Tuesday, February 26, 2013

TUBERKULOSIS: PENYAKIT PURBA DI ERA GLOBAL (1)

Disebutkan pada awal bab pertama publikasi WHO “Avoiding Tuberculosis”, bahwa penyakit dengan cara penularan mirip tuberculosis sudah terukir di dinding “Luxor Temple”, Mesir, yang kini usianya kurang-lebih 4000 tahun.
 
On the pale walls of the Luxor Temple, some 4,000 years ago in ancient Egypt, a Pharaoh carved an image of a man who had become ill when he breathed in a germs smaller than a speck of sand. The Pharaoh, as he sketched, may not have known that the disease he was describing on the wall was to become one of the largest single causes of death: a disease that would later be called tuberculosis.(The Health Academy, WHO,2004)
 
Para ahli kemudian melacak jejak DNA nya dan menemukan bahwa Mycobacterium tuberculosis memang ditemukan pada mummy yang usianya ribuan tahun. Kesimpulannya: Tuberculosis sudah bersama manusia sejak jaman purba.
 
HIPPOCRATES
Kurang lebih dua ribu tahun kemudian di Yunani, Hippocrates mengemukakan bahwa batuk yang menimbulkan “phtisis” ini (baca: Sebutan tuberculosis dari masa ke masa) ada kaitannya dengan udara. Ada sesuatu di udara yang menimbulkan sesuatu di paru-paru.
Hippocrates tidak yakin bahwa penyakit ini dapat disembuhkan. Ia menyarankan penderita gangguan paru seperti ini supaya menempuh perjalanan jauh berkuda. Barangkali maksudnya, udara segar di tempat terbuka dapat membantu penderita bisa bernapas lebih longgar.
Beberapa abad kemudian Celsius mengkonfirmasi pendapat Hippocrates, bahwa ada kaitan antara “tuberculosis” (saat itu belum disebut demikian) dengan udara yang masuk paru-paru manusia. Rekomendasinya hampir sama, penderita supaya tetirah di daerah pantai dan banyak minum susu.
Istirahat, udara segar dan gizi kelihatannya menjadi kata kunci penanganan tuberculosis pada masa itu. TB masih dianggap penyakit keturunan, bukan penyakit menular. Ide “sanatorium” pada abad ke 19 mungkin diilhami pendapat Hippocrates dan Celsius.
 
TB TETAP MISTERI
Abad demi abad berlalu, TB masih tetap misteri. Pada abad ke 17 TB dijuluki The Captain of all these men of death oleh John Bunyan (1628-1688), dalam bukunya, The life and death of Mr badman.

Tahun 1620 Franciscus Sylvius (1614-1682) seorang dokter dan ahli anatomi Belanda, menemukan bahwa terdapat semacam massa jaringan pada penderita “consumption’ (merupakan upaya tubuh untuk melokalisir kuman penyebab TB) yang kemudian disebut tubercle. Penyebab TB masih jauh dari diketahui.
Ada titik terang penyebab TB, ketika pada tahun 1720, Benjamin Marten (1690-1752), seorang dokter Inggris menduga bahwa TB disebabkan oleh mikroorganisma yang dapat menular dari satu orang ke orang lain. Ia mengatakan:
"it may be therefore very likely that by a habitual lying in the same bed with a consumptive patient, constantly eating and drinking with him, or by very frequently conversing so nearly as to draw in part of the breath he emits from the lungs, a consumption may be caught by a sound person...I imagine that slightly conversing with consumptive patients is seldom or never sufficient to catch the disease." (dikutip dari Wikipedia:Benjamin Marten)
Benjamin Marten mengawali teori “contagium vivum”. Ia menulis “The New Theory of Consumption”. Tulisan Benjamin Marten and his “New Theory of Consumptions” dimuat di Microbiological Reviews, September 1978, (Sekarang MMBR).
 
Sudah ada gambaran bahwa TB ditularkan melalui udara, tetapi jasad renik yang seperti apa yang menularkan penyakit, masih tersembunyi dalam misteri.
 
ROBERT KOCH: MENYIBAK MISTERI
4000 tahun setelah “Luxor” dan sekitar 150 tahun setelah Marten, Robert Koch, seorang dokter Jerman yang memperhatikan pendapat Marten, bahwa TB disebabkan oleh “wonderfully minute living creature” berhasil menemukan mikroorganisme penyebabnya, yang kemudian dinamakan “Mycobacterium tuberculosis”.
Inilah bakteri yang menyebabkan terjadinya “tubercle” pada pasien “consumptive” yang telah disebutkan oleh Sylvius sekitar 250 tahun sebelumnya. Perjalanan yang sungguh sulit dan panjang. Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri tahan asam, bukan jenis gram positif maupun gram negatif.  Hanya karena kepiawaian Koch maka Mycobacterium tuberculosis dapat dikeluarkan dari persembunyiannya. Ternyata "living organism" yang lembut tetapi bukanlah lelembut.
 
SANATORIUM
Pada masa Koch, industrialisasi mulai merebak di Eropa, kota-kota mulai tumbuh dan kepadatan di kota meningkat. Suatu hal yang memudahkan penyebaran TB paru.  Tempat dengan udara bersih seperti disarankan Hippocrates dan Celsius makin susah didapatkan. Para dokter mulai memikirkan sanatorium. Salah satunya adalah Hermann Brehmer, seorang dokter Jerman. Pada tahun 1863 ia mendirikan Brehmerschen Heilanstalt für Lungenkranke in di Gorbersdorf, Silesia (sekarang Polandia).
Sanatorium umumnya berlokasi di pegunungan, jauh dari pemukiman umum dan udaranya segar. Di sana penderita TB mendapatkan istirahat yang cukup dan makanan bergizi.
Diharapkan dengan istirahat cukup, gizi baik dan udara segar daya tahan tubuh penderita akan meningkat dan terjadi kesembuhan secara alami.
Disamping itu, memisahkan penderita TB dari populasi umum akan mengurangi risiko penularan. Perlu ingat bahwa pada masa itu obat TB belum ditemukan.
 
EPILOG
Bersyukurlah umat manusia yang hidup pada jaman sekarang. Obat Anti TB (OAT) tersedia di puskesmas dan gratis. Pengobatannya pun hanya 6 bulan. Mengapa tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya. Andaikan kita hidup pada era sanatorium, bila menderita TB paru, maka kita akan dikirim ke sana. Memang di sana dirawat baik-baik, diberi makan bergizi, tempatnya nyaman, temannya pun juga tidak sedikit. Boleh dibezoek keluarga dan teman tetapi tidak tahu kapan kita boleh pulang.

No comments:


Most Recent Post