kesohor dengan kisah Cinderella-nya. Salah satu dongengnya adalah tentang singa dan nyamuk, yang intinya adalah nyamuk itu pengganggu yang tidak pilih-pilih tapi ada kelemahannya. Alur ceriteranya juga tidak bertele-tele dan mudah dipahami.
 
SINGA DAN NYAMUK
Seekor nyamuk mendenging di telinga singa. Percuma upaya singa untuk menangkap maupun mengusir. Samasekali tidak berhasil bahkan satu kali saking pegalnya yang terpukul adalah telinga sendiri. Dengingnya jadi dua kali. Denging nyamuk dan denging telinga kena pukul.
Dengan sombong nyamuk sesumbar: “Hai singa, kamu boleh sebut dirimu raja hutan, tapi bukan raja udara”. Kembali ia mengitari singa yang pada akhirnya hanya mampu mengaum tanpa bisa apa-apa. Seisi hutan takut tetapi nyamuk ketawa-ketawa sambil terus sesumbar: “Singa si raja hutan bertekuk lutut di hadapan nyamuk kecil”.
Si nyamuk pun terbang lagi dengan maksud menggoda singa. Dia tidak tahu di dekatnya ada sarang laba-laba. Demikianlah nasib si nyamuk,  terperangkap dalam jaring laba-laba dan menjadi mangsa laba-laba.
Di bawah adalah tayangan youtube tentang kisah singa dan nyamuk.
 
PELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK
Nyamuk menggigit tidak pilih-pilih karena ia yakin kelincahannya. Raja hutan pun dia buat tidak berkutik. Manusia hendaknya hati-hati.
Tidak ada manusia kebal malaria dan segampang itu menangkap nyamuk. Tetapi ada cara lain untuk menangkap nyamuk ketimbang sibuk tepuk sana-sini yang tidak efektif.
Ada jaring laba-laba, yang bisa kita samakan dengan kelambu. Bahkan nyamuk mati disitu karena ada pembunuhnya. Hal ini mengingatkan kita kepada kelambu berinsektisida atau LLINs.

Sunday, December 16, 2012

KELAMBU DIPAKAI UNTUK MENJARING IKAN



Kelambu LLINs dibuat dari bahan sintetis yang kuat dan di “impregnasi” dengan insektisida, bukan sekedar dicelup. WHO memberikan spesifikasi teknis, efektif dipakai selama lima tahun atau dicuci sampai 20 kali. Jadi kalau tiga bulan sekali dicuci, klop untuk penggunaan lima tahun.
Harga per unit tidak mahal, dalam kisaran $ 5. Jadi kalau satu US Dollar setahunnya dengan jaminan proteksi aman dari malaria, bahkan dalam jangka panjang akan menurunkan populasi nyamuk secara bermakna, tentunya (meminjam istilah jaman agak dulu) “kelambunisasi” adalah langkah yang amat strategis.
“Apalagi kelambunya dikasih cuma-cuma, alias gratis”, demikian teman saya menimpali. Saya cuma senyum-senyum kecut: “Kita udah nyiapin exit strategy, Dik. Dua tahun lagi pasti beli sendiri dan tetap diberikan cuma-cuma kepada rakyat”.
“Asal memakainya betul saja. Ada yang dipakai menjaring ikan lho Mas”. Hal ini tidak saya bantah. Hanya saya katakan “kasuistik” sehingga tidak perlu dijadikan bahan pergunjingan. Kalau hal itu terjadi di negara kita, sebagai sesama anak bangsa jangan saling menelanjangi lah. Tapi kita juga jangan memberi peluang si pemberi kelambu yang dari negara kaya itu men”stupid-stupid”kan kita hanya karena masalah kelambu berinsektisida. Buktinya API (Annual Parasite Incidence) Malaria untuk negara kita sudah turun sampai 1,7 per seribu penduduk.
 
MENGAPA KELAMBU BERINSEKTISIDA DIGUNAKAN UNTUK KEPERLUAN LAIN
Kalau kita browsing di internet, memang ada beberapa tulisan mengenai hal ini. Ada satu tulisan yang saya senang membacanya, oleh Bernard Okebe dari Kenya di http://trial.eyesonmalaria.org/content/fishing-mosquito-nets ia berceritera tentang Duncan Nyambege, seorang pencari ikan. Nyambege setuju bahwa malaria adalah penyakit berbahaya. Tetapi ia juga melihat peluang lain yang bisa dimanfaatkan dengan adanya LLINs (Kelambu berinsektisida) disamping ia kesulitan dalam men “set up” kelambu di tempat tidur. Sakit malaria bisa diatasi dengan pergi ke klinik tetapi perut lapar hanya bisa diobati dengan cari makan. Dalam hal ini LLINs amat membantu.
Nyambege tentunya tidak berpikir bahwa dengan kecilnya lobang kelambu, maka ikan yang masih amat muda pun akan terjaring. Dalam jangka tidak terlalu lama populasi ikan akan semakin turun. Ia juga tidak memikirkan bahaya pencemaran insektisida di lingkungan.
Beda dengan Nyambege yang bermukim di tepian danau, maka Magdalina Odongo, adalah seorang ibu yang bertempat tinggal di daerah pertanian. Ia melihat LLINs amat bermanfaat untuk melindungi bibit tanamannya dari serangga. Oleh sebab itu LLINs yang ia terima dari petugas kesehatan digunakannya untuk melindungi tanamannya yang masih kecil-kecil.
Ternyata memang betul bahwa masih ada “gap” antara “needs” masyarakat menurut pandangan kita dengan “demand” masyarakat menurut pandangan mereka.
 
PENYULUHAN HARUS DITINGKATKAN, SASARAN PENYULUHAN HARUS TEPAT

Sudah benar sekali apa yang dilakukan, bahwa untuk menjangkau sasaran ibu dan balitanya, maka distribusi dilakukan di klinik KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) atau pada pelayanan Imunisasi. Sudah benar bahwa sebelum diberi kelambu, diberikan penyuluhan tentang manfaat kelambu dan cara penggunaannya. Demikian pula benar sekali bahwa ibu-ibu amat gembira pulang bawa kelambu.
Masalah timbul ketika ibu-ibu pulang, bapak-bapak yang diminta memasang kelambu tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Kecuali ada petugas atau kader malaria yang mengikuti. Akhirnya kalau mereka kemudian meniru apa yang dilakukan Nyambega dan Odongo, ya jangan disalahkan. Kalau sampai masyarakat tidak tahu kemudian dikata-katai dengan bahasa kasar “misuse” maka sebenarnya salah ada pada petugas yang menyandang predikat “abdi masyarakat”.  
The wrong perceptions and practices about the mosquito nets among certain communities, confirm that the population needs more intensive education about the fight against malaria.
 

Saturday, December 8, 2012

MEMASANG KELAMBU: TIDAK SEMUDAH ITU



Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama,
Dirjen P2PL serahkan bantuan kelambu
di Lampung, 14.04.2012
Pernahkan Bapak dan Ibu mencoba memasang kelambu sendiri? Saya yakin belum tentu semuanya bisa. Kelambu LLINs yang cukup sederhana itu pun tidak semudah itu. Saya berani mengatakan demikian karena 20 tahun lalu ketika ditugaskan di Afrika sempat hilang akal. Bagaimana saya harus memasang kelambu berinsektisida, bekal dari Depkes (sekarang Kemenkes) di atas dipan saya yang tidak ada tiang untuk menyangga kelambunya. Alhasil dengan bantuan “tali rafia” dan “paku” kelambu berhasil dipasang. Tidak indah dipandang, yang penting aman. Itupun dengan bantuan si “Aden” staf lokal di Somalia, padahal dia sendiri tidak pernah pakai kelambu.
 
SHOW THEM HOW TO SET UP
Bila kita ditugaskan untuk mendistribusikan kelambu ke daerah endemis malaria, jangan cepat-cepat ketawa bahwa kelambu sudah berhasil dibagi habis pada hari pertama. Ngerti apa enggak ibu-ibu yang pulang dengan senyum bahagia karena dapat oleh-oleh kelambu dari petugas kesehatan, cara memasangnya. Kalau tidak ngerti, ya sama saja. Kelambu akan diletakkan dan bisa digunakan untuk kepentingan lain.
Bila kita buka kelambu dari bungkusnya, belum tentu ada petunjuk pemasangannya di dalamnya. Andaikan ada, belum tentu bisa mengartikan apa yang tertulis di petunjuk pemakaian, walaupun dalam bahasa Indonesia sekalipun. Oleh sebab itu, jangan bosan-bosannya menjelaskan sampai si penerima kelambu mengerti. Peran kader kesehatan akan amat membantu dalam hal ini.
Menjelaskan cara pemasangan saja belumlah cukup. Tidak cukup hanya “tell them what to do” tetapi harus ada peragaan untuk “show them how to do” dan satu lagi kita perlu meminta mereka mencoba memasangnya di tempat pembagian kelambu. Semacam praktek. Tidak cukup “tell” tidak pula cukup dengan “show” tetapi perlu juga “let them do it”.
Sampai di sini belum cukup. Kita perlu ikuti sampai rumah, bagaimana mereka memasang kelambu sehingga betul-betul “mosquito proof”. Sering ujung kelambu dibiarkan berjuntai. Kalau seperti ini, ada saja akal si Anopheles untuk menerobos masuk. Cara paling sederhana adalah menyelipkan ujung kelambu di bawah kasur.
Di bawah adalah rekaman video Youtube mengenai cara memasang kelambu. Peragaannya cukup jelas, sayangnya bukan di Indonesia, tetapi di Uganda. 
EPILOG
Kelambu berinsektisida khususnya LLINs manfaatnya amat besar. Dibanding harganya yang juga tidak terlalu mahal (dibawah $ 5) dan bisa dipakai sampai 5 tahun dengan pencucian 20X jelas amat cost-effective. Tentusaja harus dipasang dengan benar dan dipakai sesuai peruntukannya (IwMM)
Dilanjutkan ke Kelambu bisa dipakai untuk jaring ikan

Thursday, December 6, 2012

KELAMBU BERINSEKTISIDA (LLINs): NYAMUK DATANG NYAMUK MATI




Dari tempat perindukan nyamuk akan terbang menuju sasaran yaitu manusia. Ada jenis yang menyergap di luar rumah, ada jenis yang menyerbu ke dalam rumah.oleh sebab itu rumah harus aman dari nyamuk. Jangan ada lobang yang dapat dimasuki nyamuk yang mengendap-endap mulai sore hari.
 
Tutup pintu dan jendela, pasang kawat kasa di lobang-lobang ventilasi, jangan sampai lupa memperhatikan pintu belakang, pintu kamar mandi dan semua lobang kecil yang bisa jadi jalan masuk nyamuk. Pintu di tutup tetapi ada celah, sama saja artinya dengan tidak ditutupi
 
 
KELAMBU BERINSEKTISIDA: ITNs dan LLINs
 
Setelah semua dilakukan, maka yang paling akhir tentunya, saat tidur kita harus pakai kelambu. Ada dua jenis kelambu: Yang berinsektisida dan yang tidak berinsektisida. Yang tidak berinsektisida, hanya sekedar melindungi kita dari gigitan nyamuk. Adapun yang berinsektisida disamping melindungi terhadap gigitan juga membunuh nyamuk.

Kelambu berinsektisida sendiri juga ada dua jenis. Yang pertama biasa kita sebut ITNs (Insecticide-Treated Nets) dan yang kedua kita kenal dengan nama LLINs (Long Lasting Insecticidal Nets).

Yang kita gunakan sekarang adalah LLINs karena “long lasting”. Tahan 3-5 tahun dan bisa dicuci sampai 20 kali. Sementara yang pertama (ITNs) perlu dicelup ulang setelah dicuci tiga kali. Jadi LLIN lebih “cost-effective” dibanding ITN. Oleh sebab itu guna mencapai sasaran Millennium Development Goals (MDGs) 2015, satu dari tiga intervensi primer yang harus dilakukan adalah “full coverage” LLIN pada populasi yang berisiko malaria (WHO Global Malaria Program)

Sasaran utama LLIN adalah ibu dan anak balitanya. Oleh sebab itu kita lihat petugas malaria di daerah dalam pendistribusian LLIN beberja sama dengan petugas KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) dan petugas Imunisasi. Tujuan utamanya adalah supaya tidak ada “missed oportunity” (kesempatan yang hilang) dan sekaligus bonus bagi ibu yang periksa hamil atau ibu yang membawa anaknya untuk imunisasi.

Segala upaya harus dilakukan supaya bisa “full coverage”. Pada prinsipnya kita harus memanfaatkan peluang dalam pendistribusian LLIN. Cakupan menyeluruh berarti perlindungan juga menyeluruh. Tidak ada lagi kesempatan bagi nyamuk anopheles untuk menyatroni masyarakat. Mereka akan mati dan punah pelan-pelan.

 
KINERJA LLINs YANG PRIMA

Performa LLINs tidak diragukan lagi. Tentusaja dengan catatan harus “full coverage”. Semua program, apa saja kalau cakupannya di bawah 80% tidak akan menghasilkan performance epidemiologis yang bermakna. Sebagai contoh,  “Success Rate” pengobatan TB Paru serendah-rendahnya harus 80%. Demikian pula cakupan imunisasi.
Ditinjau dari sisi manusianya, maka dengan LLINs orang sehat akan terlindung dari gigitan nyamuk Anopheles, sehingga risiko tertular menjadi minimal.

Demikian pula orang sakit (malaria) yang tidur dengan kelambu, ia tidak akan membantu nyamuk dalam penyebaran penyakit malaria.

Satu dari rantai penularan telah putus. Tidak ada manusia kemasukan parasit malaria dan tidak ada orang menjadi bank parasit untuk didistribusikan oleh nyamuk ke manusia yang lainnya.
 Ditinjau dari sisi nyamuknya, ada tiga hal yang dilakukan oleh LLINs:
1.    LLINs membunuh nyamuk dewasa yang masuk rumah. Angka kematiannya (nyamuk) tinggi. Makin banyak nyamuk mati maka risiko manusia digigit nyamuk juga akan turun.

2.    Bila nyamuk tidak langsung mati di tempat pada saat itu, maka parasit malaria butuh waktu untuk berkembang dalam tubuh nyamuk sebelum sampai di kelenjar ludah nyamuk sebagai sporozoit yang siap diterjunkan ke darah manusia. Bisa sampai 8 hari. Kalau nyamuk mati sebelum waktunya, maka parasit Malaria (Plasmodium) tidak sempat berkembang. Putus siklus hidupnya, turun populasinya. Hal ini juga akan mengurangi populasi nyamuk yang membawa parasit. Manusia mungkin digigit nyamuk, tetapi nyamuknya steril (tidak membawa plasmodium).

3.    Bila nyamuk sempat bertelur, karena tidak mendapat nutrisi dari darah manusia, maka pematangan telurnya tidak berlangsung (nyamuk Anopheles menggigit manusia karena butuh darah manusia guna perkembangan telur-telurnya). Tidak ada Anopheles baru yang menetas. Siklus hidup nyamuk pun putus.
Bisa dibayangkan hebatnya dual effect dari LLINs: memutuskan siklus hidup nyamuk sekaligus plasmodium. Kalau bisa dilaksanakan secara “full coverage” dan “sustain” maka “rantai penularan” pun akan putus dan diikuti menurunnya dengan cepat Insidens Malaria.

EPILOG
Annual Parasite Incidence Indonesia saat ini sudah turun jauh sampai 1,7 untuk 1000 penduduk. Sasaran kita adalah 1 per seribu pada tahun 2014 dan eliminasi malaria pada tahun 2030. Memang butuh waktu, dan kita harus tetap waspada dengan nyamuk Anopheles ini.

Nyamuk itu efektif dan bagi mereka kita adalah sesuatu yang enak untuk dimakan. Demikian dikatakan Betty Reese (pilot Amerika) dan Don Marquis (novelist Amerika). Kutipannya dapat dibaca di bawah:

If you think you are too small to be effective, you have never been in bed with a mosquito

A man thinks he amounts to a great deal but to a flea or a mosquito a human being is merely something good to eat

Dua hal yang harus kita perhatikan, pertama: Resistensi nyamuk terhadap insektisida dan yang kedua: Nyamuk mengundurkan jam gigit, menunggu manusia keluar dari kelambu (IwMM).

Rujukan bacaan:
http://www.who.int/malaria/publications/atoz/itnspospaperfinal.pdf
http://en.wikipedia.org/wiki/LLIN

Dilanjutkan ke: Memasang kelambu “tidak semudah itu”


Sunday, November 18, 2012

KELAMBU: DARI TAFSIR MIMPI SAMPAI KENYATAAN

Penerimaan masyarakat terhadap “kelambu” amat baik. Pembagian kelambu selalu diterima dengan dua tangan. Soal penggunaannya bagaimana, itu ceritera lain. Pokoknya kelambu always welcome. Kelambu rupanya sudah dikenal lama oleh masyarakat dan “makna” kelambu ternyata “baik”. Dua contoh di bawah, mungkin tidak ilmiyah tetapi bisa dijadikan evidence bahwa tidak ada resistensi terhadap program kelambu.
 
 
KELAMBU DAN TAFSIR MIMPI
 
Harus diakui bahwa masih banyak orang yang percaya bahwa mimpi membawa makna, sehingga buku tafsir mimpi banyak dijual di toko buku. Bila sempat, silakan kunjungi salah satu book store dan baca cepat-cepat. Kalau  tidak sempat browsing saja di internet dengan kata kunci “mimpi kelambu”. Ada beberapa situs yang memuat hal tersebut.
 
Beruntunglah program pengendalian Malaria bahwa mimpi tentang kelambu, tafsirannya bagus. Andaikan jelek, pasti banyak orang tidak mau kelambu walau dikasih gratisan.

1.    Mimpi membuka kelambu: Akan mendapat makanan yang enak-enak.
2.    Membeli kelambu: Akan memperoleh kemajuan
3.    Tidur menggunakan kelambu: Akan dimuliakan orang banyak
Dapat disimpulkan bahwa kelambu dimaknai baik oleh masyarakat. Yang jelas, kalau sebelumnya kita tidak pakai kelambu kemudian sekarang pakai, memang namanya kemajuan. Karena tidak diserang Malaria, maka makan bisa enak, kinerja lebih baik, ekonomi keluarga meningkat, hidup pun lebih mulia.


KELAMBU: PELINDUNG SERANGAN ANGIN JAHAT
Mengenai hal ini dapat di baca di weblog  http://vivaborneo.blogspot.com/
Alinea pertama saya kutip saja sebagai berikut: Pernahkah anda tidur di dalam kelambu? Pertanyaan ini mungkin lucu bagi sebagian orang kota yang memiliki rumah dengan kamar-kamar yang tidak dapat dimasuki oleh nyamuk. Tetapi tahukah anda jika kelambu selain berfungi sebagai alat untuk melindungi tubuh dari gigitan nyamuk, juga melindungi raga dari serangan santet, teluh, guna-guna dan berbagai angin jahat lainnya.
Masuk akal juga. Penderita malaria sering seperti orang kemasukan. Beberapa kali saya melihat waktu dinas di Maluku Utara 30an tahun yang lalu.
Orang Jawa jaman dulu, mungkin mengatakan “lelembut”, masuk akal juga untuk sesuatu yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop, saking lembutnya sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.
Sisi positif dari kepercayaan ini, karena takut lelembut atau makhluk halus, maka kita tidur pakai kelambu. Di kemudian hari dapat djelaskan bahwa yang halus dan lembut itu namanya “Plasmodium”
 
RATU DAN KELAMBU
Konon Cleopatra kalau tidur juga pakai kelambu. Entah betul entah tidak, demikianlah disebut oleh Wikipedia yang juga mengutip dari Malaria Site. Tidak bisa dilacak darimana Malaria Site mengutip karena walau ada daftar kepustakaan tetapi kutipannya tidak ditandai.
Cleopatra mungkin sudah terlalu lama lampau, kita kembali ke alam nyata saja. Princess Astrid, dari Belgia, sebagai  Special Representative to the Roll Back Malaria  pada tahun 2012 ini berkunjung ke Indonesia. Bersama Dirjen Pengendalian Penyakit dan penyehatan Lingkungan (P2PL), Kemenkes RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama beliau mengadakan kunjungan lapangan ke Lampung pada tanggal 14 April 2012.
Di bawah dapat diikuti rekaman Youtube Kunjungan Princess Astrid dan Prof. Tjandra, dari web Puspromkes Kemenkes RI.

EPILOG

Dunia lain berpesan bahwa tidur dengan kelambu akan aman dari angin jahat. Dunia mimpi memberitahu, tidur dalam kelambu akan mendapatkan kemuliaan. Kita kembali ke manusia, Princess Astrid mengatakan:

“I’ve seen first-hand the complete devastation malaria imposes on communities. I’ve also seen the incredible hope provided by simple, cost-effective tools that prevent and treat infection and advance other development goals that will lift communities out of poverty.” Demikian dikutip oleh http://www.royaltyinthenews.com/tag/  

Ada harapan yang amat besar diberikan oleh alat yang amat sederhana dan cost efektif. Tidak lain adalah kelambu.(IwMM)

Saturday, November 17, 2012

LAGU NINA BOBO DAN NYAMUK

Sebuah lagu yang amat akrab di telinga kita “nina bobo”. Terbayang seorang ibu menidurkan bayinya atau mungkin anak balitanya dalam buaian.
 
Liriknya pendek saja, dengan dua kata kunci BOBO dan NYAMUK. Lagu ini sudah ada sejak saya kecil, penciptanya tidak jelas siapa.
 
Kira-kira “lullaby song” ini asli Indonesia yang memang akrab dengan nyamuk.  Liriknya sampai sekarang tidak berubah, dapat dibaca pada gambar di bawah yang saya ambil dari mamalisa.com
 
 
Kalau dibandingkan dengan “lullaby song” lain dari negara lain, misalnya dari lirik lagu “Lullaby and good night” nya Johannes Brahm, ada kata-kata yang intinya: Ibu akan menjagamu sepanjang malam.
Sleepyhead, close your eyes. Mother's right here beside you. I'll protect you from harm, You will wake in my arms.
Lain lagi dengan orang Belanda. Dalam menidurkan anak, mereka malah berceritera tentang domba kaki putih yang minum susu
Slaap kindje slaap, daar buiten loopt een schaap. Een schaap met witte voetjes, die drinkt zijn melk zo zoetjes.
Mari kita dengarkan sekali lagi lagu “nina bobo” yang kebetulan dinyanyikan oleh orang Belanda. Orkestra ini tergabung dalam “Die Minnesanghers” dengan penyanyi sopran senior Claudia Patacca. Tayangan videonya diposting di situs Youtube sejak Januari 2011 dan sudah dikunjungi banyak orang. Kata-katanya tidak diubah.
 
Kesimpulannya kalau kita bicara tentang “lullaby song” dan yang diceriterakan adalah “Nyamuk” lebih banyak pastinya bahwa lagu ini Indonesia banget.
 
KRITIK DAN PEMBELAAN UNTUK NINA BOBO
Gambar: http://remicadedream.com/
Lagunya indah dan mendayu-dayu. Tetapi kalau kita bicara tentang pengendalian Malaria, terpaksa memberikan kritik. Seorang ahli pendidikan barangkali kritiknya lain. Nyuruh tidur saja kok ditakut-takuti pakai nyamuk segala. Saya yang bukan ahlinya di bidang itu, malah bisa memahami dari sudut pandang saya, bahwa kita perlu takut dengan nyamuk. Nyamuk adalah serangga penular penyakit.
Yang jadi masalah adalah kata-kata “kalau tidak tidur digigit nyamuk” karena justru pada saat tidur kita rawan digigit nyamuk. Apalagi kalau kita tinggal di daerah endemis malaria. Lalu adakah solusinya?
Kita ikuti saja apa kata Johannes Brahm di atas: Mother's right here beside you. I'll protect you from harm. Ibu ada disampingmu dan akan selalu menjagamu dari bahaya. Tentu salah satunya  adalah melindungi dari gigitan nyamuk. Sehingga yang dimaksud dengan kata “tidurlah tidur dalam buaian” dalam lagu nina bobo adalah “buaian yang berkelambu”. Pasti tidur nyaman dan  mimpi indah bersama Een schaap met witte voetjes yang susunya zo zoetjes itu. Kalau seperti ini, memang benar bahwa “kalau tidak bobo, atau masih main-main, maka  peluang digigit nyamuk akan lebih besar (IwMM)

Most Recent Post