Dari
Fabel Aesop yang mengisahkan serigala dan nyamuk pada abad ke 7 sebelum masehi,
kita beralih ke Brothers Grimm, story
teller Jerman pada abad ke 18 yang kesohor dengan kisah Cinderella-nya. Salah
satu dongengnya adalah tentang singa dan nyamuk, yang intinya adalah nyamuk itu
pengganggu yang tidak pilih-pilih tapi ada kelemahannya. Alur ceriteranya juga
tidak bertele-tele dan mudah dipahami.
SINGA DAN NYAMUK
Seekor
nyamuk mendenging di telinga singa. Percuma upaya singa untuk menangkap maupun
mengusir. Samasekali tidak berhasil bahkan satu kali saking pegalnya yang
terpukul adalah telinga sendiri. Dengingnya jadi dua kali. Denging nyamuk dan
denging telinga kena pukul.
Dengan
sombong nyamuk sesumbar: “Hai singa, kamu boleh sebut dirimu raja hutan, tapi
bukan raja udara”. Kembali ia mengitari singa yang pada akhirnya hanya mampu
mengaum tanpa bisa apa-apa. Seisi hutan takut tetapi nyamuk ketawa-ketawa
sambil terus sesumbar: “Singa si raja hutan bertekuk lutut di hadapan nyamuk
kecil”.
Si
nyamuk pun terbang lagi dengan maksud menggoda singa. Dia tidak tahu di
dekatnya ada sarang laba-laba. Demikianlah nasib si nyamuk, terperangkap dalam jaring laba-laba dan menjadi mangsa laba-laba.
Di
bawah adalah tayangan youtube tentang kisah singa dan nyamuk.
PELAJARAN YANG DAPAT
DIPETIK
Nyamuk
menggigit tidak pilih-pilih karena ia yakin kelincahannya. Raja hutan pun dia
buat tidak berkutik. Manusia hendaknya hati-hati.
Tidak ada manusia kebal
malaria dan segampang itu menangkap nyamuk. Tetapi ada cara lain untuk
menangkap nyamuk ketimbang sibuk tepuk sana-sini yang tidak efektif.
Ada jaring
laba-laba, yang bisa kita samakan dengan kelambu. Bahkan nyamuk mati disitu
karena ada pembunuhnya. Hal ini mengingatkan kita kepada kelambu berinsektisida
atau LLINs.
Kelambu
LLINs dibuat dari bahan sintetis yang kuat dan di “impregnasi” dengan
insektisida, bukan sekedar dicelup. WHO memberikan spesifikasi teknis, efektif
dipakai selama lima tahun atau dicuci sampai 20 kali. Jadi kalau tiga bulan
sekali dicuci, klop untuk penggunaan lima tahun.
Harga
per unit tidak mahal, dalam kisaran $ 5. Jadi kalau satu US Dollar setahunnya
dengan jaminan proteksi aman dari malaria, bahkan dalam jangka panjang akan
menurunkan populasi nyamuk secara bermakna, tentunya (meminjam istilah jaman
agak dulu) “kelambunisasi” adalah langkah yang amat strategis.
“Apalagi
kelambunya dikasih cuma-cuma, alias gratis”, demikian teman saya menimpali.
Saya cuma senyum-senyum kecut: “Kita udah nyiapin exit strategy, Dik. Dua tahun
lagi pasti beli sendiri dan tetap diberikan cuma-cuma kepada rakyat”.
“Asal
memakainya betul saja. Ada yang dipakai menjaring ikan lho Mas”. Hal ini tidak
saya bantah. Hanya saya katakan “kasuistik” sehingga tidak perlu dijadikan
bahan pergunjingan. Kalau hal itu terjadi di negara kita, sebagai sesama anak
bangsa jangan saling menelanjangi lah. Tapi kita juga jangan memberi peluang si
pemberi kelambu yang dari negara kaya itu men”stupid-stupid”kan kita hanya
karena masalah kelambu berinsektisida. Buktinya API (Annual Parasite Incidence)
Malaria untuk negara kita sudah turun sampai 1,7 per seribu penduduk.
MENGAPA
KELAMBU BERINSEKTISIDA DIGUNAKAN UNTUK KEPERLUAN LAIN
Kalau
kita browsing di internet, memang ada beberapa tulisan mengenai hal ini. Ada
satu tulisan yang saya senang membacanya, oleh Bernard Okebe dari Kenya di http://trial.eyesonmalaria.org/content/fishing-mosquito-nets
ia berceritera tentang Duncan Nyambege, seorang pencari ikan. Nyambege setuju
bahwa malaria adalah penyakit berbahaya. Tetapi ia juga melihat peluang lain yang
bisa dimanfaatkan dengan adanya LLINs (Kelambu berinsektisida) disamping ia
kesulitan dalam men “set up” kelambu di tempat tidur. Sakit malaria bisa
diatasi dengan pergi ke klinik tetapi perut lapar hanya bisa diobati dengan
cari makan. Dalam hal ini LLINs amat membantu.
Nyambege
tentunya tidak berpikir bahwa dengan kecilnya lobang kelambu, maka ikan yang
masih amat muda pun akan terjaring. Dalam jangka tidak terlalu lama populasi
ikan akan semakin turun. Ia juga tidak memikirkan bahaya pencemaran insektisida
di lingkungan.
Beda
dengan Nyambege yang bermukim di tepian danau, maka Magdalina Odongo, adalah
seorang ibu yang bertempat tinggal di daerah pertanian. Ia melihat LLINs amat
bermanfaat untuk melindungi bibit tanamannya dari serangga. Oleh sebab itu
LLINs yang ia terima dari petugas kesehatan digunakannya untuk melindungi
tanamannya yang masih kecil-kecil.
Ternyata
memang betul bahwa masih ada “gap” antara “needs” masyarakat menurut pandangan
kita dengan “demand” masyarakat menurut pandangan mereka.
PENYULUHAN
HARUS DITINGKATKAN, SASARAN PENYULUHAN HARUS TEPAT
Sudah
benar sekali apa yang dilakukan, bahwa untuk menjangkau sasaran ibu dan
balitanya, maka distribusi dilakukan di klinik KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)
atau pada pelayanan Imunisasi. Sudah benar bahwa sebelum diberi kelambu,
diberikan penyuluhan tentang manfaat kelambu dan cara penggunaannya. Demikian
pula benar sekali bahwa ibu-ibu amat gembira pulang bawa kelambu.
Masalah
timbul ketika ibu-ibu pulang, bapak-bapak yang diminta memasang kelambu tidak tahu apa yang harus
dikerjakan. Kecuali ada petugas atau kader malaria yang mengikuti. Akhirnya
kalau mereka kemudian meniru apa yang dilakukan Nyambega dan Odongo, ya jangan
disalahkan. Kalau sampai masyarakat tidak tahu kemudian dikata-katai dengan
bahasa kasar “misuse” maka sebenarnya salah ada pada petugas yang menyandang
predikat “abdi masyarakat”.
The wrong perceptions and practices about
the mosquito nets among certain communities, confirm that the population needs
more intensive education about the fight against malaria.
Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama,
Dirjen P2PL serahkan bantuan kelambu
di Lampung, 14.04.2012
Pernahkan
Bapak dan Ibu mencoba memasang kelambu sendiri? Saya yakin belum tentu semuanya
bisa. Kelambu LLINs yang cukup sederhana itu pun tidak semudah itu. Saya berani
mengatakan demikian karena 20 tahun lalu ketika ditugaskan di Afrika sempat
hilang akal. Bagaimana saya harus memasang kelambu berinsektisida, bekal dari
Depkes (sekarang Kemenkes) di atas dipan saya yang tidak ada tiang untuk
menyangga kelambunya. Alhasil dengan bantuan “tali rafia” dan “paku” kelambu
berhasil dipasang. Tidak indah dipandang, yang penting aman. Itupun dengan
bantuan si “Aden” staf lokal di Somalia, padahal dia sendiri tidak pernah pakai
kelambu.
SHOW
THEM HOW TO SET UP
Bila
kita ditugaskan untuk mendistribusikan kelambu ke daerah endemis malaria,
jangan cepat-cepat ketawa bahwa kelambu sudah berhasil dibagi habis pada hari
pertama. Ngerti apa enggak ibu-ibu yang pulang dengan senyum bahagia karena
dapat oleh-oleh kelambu dari petugas kesehatan, cara memasangnya. Kalau tidak
ngerti, ya sama saja. Kelambu akan diletakkan dan bisa digunakan untuk
kepentingan lain.
Bila
kita buka kelambu dari bungkusnya, belum tentu ada petunjuk pemasangannya di
dalamnya. Andaikan ada, belum tentu bisa mengartikan apa yang tertulis di
petunjuk pemakaian, walaupun dalam bahasa Indonesia sekalipun. Oleh sebab itu,
jangan bosan-bosannya menjelaskan sampai si penerima kelambu mengerti. Peran kader
kesehatan akan amat membantu dalam hal ini.
Menjelaskan
cara pemasangan saja belumlah cukup. Tidak cukup hanya “tell them what to do” tetapi
harus ada peragaan untuk “show them how to do” dan satu lagi kita perlu meminta
mereka mencoba memasangnya di tempat pembagian kelambu. Semacam praktek. Tidak
cukup “tell” tidak pula cukup dengan “show” tetapi perlu juga “let them do it”.
Sampai
di sini belum cukup. Kita perlu ikuti sampai rumah, bagaimana mereka memasang
kelambu sehingga betul-betul “mosquito proof”. Sering ujung kelambu dibiarkan
berjuntai. Kalau seperti ini, ada saja akal si Anopheles untuk menerobos masuk.
Cara paling sederhana adalah menyelipkan ujung kelambu di bawah kasur.
Di
bawah adalah rekaman video Youtube mengenai cara memasang kelambu. Peragaannya
cukup jelas, sayangnya bukan di Indonesia, tetapi di Uganda.
EPILOG
Kelambu
berinsektisida khususnya LLINs manfaatnya amat besar. Dibanding harganya yang
juga tidak terlalu mahal (dibawah $ 5) dan bisa dipakai sampai 5 tahun dengan pencucian
20X jelas amat cost-effective. Tentusaja harus dipasang dengan benar dan
dipakai sesuai peruntukannya (IwMM)
Dilanjutkan ke Kelambu bisa dipakai untuk jaring ikan
Dari tempat perindukan nyamuk akan terbang menuju sasaran yaitu manusia. Ada jenis yang menyergap di luar rumah, ada jenis yang menyerbu ke dalam rumah.oleh sebab itu rumah harus aman dari nyamuk. Jangan ada lobang yang dapat dimasuki nyamuk yang mengendap-endap mulai sore hari.
Tutup pintu dan jendela, pasang kawat kasa di lobang-lobang ventilasi, jangan sampai lupa memperhatikan pintu belakang, pintu kamar mandi dan semua lobang kecil yang bisa jadi jalan masuk nyamuk. Pintu di tutup tetapi ada celah, sama saja artinya dengan tidak ditutupi
KELAMBU BERINSEKTISIDA: ITNs dan LLINs
Setelah
semua dilakukan, maka yang paling akhir tentunya, saat tidur kita harus pakai
kelambu. Ada dua jenis kelambu: Yang berinsektisida dan yang tidak
berinsektisida. Yang tidak berinsektisida, hanya sekedar melindungi kita dari
gigitan nyamuk. Adapun yang berinsektisida disamping melindungi terhadap
gigitan juga membunuh nyamuk.
Kelambu
berinsektisida sendiri juga ada dua jenis. Yang pertama biasa kita sebut ITNs
(Insecticide-Treated Nets) dan yang kedua kita kenal dengan nama LLINs (Long
Lasting Insecticidal Nets).
Yang
kita gunakan sekarang adalah LLINs karena “long lasting”. Tahan 3-5 tahun dan
bisa dicuci sampai 20 kali. Sementara yang pertama (ITNs) perlu dicelup ulang
setelah dicuci tiga kali. Jadi LLIN lebih “cost-effective” dibanding ITN. Oleh
sebab itu guna mencapai sasaran Millennium Development Goals (MDGs) 2015, satu
dari tiga intervensi primer yang harus dilakukan adalah “full coverage” LLIN
pada populasi yang berisiko malaria (WHO Global Malaria Program)
Sasaran
utama LLIN adalah ibu dan anak balitanya. Oleh sebab itu kita lihat petugas
malaria di daerah dalam pendistribusian LLIN beberja sama dengan petugas KIA
(Kesehatan Ibu dan Anak) dan petugas Imunisasi. Tujuan utamanya adalah supaya
tidak ada “missed oportunity” (kesempatan yang hilang) dan sekaligus bonus bagi
ibu yang periksa hamil atau ibu yang membawa anaknya untuk imunisasi.
Segala
upaya harus dilakukan supaya bisa “full coverage”. Pada prinsipnya kita harus
memanfaatkan peluang dalam pendistribusian LLIN. Cakupan menyeluruh berarti
perlindungan juga menyeluruh. Tidak ada lagi kesempatan bagi nyamuk
anopheles untuk menyatroni masyarakat. Mereka akan mati dan punah pelan-pelan.
KINERJA
LLINs YANG PRIMA
Performa
LLINs tidak diragukan lagi. Tentusaja dengan catatan harus “full coverage”. Semua
program, apa saja kalau cakupannya di bawah 80% tidak akan menghasilkan
performance epidemiologis yang bermakna. Sebagai contoh, “Success Rate”
pengobatan TB Paru serendah-rendahnya harus 80%. Demikian pula cakupan
imunisasi.
Ditinjau
dari sisi manusianya, maka dengan LLINs orang sehat akan terlindung dari gigitan nyamuk
Anopheles, sehingga risiko tertular menjadi minimal.
Demikian pula orang sakit
(malaria) yang tidur dengan kelambu, ia tidak akan membantu nyamuk dalam
penyebaran penyakit malaria.
Satu dari rantai penularan telah putus. Tidak ada
manusia kemasukan parasit malaria dan tidak ada orang menjadi bank parasit
untuk didistribusikan oleh nyamuk ke manusia yang lainnya.
Ditinjau
dari sisi nyamuknya, ada tiga hal yang dilakukan oleh LLINs:
1.LLINs membunuh nyamuk dewasa yang
masuk rumah. Angka kematiannya (nyamuk) tinggi. Makin banyak nyamuk mati maka
risiko manusia digigit nyamuk juga akan turun.
2.Bila nyamuk tidak langsung mati di
tempat pada saat itu, maka parasit malaria butuh waktu untuk berkembang dalam tubuh nyamuk
sebelum sampai di kelenjar ludah nyamuk sebagai sporozoit yang siap diterjunkan
ke darah manusia. Bisa sampai 8 hari. Kalau nyamuk mati sebelum waktunya, maka
parasit Malaria (Plasmodium) tidak sempat berkembang. Putus siklus hidupnya,
turun populasinya. Hal ini juga akan mengurangi populasi nyamuk yang membawa
parasit. Manusia mungkin digigit nyamuk, tetapi nyamuknya steril (tidak membawa
plasmodium).
3.Bila nyamuk sempat bertelur, karena
tidak mendapat nutrisi dari darah manusia, maka pematangan telurnya tidak
berlangsung (nyamuk Anopheles menggigit manusia karena butuh darah manusia
guna perkembangan telur-telurnya). Tidak ada Anopheles baru yang menetas. Siklus
hidup nyamuk pun putus.
Bisa
dibayangkan hebatnya dual effect dari LLINs: memutuskan siklus hidup nyamuk
sekaligus plasmodium. Kalau bisa dilaksanakan secara “full coverage” dan “sustain”
maka “rantai penularan” pun akan putus dan diikuti menurunnya dengan
cepat Insidens Malaria.
EPILOG
Annual
Parasite Incidence Indonesia saat ini sudah turun jauh sampai 1,7 untuk 1000
penduduk. Sasaran kita adalah 1 per seribu pada tahun 2014 dan eliminasi
malaria pada tahun 2030. Memang butuh waktu, dan kita harus tetap waspada dengan
nyamuk Anopheles ini.
Nyamuk
itu efektif dan bagi mereka kita adalah sesuatu yang enak untuk dimakan.
Demikian dikatakan Betty Reese (pilot Amerika) dan Don Marquis (novelist
Amerika). Kutipannya dapat dibaca di bawah:
If you think you are too
small to be effective, you have never been in bed with a mosquito A man thinks he amounts to a great deal but to a flea or a mosquito a human being is merely something good to eat
Penerimaan
masyarakat terhadap “kelambu” amat baik. Pembagian kelambu selalu diterima
dengan dua tangan. Soal penggunaannya bagaimana, itu ceritera lain. Pokoknya
kelambu always welcome. Kelambu rupanya sudah dikenal lama oleh masyarakat dan “makna”
kelambu ternyata “baik”. Dua contoh di bawah, mungkin tidak ilmiyah tetapi bisa
dijadikan evidence bahwa tidak ada resistensi terhadap program kelambu.
KELAMBU
DAN TAFSIR MIMPI
Harus
diakui bahwa masih banyak orang yang percaya bahwa mimpi membawa makna,
sehingga buku tafsir mimpi banyak dijual di toko buku. Bila sempat, silakan
kunjungi salah satu book store dan baca cepat-cepat. Kalau tidak sempat browsing saja di internet dengan
kata kunci “mimpi kelambu”. Ada beberapa situs yang memuat hal tersebut.
Beruntunglah
program pengendalian Malaria bahwa mimpi tentang kelambu, tafsirannya bagus.
Andaikan jelek, pasti banyak orang tidak mau kelambu walau dikasih gratisan.
1.Mimpi membuka kelambu: Akan mendapat
makanan yang enak-enak.
2.Membeli kelambu: Akan memperoleh
kemajuan
3.Tidur menggunakan kelambu: Akan
dimuliakan orang banyak
Dapat
disimpulkan bahwa kelambu dimaknai baik oleh masyarakat. Yang jelas, kalau
sebelumnya kita tidak pakai kelambu kemudian sekarang pakai, memang namanya
kemajuan. Karena tidak diserang Malaria, maka makan bisa enak, kinerja lebih
baik, ekonomi keluarga meningkat, hidup pun lebih mulia.
Alinea pertama saya kutip saja
sebagai berikut: Pernahkah anda tidur di
dalam kelambu? Pertanyaan ini mungkin lucu bagi sebagian orang kota yang
memiliki rumah dengan kamar-kamar yang tidak dapat dimasuki oleh nyamuk. Tetapi
tahukah anda jika kelambu selain berfungi sebagai alat untuk melindungi tubuh
dari gigitan nyamuk, juga melindungi raga dari serangan santet, teluh,
guna-guna dan berbagai angin jahat lainnya.
Masuk akal juga. Penderita malaria sering
seperti orang kemasukan. Beberapa kali saya melihat waktu dinas di Maluku Utara
30an tahun yang lalu.
Orang Jawa jaman dulu, mungkin mengatakan “lelembut”,
masuk akal juga untuk sesuatu yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop, saking
lembutnya sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.
Sisi positif dari kepercayaan ini,
karena takut lelembut atau makhluk halus, maka kita tidur pakai kelambu. Di
kemudian hari dapat djelaskan bahwa yang halus dan lembut itu namanya “Plasmodium”
RATU DAN KELAMBU
Konon Cleopatra kalau tidur juga
pakai kelambu. Entah betul entah tidak, demikianlah disebut oleh Wikipedia yang
juga mengutip dari Malaria Site. Tidak bisa dilacak darimana Malaria Site
mengutip karena walau ada daftar kepustakaan tetapi kutipannya tidak ditandai.
Cleopatra mungkin sudah terlalu lama
lampau, kita kembali ke alam nyata saja. Princess Astrid, dari Belgia, sebagai Special
Representative to the Roll Back Malariapada tahun 2012 ini berkunjung ke Indonesia. Bersama Dirjen Pengendalian Penyakit dan penyehatan Lingkungan
(P2PL), Kemenkes RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama beliau mengadakan kunjungan lapangan ke Lampung pada tanggal 14 April 2012.
Di
bawah dapat diikuti rekaman Youtube Kunjungan Princess Astrid dan Prof.
Tjandra, dari web Puspromkes Kemenkes RI.
EPILOG
Dunia lain berpesan bahwa tidur dengan kelambu akan aman dari angin jahat. Dunia mimpi memberitahu, tidur dalam kelambu akan mendapatkan kemuliaan. Kita kembali ke manusia, Princess Astrid mengatakan:
“I’ve seen first-hand the complete
devastation malaria imposes on communities. I’ve also seen the incredible hope
provided by simple, cost-effective tools that prevent and treat infection and
advance other development goals that will lift communities out of poverty.”
Demikian dikutip oleh http://www.royaltyinthenews.com/tag/
Ada harapan yang amat besar diberikan oleh alat
yang amat sederhana dan cost efektif. Tidak lain adalah kelambu.(IwMM)
Sebuah
lagu yang amat akrab di telinga kita “nina bobo”. Terbayang seorang ibu
menidurkan bayinya atau mungkin anak balitanya dalam buaian.
Liriknya pendek
saja, dengan dua kata kunci BOBO dan NYAMUK. Lagu ini sudah ada sejak saya
kecil, penciptanya tidak jelas siapa.
Kira-kira “lullaby song” ini asli
Indonesia yang memang akrab dengan nyamuk. Liriknya sampai sekarang tidak berubah, dapat
dibaca pada gambar di bawah yang saya ambil dari mamalisa.com
Kalau
dibandingkan dengan “lullaby song” lain dari negara lain, misalnya dari lirik
lagu “Lullaby and good night” nya Johannes Brahm, ada kata-kata yang intinya:
Ibu akan menjagamu sepanjang malam.
Sleepyhead, close your eyes.Mother's
right here beside you.I'll protect you from harm,You will wake in my arms.
Lain
lagi dengan orang Belanda. Dalam menidurkan anak, mereka malah berceritera
tentang domba kaki putih yang minum susu
Slaap
kindje slaap, daar buiten loopt een schaap. Een schaap met witte voetjes, die
drinkt zijn melk zo zoetjes.
Mari
kita dengarkan sekali lagi lagu “nina bobo” yang kebetulan dinyanyikan oleh
orang Belanda. Orkestra ini tergabung dalam “Die Minnesanghers” dengan penyanyi
sopran senior Claudia Patacca. Tayangan videonya diposting di situs Youtube
sejak Januari 2011 dan sudah dikunjungi banyak orang. Kata-katanya tidak
diubah.
Kesimpulannya
kalau kita bicara tentang “lullaby song” dan yang diceriterakan adalah “Nyamuk”
lebih banyak pastinya bahwa lagu ini Indonesia banget.
KRITIK DAN
PEMBELAAN UNTUK NINA BOBO
Gambar: http://remicadedream.com/
Lagunya
indah dan mendayu-dayu. Tetapi kalau kita bicara tentang pengendalian Malaria,
terpaksa memberikan kritik. Seorang ahli pendidikan barangkali kritiknya lain.
Nyuruh tidur saja kok ditakut-takuti pakai nyamuk segala. Saya yang bukan
ahlinya di bidang itu, malah bisa memahami dari sudut pandang saya, bahwa kita
perlu takut dengan nyamuk. Nyamuk adalah serangga penular penyakit.
Yang
jadi masalah adalah kata-kata “kalau tidak tidur digigit nyamuk”
karena justru pada saat tidur kita rawan digigit nyamuk. Apalagi kalau kita
tinggal di daerah endemis malaria. Lalu adakah solusinya?
Kita ikuti saja apa
kata Johannes Brahm di atas:Mother's right here beside you.I'll
protect you from harm.
Ibu ada
disampingmu dan akan selalu menjagamu dari bahaya. Tentu salah satunya adalah melindungi dari gigitan nyamuk.
Sehingga yang dimaksud dengan kata “tidurlah tidur dalam buaian” dalam
lagu nina bobo adalah “buaian yang berkelambu”. Pasti tidur nyaman danmimpi indah bersama Een schaap met witte voetjes
yang susunya zo zoetjes itu. Kalau seperti ini, memang benar
bahwa “kalau tidak bobo, atau masih main-main, makapeluang digigit nyamuk akan lebih besar
(IwMM)