Showing posts with label Batuk. Show all posts
Showing posts with label Batuk. Show all posts

Monday, March 4, 2013

MELACAK PERJALANAN MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS DALAM TUBUH MANUSIA (1)

Mycobacterium tuberculosis dalam jumlah sedikit sudah cukup untuk menimbulkan sakit. WHO Fact Sheet Oktober 2012 menyebutkan satu dari tiga penduduk dunia pernah terinfeksi TB dengan 10 persen diantaranya berpeluang untuk menjadi sakit.

Begitu hebatnya kuman yang satu ini kalau diabaikan keberadaannya. Tulisan ini melanjutkan posting Apa yang terjadi ketika seorang penderita TB Paru batuk.Semua dimulai dari batuk seorang penderita TB paru aktif.

Tidak hanya batuk, tetapi juga bersin, berbicara, berteriak, menyanyi termasuk tertawa. Melalui partikel airborne yang disebut droplet nuclei, tetes kasatmata berdiameter 1-5 mikron ini Mycobacterium tuberculosis numpang keluar.
 
SATU DROPLET BISA MEMUAT TIGA BAKTERI
 
Bakteri berbentuk batang dengan ukuran 0,3-0,6 kali 1-4 mikron (Wayne et al., 1984) ini memulai perjalanannya ke manusia lain, meneruskan tugas spesiesnya yang sudah berlangsung sejak ribuan tahun lalu. Droplet yang paling efektif (infektif) tentunya yang paling besar, yaitu diameter 5 mikron, bisa ditumpangi setidaknya 3 Mycobacterium. Berdesak-desakan tidak apa, yang penting keluar dulu.
 
Menurut Todar’s online textbook of bacteriology, dalam satu kali hentakan batuk kita bisa mengeluarkan 3000 droplet, sama banyaknya dengan droplet yang dikeluarkan selama bicara 5 menit. Jumlah droplet yang sama dikeluarkan oleh seorang penderita TB paru yang menyanyi selama 5 menit. Ditinjau dari jarak lontar, maka bersin adalah yang terjauh, sampai sekitar 3 meter.
 
Bisa dibayangkan bila seorang penderita TB Paru aktif batuk. Bila diambil rata-rata satu droplet memuat dua bakteri, maka dalam sekali batuk akan terlontar setidaknya 6000 bakteri yang siap mencari mangsa manusia yang ada disekitarnya. Merujuk ke Balasubramanian et al., 1994 satu droplet (yang berisi bakteri) sudah cukup untuk menginisiasi timbulnya lesi primer TB paru.
 
 
MELAYANG MENUJU ALVEOLI
 
Jules Verne menulis kisah fiksi perjalanan menembus kedalaman laut maupun perut bumi, mengapa kita tidak mencoba menulis kisah yang memang nyata bagaimana Mycobacterium tuberculoisis menembus paru-paru manusia. Pasti lebih seru, lebih-lebih bila ditulis oleh seorang story teller yang piawai.
 
Droplet nuclei dapat bertahan selama beberapa jam di udara terbuka bergantung kondisi lingkungan, sementara menurut beberapa kepustakaan, Mycobacterium tuberculosis bisa bertahan hidup 6-8 jam di kelembaban rendah.
 
Lama droplet berada di udara dan daya tahan hidup Mycobacterium tuberculosis di luar tubuh manusia sepertinya telah diatur supaya hampir sama. Dengan demikian selama droplet ada di udara, selama itu pula bakteri TB hidup. Tinggal menunggu siapa yang berada di dekat situ, dan ke arah mana angin membawa selama kurang-lebih 6 jam.

Bila kebetulan ada orang lain bernapas, mengisap droplet yang ditumpangi Mycobacterium tuberculosis maka proses infeksi pun dimulai.

Droplet besar akan mendarat di saluran napas bagian atas (rongga hidung dan tenggorokan). Tidak terjadi infeksi di tempat ini. Tetapi  droplet yang lebih kecil bisa langsung masuk ke paru-paru, menyusuri saluran pernapasan mulai dari trachea sampai akhirnya ke alveoli.

Alveoli adalah bagian paling terminal dari saluran pernapasan, berupa kantong, tempat paling banyak oksigen dan kebetulan bakteri TB ini sifatnya aerob (butuh oksigen). Di tempat ini lah infeksi TB paru dimulai.
 
Apa yang selanjutnya terjadi di alveoli dapat dibaca pada lanjutan tulisan ini: MELACAK PERJALANAN MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS DALAM TUBUH MANUSIA (2)
 
Rujukan bacaan:
 
Self-Study Modules on Tuberculosis (Modul 1)
Centers for Disease Control and Prevention, National Center for HIV/AIDS, Viral Hepatitis, STD, and TB Prevention Division of Tuberculosis Elimination, 2008
 
Avoiding Tuberculosis, The Health Academy, World Health Organization, 2004
 
Todar’s online textbook of bacteriology

Thursday, January 31, 2013

BARRIER PENGHALANG KESEMBUHAN TB PARU (1): FAKTOR INDIVIDU DAN MASYARAKAT

Melanjutkan tulisan Penderita TB Paru: Perjalanan Dari batuk sampai sembuh, bila kita berpegang pada A Guide to Developing Knowledge, Attitude and Practice Surveys: Annex A, Cough to Cure Pathway (WHO, 2008), maka barrier penghalang kesembuhan penderita TB paru dapat kita pilah menjadi dua faktor utama:
 
Pertama adalah dari sisi individu dan masyarakat sedangkan yang kedua terdapat pada “sistem kesehatan”. Keduanya bisa terjadi pada semua simpul (mulai penderita mencari pengobatan sampai sembuh) yang telah dijelaskan pada tulisan sebelum ini.
 
 
FAKTOR INDIVIDU
 
Seorang yang batuk lebih dari dua minggu belum tentu pergi ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Hal ini terutama disebabkan rendahnya tingkat pengetahuan tentang gejala-gejala TB Paru, ketidak-tahuan tentang adanya pengobatan TB Paru yang berkualitas dan tuntas atau menganggap batuk-batuk yang dia derita adalah batuk-batuk biasa sehingga tidak ada risiko yang membahayakan bagi dirinya maupun bagi orang lain.
 
Ketika ia akhirnya pergi untuk mencari pengobatan, maka yang pertama muncul dalam pertimbangannya adalah faktor biaya. Biaya menuju tempat pelayanan, biaya pelayanan itu sendiri dan waktu yang terbuang dikaitkan dengan economic loss akibat ia pergi ke sana. Ketika keputusan untuk berobat sudah bulat, ia bisa saja pergi ke tempat lain yang tidak memberikan pelayanan pengobatan dengan strategi DOTS. Semua puskesmas boleh dikatakan telah memberikan pelayanan DOTS. Tetapi sarana kesehatan yang lain, seperti rumah sakit, balai pengobatan dan dokter praktek swasta belum semuanya memberikan pelayanan dengan DOTS. Kembali faktor ketidak-tahuan berperan disini, dalam kaitan dengan “health seeking behavior”.
 
Akhirnya ia sampai juga ke fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan DOTS. Karena rendahnya pengetahuan bahwa untuk pengobatan TB Paru diagnosanya harus pasti dan dibuktikan melalui pemeriksaan dahak yang dilakukan tiga kali, maka bisa terjadi ia tidak menyelesaikan proses diagnosanya, ia bisa tidak kembali padahal hasil pemeriksaan dahaknya positif ditemukan Mycobacterium tuberculosis. Harapannya adalah datang langsung dapat obat dan langsung sembuh.
 
Seandainya pasien kita ini patuh pada prosedur diagnosa maka setelah mendapatkan diagnosa positif TB Paru, ia akan mendapatkan pengobatan. Disini tantangan menjadi semakin besar. Ia harus berobat teratur selama sedikitnya 6 bulan sebelum dinyatakan sembuh yang dibuktikan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Ia merasa sudah baikan kemudian menghentikan pengobatan sebelum waktunya, atau ia bosan berobat karena terlalu lama, bisa juga ia mendengar bahwa nun disana ada yang bisa menyembuhkan dalam tempo singkat tanpa obat. Ia tidak tahu bahwa Obat Anti TB (OAT) menjanjikan kesembuhan tetapi perlu waktu. Demikian pula ia tidak tahu satu-satunya harapan untuk menyembuhkan TB ya hanya OAT yang diberikan dengan secara DOTS (Direct Observed Trearment Short Couse). Short Course untuk TB adalah 6 bulan, bukan 6 hari.
 
 
FAKTOR MASYARAKAT
 
Bila tingkat pengetahuan masyarakat sama rendahnya dengan penderita, maka nasib penderita amat menyedihkan. Tidak ada keluarga maupun warga sekitar yang mengingatkan dan menyarankan untuk periksa ke Puskesmas.
 
Bila masyarakat beranggapan bahwa batuk darah adalah akibat guna-guna maka penderita bisa salah langkah dalam mencari pengobatan.
 
Paling menyedihkan kalau masih ada masyarakat yang beranggapan bahwa TB paru adalah akibat kutukan. Terjadilah stigma dan penderita dikucilkan dengan akibat semakin tidak sembuh, atau penderita yang batuk darah akan menyembunyikan penyakitnya dan enggan pergi ke Puskesmas.
 
 
 
KESIMPULAN

Dapat kita lihat bahwa ditinjau dari sisi individu dan masyarakat, peran dari “ketidak-tahuan” amat besar. Contoh di atas adalah gambaran apabila tidak ada intervensi samasekali dari “sistem kesehatan”.
 
Mengubah perilaku masyarakat melalui penyuluhan kesehatan, sosialisasi dan mobilisasi sosial menjadi amat penting dan merupakan tanggung-jawab dari sistem kesehatan.
 
Hanya sistem kesehatan yang kuat dan didukung oleh peranserta aktif masyarakat yang mampu mengubah perilaku masyarakat. Dengan sistem kesehatan yang kuat kita akan mampu mencapai universal access.
 

Tuesday, January 29, 2013

PENDERITA TB PARU: PERJALANAN DARI BATUK SAMPAI SEMBUH


Melanjutkan tulisan: Apa yang terjadibila penderita TB paru batuk, menurut  Global Tuberculosis Report, WHO 2012, upaya pengendalian TB global sudah menunjukkan hasil yang bermakna, yaitu Rate kasus baru sudah menurun sampai 2,2 % pada periode 2011-2012 dan angka kematian akibat TB sudah turun 41 % dibandingkan tahun 1990, yang berarti dunia sudah on track dalam mencapai sasaran MDGs.
 
Walau demikian beban TB global masih berat. Estimasi jumlah penderita TB baru pada tahun 2011 adalah 8,7 juta, dimana 13 % diantaranya ko-infeksi dengan HIV. Demikian pula masih terdapat kurang-lebih 1,4 juta orang meninggal akibat TB.
 
Kita bayangkan seandainya 8,7 juta orang tersebut belum diobati dan batuk bersama-sama dalam keramaian metropolis di Jakarta, berapa orang yang akan ketularan. Oleh sebab itu, jangan abaikan batuk, apalagi kalau batuk berlanjut sampai lebih dari dua minggu.
 
 
FROM COUGH TO CURE
 
Bila kita membaca publikasi WHO (2008): A Guide to Developing Knowledge, Attitude and Practice Surveys, dapat kita baca pada Annex: A, Cough to Cure Pathway yang menggambarkan alur ideal perilaku seorang penderita TB paru sejak batuk sampai sembuh dan barrier yang mungkin menghalangi proses kesembuhan penderita tersebut.
 
Kita akan temukan simpul-simpul perhentian dalam alur tersebut sekaligus dapat melakukan analisis penyebabnya dan menentukan intervensi apa yang paling pas sehingga hambatan-hambatan tersebut dapat dilewati dengan aman dan lancar.
 
Bila kita bandingkan dengan 8 simpul yang perlu mendapat perhatian dalam pencapaian Universal Access, maka pada Cough to Cure Pathway ini kita lebih melihat dari sisi penderita, sedangkan 8 simpul yang terkait dengan Universal Access lebih banyak hubungannya dengan manajemen program. Tujuan akhirnya semua sama: Menyembuhkan yang harus diobati.
 
From Cough to Cure Pathway dapat digambarkan sebagai berikut:
 
 
Dengan demikian terdapat 6 simpul yang perlu mendapat perhatian sehingga penderita TB tidak salah arah, yaitu pada saat:

1.    Penderita dengan batuk mencari pengobatan

2.    sampai ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang memberikan pelayanan dengan strategi DOTS

3.    Menegakkan diagnosa dengan pemeriksaan dahak

4.    Memulai pengobatan

5.    Melanjutkan pengobatan dan Follow-up pengobatan

6.    Sembuh

 
KESIMPULAN

Intinya adalah “Health Education”, berangkat dari Health Seeking Behavior tetapi tidak boleh berhenti saat penderita sampai di pintu pelayanan DOTS. Harus terus dibimbing, diarahkan dan di awasi sampai keluar dari pintu DOTS dengan ucapan selamat bahwa penderita telah sembuh. Barrier yang menghalangi perjalanan penderita harus disingkirkan sehingga tidak ada hal-hal yang menghambat perjalanan menuju sembuh tersebut. Sudah saatnya TB lengser dari percaturan dunia penyakit di bumi ini
 

Sunday, January 27, 2013

APA YANG TERJADI KETIKA SEORANG PENDERITA TB PARU BATUK?


Batuk adalah cara tubuh merespons adanya sesuatu yang menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan, melalui refleks yang mekanismenya cukup canggih. Penjelasannya dapat dibaca pada posting Batuk: Gejala penyakit yang banyak diabaikan. Yang jadi masalah kalau yang batuk adalah penderita TB Paru, karena dapat menular ke orang lain.
 

 Akibat adanya peradangan di jaringan paru dan saluran pernapasan, tubuh akan bereaksi untuk mengeluarkan partikel yang menimbulkan peradangan tersebut. Cara termudah adalah melalui “batuk” yang telah diatur oleh mekanisme refleks. Itulah sebabnya mengapa penderita TB paru pada umumnya mengalami batuk-batuk. Tidak hanya satu dua hari tetapi berkepanjangan. Oleh sebab itu bila kita batuk lebih dari dua minggu, pikirkan salah satu penyebabnya adalah TB paru.
 
Bila kerusakan jaringan paru berlanjut maka yang terjadi tidak hanya batuk saja tetapi batuk dengan dahak bercampur darah. Gejala batuk umumnya disertai demam dan keringat pada malam hari, demikian pula nafsu makan berkurang dan berat badan turun. Lama-kelamaan tubuh makin lemah dan bisa meninggal kalau tidak segera diobati.
 
 
TIDAK HANYA MEMBAHAYAKAN DIRI SENDIRI TETAPI JUGA ORANG LAIN
 
Mycobacterium tuberculosis terlontar keluar, melalui partikel airborne yang disebut droplet nuclei dengan diameter 1-5 mikron. Hal ini terjadi bila penderita TB paru batuk, bersin, berteriak, menyanyi maupun tertawa.
 
Bila batuk sendirian dimana tidak ada orang lain tentunya tidak ada masalah. Tetapi bila ada orang lain di dekatnya, maka ada peluang orang lain tersebut akan tertular.

Mycobacterium tuberculosis dalam jumlah sedikit sudah cukup untuk menimbulkan sakit. WHO Fact Sheet Oktober 2012 menyebutkan satu dari tiga penduduk dunia pernah terinfeksi TB dengan 10 persen diantaranya berpeluang untuk menjadi sakit.
 
Gambar di atas adalah animasi penularan TB paru dari http://www.doh.state.fl.us/disease_ctrl/tb/Introduction/TB%20Intro.html
 
 
PERJALANAN MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS

Di atas telah disebutkan bahwa Mycobacterium tuberculosis dibawa oleh droplet nuclei dan ditularkan melalui udara. Selanjutnya memasuki tubuh manusia melalui mulut atau hidung, masuk ke saluran pernapasan bagian atas, bronchus, bronchioli dan akhirnya sampai ke alveoli paru. Lahirlah penderita TB baru.

 
Demikian seterusnya bila rantai penularan tidak diputus. TB yang sudah ada sejak jaman purbakala  akan terus melakukan rutinitas sama, mengganggu ketenteraman hidup manusia pada abad modern di bumi ini.
 
 
KESIMPULAN

Visi global pengendalian TB adalah A World Free of TB: Pada tahun 2050 TB sudah harus di eliminasi sehingga tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat (< 1 penderita per 1 juta populasi).
 
Sukses sebenarnya sudah di ambang pintu. Kesakitan dan kematian di dunia sudah menurun. Bahkan Indonesia sudah berhasil mencapai target MDGs 2015 yaitu menurunkan prevalensi dan kematian akibat TB sebesar 50% dibandingkan tahun 1990. Tetapi kita tidak boleh terlena. Dua tantangan utama yang harus kita hadapi adalah TB resisten obat dan TB HIV yang semuanya berasal mula dari “batuk” akibat penderita dan petugas kesehatan tidak waspada.


Semua bermula dari “batuk”. Oleh sebab itu perilaku seseorang yang “batuk” dalam kaitan dengan upaya untuk menyembuhkan batuknya perlu mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh: Mulai dari batuk, upaya untuk berobat, apakah ke fasilitas pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan DOTS, apakah ia menyelesaikan proses diagnosa pasti untuk TB, kemudian memulai pengobatan sampai menyelesaikan pengobatannya dengan hasil “sembuh”.

Dilanjutkan ke Penderita TB Paru: Perjalanan dari batuk sampai sembuh

Wednesday, January 2, 2013

BATUK-BATUK BANYAK (B3) JANGAN-JANGAN BUKAN BATUK BIASA (B3)

Telah dijelaskan pada tulisan Batuk: Gejala penyakit yang banyak diabaikan bahwa batuk adalah refleks untuk menyingkirkan “sesuatu” yang mengiritasi saluran pernapasan mulai dari yang paling atas sampai paling ujung di alveoli paru. Harus disyukuri bahwa Allah mengaruniai kita “refleks batuk” sebagai suatu mekanisme pertahanan diri sekaligus sebagai “early warning” bahwa ada “something wrong” dalam saluran pernapasan kita
 
Batuk akibat Flu sebenarnya dapat sembuh sendiri dalam beberapa hari melalui mekanisme pertahanan alami tubuh manusia, sepanjang kita cukup istirahat dan makan menu yang bergizi. Masalah mulai timbul ketika batuk berkepanjangan sampai tiga minggu atau lebih. Dalam hal ini manusia sebagai makhluk yang dikaruniai “akal” seharusnya berpikir: “Ada apa dengan paru-paru saya? Jangan-jangan B3 (Batuk-batuk banyak) saya ternyata B3 (Bukan Batuk Biasa). Salah satu yang harus dipikirkan adalah kemungkinan kita terkena TB Paru.
 
 
MENGAPA KITA TIDAK MAU MEMIKIRKAN “JANGAN-JANGAN TB PARU”
 
Ada beberapa alasan dalam hal ini, antara lain:

1.   Memang tidak tahu kalau batuk kronis adalah salah satu gejala TB paru sehingga dibiarkan berlanjut dan berlalu tanpa perhatian.

2.   Adanya salah informasi yang menekankan bahwa gejala TB Paru adalah batuk dengan dahak bercampur darah sehingga rumusnya menjadi “Tidak ada darah berarti tidak ada TB”. Sebagai ilustrasi, awal tugas saya pada tahun 1978 adalah di Puskesmas Sulamadaha, Kecamatan Pulau Ternate. Dalam bahasa daerah setempat, batuk disebut “hokehe”, “darah” dikatakan “au” dan “tidak” adalah “ua”. Batuk darah dalam bahasa sehari-hari dikatakan “hokehe au”. Maka hari-hari terjadilah dialog antara Pak Mantri dengan pasien. Hokehe? Hokehe! Au? Ua! Ua au? Ua! Hanya dengan tiga kata: “Hokehe, au dan ua” maka kita bisa menetapkan seorang pasien mendapat injeksi Streptomisin dan tablet INH. Tapi ini adalah ceritera lebih dari 30 tahun yang lalu.

3.   Tidak ingin didiagnosa TB paru. Manusia memang aneh. Mereka bisa bangga kalau didiagnosa kholesterol atau kencing manis. Tetapi jangan TB Paru, rasanya seperti diberi label kena penyakit kalangan bawah yang merendahkan status sosialnya. Dalam hal ini mereka menggunakan rumus lebih baik tidak tahu daripada ketahuan.

 
PIKIRKAN TB PARU KALAU ADA GEJALA SEPERTI INI
 
TB paru adalah penyakit yang dapat disembuhkan tuntas. Semakin dini ditemukan semakin baik proses penyembuhannya. Semakin lambat ditemukan, walau masih tetap dapat disembuhkan, tetapi risikonya akan sama dengan apa saja yang terlambat: berakhir dengan penyesalan bahwa :nasi sudah terlanjur menjadi bubur”.
 
Oleh sebab itu curigailah TB Paru apabila ada gejala-gejala sebagai berikut:
 
1.    Batuk lebih dari 3 minggu
2.    Dada sakit
3.    Dahak bercampur darah
4.    Merasa lemah, cepat lelah
5.    Nafsu makan berkurang, berat badan turun
6.    Demam dan berkeringat pada malam hari.

ini dapat digunakan sebagai acuan untuk menjelaskan gejala TB Paru secara sederhana.
 
Kata kuncinya adalah “batuk lebih dari tiga minggu”. Jangan tunggu sampai terjadi batuk dengan dahak bercampur darah karena berarti sudah terjadi kerusakan jaringan paru. Langsung saja ke Puskesmas terdekat. Hampir semua Puskesmas di Indonesia mampu melakukan diagnosa TB dengan baik dan menyediakan obat cuma-cuma dengan metode DOTS (Directly Observed Treatment Short Course)
 
 
KESIMPULAN
 
WHO Global Tuberculosis Report 2012, menyatakan bahwa pada tahun 2012, dunia telah berhasil menemukan 5,8 juta kasus TB baru, yang merupakan 2/3 dari estimasi penderita TB yang diperkirakan mencapai 8,7 juta di seluruh indonesia.
 
Dengan semakin mantapnya pelaksanaan pengobatan TB Paru dengan strategi DOTS sejak 1995 Indonesia saat ini telah berhasil mencapai target MDGs 2015 untuk pengendalian TB: Penemuan sudah di atas 70% dan keberhasilan penyembuhan melampaui 80%. Masalah sekarang adalah menemukan yang belum ditemukan dan menyembuhkan yang belum disembuhkan dalam upaya kita menuntaskan masalah TB khususnya TB Paru di Indonesia.
 
Pemahaman dengan benar gejala-gejala yang mengarah ke TB Paru disertai kesadaran untuk memeriksaan kesehatan akan memberikan kontribusi tinggi dalam upaya pengendalian TB paru. Marilah kita bersama-sama berangkat dari rumusan kata yang amat sederhana: B3 jangan-jangan B3. (IwMM)

Sunday, December 2, 2012

BATUK ITU MENJENGKELKAN: DIRI SENDIRI DAN ORANG LAIN

Lanjutan dari  Batuk: Gejala penyakit yang banyak diabaikan

Pernahkah mengamati penceramah yang terbatuk-batuk di mimbar? Mungkin tidak terlalu aneh, kalau amat jarang yang punya waktu untuk menyampaikan kata-kata semacam “mohon maaf atas ketidak-nyamanan yang saya buat”. 
 
Barangkali kita perlu mencontoh pembicara asing, kalau ia batuk, bersin, tersedak atau "something like that" hampir semuanya mengatakan “excuse me”. Mungkin saja hal ini merupakan kebiasaan sejak dia kecil atau memang benar-benar “from the bottom of his heart” bahwa ia benar-benar merasa membuat orang lain risih.
 
 
DIRI SENDIRI JENGKEL DAN HILANG AKAL SEHAT
 
Pernah saya bertamu ke rumah teman, diterima di teras karena dia “heavy smoker”. Sesuatu yang lucu membuat ia tertawa terbahak-bahak padahal pas rokok sedang dia isap. Terbatuklah dia dan tidak mau berhenti. Seekor cicak kecil di plafon teras rupanya ikut kaget, cicak pun jatuh. Hal ini membuat teman saya marah. Sebelum cicak sadar untuk merayap ke pojok, berhasil ditangkap teman saya tadi dan ditelan bulat-bulat. Ajaib ..... batuk pun berhenti. Batuk bisa membuat orang jadi temperamental.

Batuk juga bisa membuat orang kehilangan akal. Ada di koran (sudah lama) yang saya baca di mobil, seseorang saking kebingungannya dengan batuk yang tidak mau sembuh, dia pergi ke dukun. Diagnosa bergeser ke kurang darah dan terapinya rada-rada masuk akal juga. barangkali zat besi dianggap kurang kuat maka pak dukun memberikan zat “baja”. Orang tersebut diberi “gotri sepeda” untuk ditelan.
 
 
ORANG LAIN JUGA JENGKEL
 
Poster Batuk CDC
Bayangkan kita sedang naik kendaraan umum kemudian ada orang terbatuk-batuk disitu pasti rasanya kita ingin cepat-cepat angkat pantat, turun. Itu kalau yang kita naiki bis atau KRL. Kita bisa minta turun pada pemberhentian berikut. Tetapi kalau pesawat terbang? Atau yang lebih sederhana, kita sedang antri di KFC lalu orang di depan atau belakang kita terbatuk-batuk. Orang yang tidak ngerti bahwa batuk bisa menularkan penyakit pun bisa jijik mendengar suara batuk. Tidak ada batuk yang merdu. Semua jenis batuk merusak selera. Selera apa saja.
 
Sebenarnya etiket batuk sudah gencar promosinya lebih-lebih pada waktu jaman pandemi Flu tahun 2009. Misalnya: Kalau batuk jangan di dekat orang lain, mulut dan hidung ditutup dengan tissue, kalau tidak ada tissue ditutup lengan baju, tissue dibuang pada tempat semestinya, tangan dicuci pakai air dan sabun, dll.
 
Di bawah adalah rekaman Youtube tentang orang batuk yang membuat orang lain tidak nyaman. Lucu, tetapi mohon maaf karena bagian paling akhir ditutup dengan iklan obat batuk.
 
 
 
EPILOG
 
Bila batuk membuat kita naik darah dan kita masih punya tepa selira, atau membuat kita bingung dan kehilangan akal sehat, mengapa kita tidak segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat: Puskesmas. Siapa tahu ada kuman TB dalam paru paru kita.

Kalau setelah diperiksa ternyata kita kena TB Paru, tidak perlu stress. Minum paket obat TB cuma-cuma yang merupakan FDC (Fixed Dosed Combination) dengan metoda DOTS selama 6 atau mungkin diperpanjang sedikit sampai 8 bulan. Dijamin tidak akan jadi penaik darah lagi dan tidak membuat orang lain tertular maupun kehilangan kenyamanan. (IwMM)

BATUK: GEJALA PENYAKIT YANG BANYAK DIABAIKAN

Pada tulisan “Good News: Tuberkulosis paru dapat dicegah,  dapat disembuhkan” disebutkan bahwa “batuk” adalah gejala khas TB Paru; walau demikian bukan berarti semua orang yang batuk adalah TB. Banyak sekali gangguan dalam tubuh disertai batuk. Misalnya: Influenza. Demikian pula kalau dipersempit, bahwa khasnya batuk TB adalah kronis, memang begitulah adanya. Tetapi kondisi lain dengan batuk kronis selain TB Paru masih banyak. Seorang perokok akan mengalami batuk-batuk kronis, demikian pula penderita kanker paru.
 
Batuk hanyalah gejala penyakit yang menjadi salah kaprah dianggap penyakit: “sakit batuk.” Jaman dulu, “Mantri tua” di Puskesmas saya dalam menyampaikan penyuluhan di kampung sering mengatakan: “Batuk adalah tanda kehidupan. Tidak dengar batuk jangan-jangan orangnya sudah mati. Tetapi jangan lupa bahwa batuk juga gejala kematian. Kalau dibiarkan saja, lama-lama mati betul.”  Alhasil habis penyuluhan hampir semua orang minta periksa dan tentusaja ..... suntik. Ini ceritera tahun 1970an akhir, hanya untuk menunjukkan bahwa banyak orang mengabaikan yang satu ini: “Batuk”. Mereka anggap B3: Batuk Barang Biasa.
 
 
MENGAPA KITA BATUK?
 
Batuk adalah cara tubuh merespons adanya sesuatu yang menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan kita. Mekanismenya cukup canggih:  Iritasi menstimulir ujung syaraf di saluran pernapasan yang secara otomatis langsung melaporkan ke pusat, yaitu Otak. Segera otak memerintahkan otot-otot perut dan diafragma agar mengerahkan tenaga, sekuatnya memberikan dorongan pada paru-paru, sehingga melalui udara yang ada di paru-paru zat-zat iritan tersebut dapat didorong keluar bersama batuk.
 
Mekanismenya dapat dilihat pada gambar di bawah:

Tahapan batuk
 
(1) Ada sesuatu yang mengganggu saluran pernapasan; selanjutnya melalui mekanisme persyarafan (2) Menarik napas, guna mengisi paru-paru dengan udara (3) Kompresi dengan bantuan otot-otot dada dan diafragma, dan (4) Batuk: Mendorong zat-zat “iritan” melalui udara yang terkompresi di paru-paru.
 
 
JANGAN ABAIKAN BATUK
 
Batuk memang mekanisme yang baik untuk mengeluarkan zat-zat pengganggu. Tetapi “Refleks batuk” saja sering tidak cukup untuk menyelamatkan diri kita. Lihat-lihat dulu penyebabnya apa.
 
Ada beberapa hal-hal yang menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan tersebut:

1.    Adanya zat-zat yang menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan: Misalnya asap rokok, polusi udara, uap terpentin, bahkan juga parfum, spray penyegar ruangan dll.

2.    Adanya zat-zat yang menimbulkan alergi: Misalnya debu, serbuk sari tanaman, bulu binatang, dll.

3.    Pengaruh obat: Ada obat tertentu untuk penderita darah tinggi, migrain dan glaukoma yang mempunyai efek samping “batuk”

4.    Kondisi medis: Infeksi saluran pernapasan baik akut maupun kronis akan disertai batuk. Demikian pula penderita asma dan kanker paru.

Pada  butir 1 dan 2 di atas, keberadaan batuk memang diperlukan. Batuk akan membantu melancarkan jalan napas sekaligus membuang zat-zat yang mengganggu dan mencegah timbulnya infeksi. Sedangkan pada butir 3 bagaimanapun harus diterima karena memang merupakan efek samping dari pengobatan suatu penyakit yang kalau tidak diobati maka penyakitnya akan lebih buruk. Dalam hal ini gejala batuk bisa diatasi dengan obat-obat batuk sesuai petunjuk dokter.
 
Yang perlu diperhatikan adalah butir 4, khususnya apabila batuknya disebabkan infeksi saluran pernapasan baik akut maupun kronis, karena melalui refleks batuk, bibit penyakit, bakteri atau juga virus, akan ikut terlontar keluar dan bisa menulari orang yang berdekatan.
 
 
EPILOG
 
Banyak orang menganggap batuk adalah hal sepele apalagi di negeri yang banyak perokok dan polusi. Padahal dibalik batuk, ada malapetaka mengintip. Contohnya TB Paru. Bila dibiarkan, tidak hanya diri sendiri yang sengsara tetapi juga membahayakan orang lain. Penularan TB adalah langsung dari manusia ke manusia melalui kuman TB (Mycobacterium tuberculosis) yang terbang bersama batuk.
 
Droplet tersembur
Batuk bersama bersin dan semua perilaku yang menyemprotkan “droplet” ke udara, misalnya berbicara, menyanyi dan kata Jack Handey: "tertawa" adalah perilaku kunci penularan TB Paru.

Penyuluhan kesehatan yang banyak diarahkan kepada “kesehatan masyarakat”, misalnya “TB dapat menulari orang lain” dan “turunnya produktifitas suatu bangsa”, pada jaman manusia semakin individualis ini, perlu lah diingatkan kembali bahwa TB juga membahayakan diri sendiri, TB membuat orang mati pelan-pelan. Adalah kenyataan bahwa batuk sebulan tidak pernah dipersoalkan tetapi batuk sehari campur darah (walaupun yang keluar adalah darah merah segar akibat batuk terlalu dipaksakan) orang sudah bingung setengah mati. Kembali ke laptop: Batuk adalah gejala penyakit yang banyak diabaikan.

Rujukan Bacaa
http://www.mayoclinic.com/health/cough/MY00108
http://treatment-zone.blogspot.com/2011/12/cough-definition-and-mechanisms.html
http://www.nhlbi.nih.gov/health/health-topics/topics/cough/ 


Most Recent Post