Showing posts with label Resistensi. Show all posts
Showing posts with label Resistensi. Show all posts

Thursday, September 19, 2013

TUBERKULOSIS RESISTEN (KEBAL) OBAT: APAKAH DAPAT DICEGAH, DIOBATI DAN DISEMBUHKAN

Perjuangan manusia melawan TB sudah amat lama. Sebutan Tuberkulosis dari masa ke masa yang berbeda-beda, menunjukkan respons manusia dalam mengatasi TB. Bahkan Tuberkulosis pernah dijuluki “The captain of all these men of death” Tuberkulosis masih tetap mengganggu umat manusia sampai sekarang.  Dapat dibaca di Tuberkulosis: Penyakit Purba di Era Global (1) dan lanjutannya.
 
Penemuan Mycobacterium tuberculosis oleh Robert Koch pada tahun 1882 tidak segera disusul dengan penemuan obatnya. Antibiotik pertama untuk TB (Streptomycin) baru ditemukan pada tahun 1944. Obat lini pertama TB yang digunakan dalam DOTS usianya juga sudah cukup tua. Sebenarnya dapat diterima akal kalau terjadi resistensi kemudian timbul  Multi-Drug Resistent TB (MDR-TB) dan Extensively Drug resistant TB (XDR-TB). Penelitian untuk obat baru TB termasuk vaksin TB sampai sekarang terus dilakukan.
 
Tiga pertanyaan abadi umat manusia terhadap penyakit adalah: Apakah dapat dicegah, apakah dapat diobati, dan kalau diobati apakah bisa sembuh?
 
 
APAKAH MDR/XDR-TB DAPAT DICEGAH?
 
Sepanjang kita tahu cara penularan dan faktor risikonya, semua penyakit dapat dicegah, termasuk TB Kebal Obat yang dapat dibaca pada tulisan terdahulu,  TUBERKULOSIS RESISTEN (KEBAL) OBAT: BAGAIMANA PENULARANNYA DAN SIAPA YANG BERISIKO TERTULAR.
 
Pencegahan adalah tindakan paling bijaksana yang dapat kita lakukan.
 
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah fondasi pencegahan penyakit. Misalnya olahraga, makanan bergizi, tidak merokok, rumah sehat yang cukup ventilasi dan pencahayaan, dll akan meningkatkan daya tahan tubuh kita. Demikian pula perilaku tidak etis seperti meludah sebarang tempat dan batuk tanpa menutupi mulut harus dihindari.
 
Seorang penderita TB harus patuh mengikuti petunjuk petugas kesehatan: Minum obat teratur dan jangan berhenti sebelum waktunya. Jangan sampai putus obat. Kalau akan bepergian agak lama pastikan kita punya bekal obat yang cukup selama perjalanan.
 
Hindari kontak dekat (bukan diskriminasi) dalam jangka waktu lama dengan penderita MDR/XDR-TB, baik di keramaian maupun di tempat tertutup (misal: Rumah sakit dan Lembaga Pemasyarakatan termasuk Rumah Tahanan). Tindakan Dalin (Pengendalian Infeksi, Infection Control) harus dilaksanakan di tempat-tempat tersebut. Penggunaan masker oleh penderita dan petugas yang melayani perlu dilakukan).
 
Peran petugas kesehatan dalam hal ini amat besar. Diagnosa harus cepat ditegakkan. Dengan demikian penderita akan lebih cepat minum obat, peluang sembuh lebih besar dan peluang menularkan ke orang lain akan lebih kecil. Petugas Kesehatan juga harus mematuhi prosedur pengobatan, memastikan penderita minum obat dengan benar dan melakukan pengawasan pengobatan secara langsung. Hal ini akan lebih menjamin kesembuhan penderita dan mengurangi risiko terjadinya TB Resisten Obat (MDR-TB: Multiple Drug Resistent TB; XDR-TB: Extensively Drug Resistent TB)
 
 
APAKAH ADA VAKSIN UNTUK MENCEGAH MDR/XDR-TB?
 
Kita mengenal vaksin BCG (Bacille Calmette-Guérin) untuk mencegah TB. Di banyak negara berkembang vaksin ini digunakan secara nasional dalam program imunisasi sebagai salah satu dari imunisasi dasar untuk anak-anak. BCG efektif untuk mencegah terjadinya TB berat pada anak, tetapi efektifitasnya untuk mencegah terjadinya TB (termasuk MDR/XDR-TB) masih diperdebatkan. Penelitian untuk vaksin baru masih terus dilakukan.
 
 
APAKAH MDR/XDR-TB DAPAT DIOBATI DAN DISEMBUHKAN?
 
MDR-TB ada obatnya (dibahas di tulisan lain) dan dapat pula  disembuhkan, demikian pula XDR-TB. Tetapi tidak cukup dengan strategi DOTS, harus DOTS-Plus yang berarti harus menggunakan obat lain yang tidak hanya jauh lebih mahal (kurang-lebih 100 kali lipat untuk MDR-TB, sedangkan untuk XDR-TB 2 kali lipat biaya pengobatan MDR-TB). Tidak hanya lebih mahal tetapi juga lebih toksis, efek samping lebih banyak, jangka waktu pengobatan jauh lebih lama (18-24 bulan) dibandingkan dengan pengobatan TB biasa yang hanya 6 bulan dengan strategi DOTS. Angka kesembuhannya pun lebih rendah dibandingkan TB biasa (Angka keberhasilan pengobatan di atas 90%).
 
Keberhasilan pengobatan bergantung berapa banyak obat yang resisten, beratnya penyakit, kepatuhan berobat dan daya tahan tubuh. Kepatuhan perlu digarisbawahi. Walaupun biaya pengobatan sudah dijamin pemerintah, tetapi jangka waktu pengobatan yang lama (18-24 bulan) ditambah efek samping obat yang cukup banyak merupakan tantangan berat. Oleh sebab itu dukungan petugas, keluarga dan masyarakat guna memberikan motivasi mutlak diperlukan.
 
BACAAN TERKAIT
 
 
DILANJUTKAN KE TB RESISTEN OBAT (MDR/XDR-TB): SEBERAPA BESARKAH MASALAHNYA? 
 
RUJUKAN BACAAN
 
Core Curriculum on Tuberculosis: What the Clinician Should Know, CDC, 2011

Sunday, September 15, 2013

TUBERKULOSIS RESISTEN (KEBAL) OBAT: BAGAIMANA PENULARANNYA DAN SIAPA YANG BERISIKO TERTULAR

Pada tulisan terdahulu TUBERKULOSIS RESISTEN (KEBAL) OBAT: APA DAN BAGAIMANA TERJADINYA telah dijelaskan bahwa Mycobacterium tuberculosis (Mtb) dapat bermutasi dalam tubuh seorang penderita yang tidak melaksanakan pengobatan sesuai prosedur. Sakit penderita akan bertambah parah karena obat yang digunakan tidak lagi mempan.
 
Masalah yang lebih berat adalah Mtb yang kebal obat tersebut dapat ditularkan ke orang lain. Bila hal ini dibiarkan akan menjadi beban bagi kesehatan masyarakat.
 
 
BILA MDR/XDR-TB DAPAT DITULARKAN, BAGAIMANA CARA PENULARANNYA?
 
Sama dengan cara penularan TB pada umumnya. Dari seseorang (Penderita MDR/XDR-TB) ke orang lain melalui udara apabila penderita tersebut batuk, bersin, bicara di dekat kita. Antara MDR/XDR-TB dan DST (Drug Susceptible TB = TB yang tidak resisten obat) tidak ada beda baik cara penularan maupun kecepatan penularannya. Masalahnya bila yang masuk adalah Bakteri TB yang kebal obat, apabila tidak cepat diketahui, penyakitnya akan cepat memburuk.
 
Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa terjadinya MDR/XDR-TB bisa melalui penularan (PRIMER) dari penderita TB Kebal Obat (MDR/XDR-TB), bisa pula tidak melalui penularan (SEKUNDER). Hal terakhir terjadi apabila Mycobacterium tuberculosis yang ada dalam tubuh kita bermutasi menjadi strain yang kebal obat akibat penderita tidak menggunakan obat secara betul.
 
Perlu menjadi perhatian bahwa penularan TB baik yang kebal obat (MDR/XDR-TB) maupun TB Aktif yang tidak kebal obat hanya melalui bakteri yang terlontar melalui batuk dsb dan dibawa udara. Bersalaman, makanan minuman, dll tidak menularkan TB (catatan: kecuali kalau waktu bersalaman berbarengan dengan batuk).
 
 
SIAPA YANG BERISIKO TERKENA MDR/XDR-TB?
 
Melihat cara terjadinya maka orang yang paling berisiko terkena MDR/XDR-TB antara lain orang-orang yang:
  • Menderita TB Aktif biasa (tidak kebal obat) yang tidak berobat secara teratur atau
  • Tidak menyelesaikan pengobatannya sesuai waktu yang ditentukan (6 bulan)
  • Pernah menderita TB pada masa lalu dan sembuh kemudian kambuh lagi (karena tertular)
  • Datang dari wilayah yang banyak penderita MDR/XDR-TB karena peluang terpapar Mtb lebih besar.
  • Kontak dekat cukup lama dengan penderita MDR/XDR-TB. Peluang tertular menjadi lebih besar dalam kondisi sosial-ekonomi yang tidak baik, misalnya: Hidup berdesak-desakan dalam rumah yang pengap, kurang ventilasi dan kurang cahaya matahari.
  • Orang dengan daya tahan tubuh yang lemah, misalnya: Orang dengan HIV AIDS.
DILANJUTKAN KE TUBERKULOSIS RESISTEN (KEBAL) OBAT: APAKAH DAPAT DICEGAH, DIOBATI DAN DISEMBUHKAN
 
RUJUKAN BACAAN
 
Core Curriculum on Tuberculosis: What the Clinician Should Know CDC, 2011

Thursday, September 12, 2013

TUBERKULOSIS RESISTEN (KEBAL) OBAT: APA DAN BAGAIMANA TERJADINYA

Ancaman terhadap kemajuan besar yang telah dicapai dalam pengendalian TB Global maupun Nasional selama dua dekade terakhir adalah munculnya Tuberkulosis yang kebal obat. Lazim disebut Multi-Drug Resistent Tuberculosis (MDR-TB) dan Extensively DrugResistent Tuberculosis (MDR-TB). WHO menetapkan hal ini sebagai tantangan besar yang harus diantisipasi sebagai bagian dari The Stop TB Strategy yang diluncurkan pada tahun 2006.
 
WHO menyelenggarakan Ministerial Meeting negara-negara yang termasuk dalam High Burden Country (terhadap MDR/XDR-TB) di Beijing, China, bulan April 2009. Indonesia termasuk negara yang hadir. Pertemuan tersebut mengantar resolusi WHA62.15 dalam World Health Assembly (WHA) ke 62 bulan Mei 2009: Supaya semua negara anggota segera mengambil langkah-langkah dalam mencapai universal access diagnosa dan pengobatan MDR/XDR-TB pada tahun 2015,
 
 
APAKAH MULTI DRUG RESISTENT TUBERCULOSIS (MDR-TB)?
 
MDR-TB (Multi-Drug Resistent TB) adalah penyakit tuberkulosis dimana Mycobacterium tuberculosis (Mtb) kebal terhadap dua macam obat lini-1, yaitu Isoniazid (INH) dan Rifampisin yang merupakan dua dari empat obat dalam pengobatan TB dewasa ini (Strategi DOTS).
 
Dalam hal ini dua OAT (Obat Anti TB)  yang saat ini lazim digunakan melalui strategi DOTS tidak mempan lagi untuk membunuh Mycobacterium tuberculosis (Mtb).
 
 
APAKAH EXTENSIVELY DRUG RESISTANT TUBERCULOSIS (XDR-TB)?
 
XDR-TB adalah bentuk yang lebih jarang dan lebih berat dari MDR-TB. Dalam hal ini Mycobacterium tuberculosis (Mtb) kebal terhadap dua obat Lini-1 INH dan Rifampisin plus fluoroquinolone dan sedikitnya satu dari tiga obat suntik lini ke dua (Amikacin, Kanamycin atau Capreomycin).
 
Mengingat XDR-TB kebal terhadap sebagian besar obat TB yang paling potent maka opsi untuk pengobatan penderita XDR-TB menjadi semakin terbatas. Penderita masih bisa sembuh dengan angka kesembuhan yang semakin kecil lagi, dan angka kematian lebih tinggi.
 
XDR-TB amat mengancam   orang-orang yang mengalami penurunan atau kelemahan sistem kekebalan tubuh pada umumnya, dan orang-orang dengan HIV AIDS pada khususnya. Mereka menjadi lebih mudah terkena TB (TB Latent menjadi aktif maupun tertular TB dan langsung menjadi TB Aktif). Peluang sakit lebih tinggi demikian pula peluang meninggal juga lebih tinggi.
 
 
APAKAH GEJALA MDR/XDR-TB?
 
Semua TB (Paru) gejalanya sama. Intinya adalah batuk kronis, berdahak (bisa campur darah), demam, menggigil, keringat malam, nafsu makan turun, berat badan turun.
 
Perbedaan dengan TB Aktif yang biasa,  terletak pada obatnya. Dalam hal ini MDR/XDR-TB tidak sembuh dengan pengobatan standar untuk TB biasa.

Dengan demikian kita perlu waspada: Bila menjumpai penderita positif TB (yang dibuktikan dengan pemeriksaan mikroskopis terhadap dahak) tetapi kondisi fisiknya tidak membaik dengan pengobatan standar yang berlaku (Strategi DOTS) perlu dipikirkan kemungkinan menderita MDR-TB atau bahkan XDR-TB.


BAGAIMANA MENGETAHUI (DIAGNOSA) TB KEBAL OBAT?

Guna mengetahui seseorang menderita TB kita harus menemukan Mucobacterium tuberculosis (Mtb) melalui pemeriksaan mikroskopis dahak (sputum) penderita yang kita perkirakan menderita TB. Pemeriksaannya sederhana, tidak sampai satu hari sudah bisa diketahui, hanya perlu diulang sampai tiga kali.

Tetapi untuk mengetahui apakah Mtb tersebut kebal obat atau tidak, bakteri harus dibiakkan dan dilakukan test di laboratorium khusus. Waktu yang dibutuhkan cukup lama, bisa 6-16 minggu khususnya untuk XDR-TB. Dewasa ini dengan perkembangan iptek, melalui metoda “Xpert MTB/RIF Assay” kita bisa menegakan diagnosa TB (menemukan bakteri) dan sekaligus mengetahui resistensi bakteri tersebut terhadap Rifampisin hanya dalam waktu dua jam.

Lamanya penegakan diagnosa dan memastikan obat yang sensitif kadang mengakibatkan penderita meninggal dalam masa tunggu diagnosa tegak. Mengenai hal ini penelitian terus dilakukan guna menemukan metoda percepatan diagnosa dan perpendekan masa pengobatan tanpa mengurangi kualitas diagnosa dan pengobatan.


BAGAIMANA TERJADINYA MDR-TB DAN XDR-TB?

Mengapa terjadi MDR/XDR-TB intinya adalah: Apabila penggunaan dan manajemen OAT (Obat Anti TB) tidak benar. MDR/XDR-TB terjadi karena “faktor manusia” dan dalam hal ini yang terkait adalah penderita dan petugas kesehatan, disamping tertular secara alamiah dari penderita MDR/XDR-TB

Ada dua hal yang menyebabkan terjadi TB Kebal Obat.

Pertama adalah penggunaan OAT (Obat Anti TB) yang tidak benar. Bisa karena faktor penderita yang tidak menyelesaikan pengobatan atau berobat tidak teratur, bisa karena faktor petugas yang tidak melakukan manajemen pengobatan dan obat dengan baik. Misalnya obat dibawah standar mutu, tidak melaksanakan pengobatan sesuai prosedur, suplai obat putus, tidak melakukan pengawasan pengobatan. OAT yang tidak digunakan sesuai petunjuk berakibat bakteri TB lama-lama menjadi kebal obat.

Kedua adalah tertular langsung dari batuk, bersin (dll) penderita MDR/XDR-TB. Bakteri yang kebal obat pada seseorang akan tetap kebal obat pada orang lain.

Dilanjutkan ke TUBERKULOSIS RESISTEN (KEBAL) OBAT: BAGAIMANA PENULARANNYA DAN SIAPA YANG BERISIKO TERTULAR

RUJUKAN BACAAN

http://www.cdc.gov/tb/topic/drtb/default.htm

http://www.cdc.gov/tb/publications/factsheets/drtb/mdrtb.htm
http://www.cdc.gov/tb/topic/drtb/xdrtb.htm
http://www.cdc.gov/tb/publications/factsheets/drtb/xdrtb.htm
Rapid implementation of the Xpert MTB/RIF diagnostic test: technical and operational „How-to‟; practical considerations. WHO, 2011
Core Curriculum on Tuberculosis: What the Clinician Should Know, CDC, 2011 

Wednesday, April 3, 2013

PENGENDALIAN TB: SUKSES TETAPI PERLU INOVASI BARU (2)

Menggarisbawahi posting Pengendalian TB: Sukses tetapi perlu inovasi baru (1) dapat kita tegaskan bahwa: Apabila pengendalian TB gagal, maka akan menghambat pencapaian sasaran MDG yang lain, yaitu pemberantasan kemiskinan dan penurunan angka kematian ibu/wanita. Bahkan pendidikan pun akan terhambat. Oleh sebab itu pengendalian TB harus sustain dan senantiasa mengembangkan inovasi-inovasi baru.
 
 
KETERBATASAN “TOOLS” PENGENDALIAN TB SAAT INI
 
Ada tiga hal utama yang perlu mendapatkan perhatian, ibarat mesin mobil, maka mesin mobil TB ini adalah mesin generasi tua yang walaupun masih bagus tetapi jalannya tentusaja kalah dibandingkan mesin baru dengan tehnologi baru. Kekhawatirannya adalah: Jangan-jangan kita kalah cepat berlari dengan bakteri TB itu sendiri yang bagaimanapun pasti berupaya supaya tetap bertahan hidup. Jangan lupa ia masih tetap survive sejak ribuan tahun yang lalu. Apa sajakah ke tiga hal tersebut?
 
 
1. DIAGNOSIS:
 
Diagnosis TB secara mikroskopis umurnya sudah lebih dari seratus tahun. Memang masih OK tetapi lambat. Demikian pula Error Rate bisa tinggi. Hanya mampu mendeteksi kurang-lebih 50% dari pasien yang diperiksa. Saat kita mulai mendiagnosa dengan cara ini, TB-HIV belum ada dalam angan-angan kita. Diagnosa mikroskopis kurang efektif untuk ODHA dengan TB. Demikian pula untuk mendiagnosa TB pada anak, mengingat mendapatkan dahak anak juga bukan barang mudah.
 
Saat ini sudah ada Rapid Test untuk mendiagnosa TB sekaligus MDR-TB walaupun belum pas untuk digunakan di Point of Care. Baru di sarana rujukan.
 
 
 
2. OBAT
 
Obat TB yang terakhir ditemukan usianya sudah 40 tahun, yaitu paduan empat obat dengan lama pengobatan 6 bulan. Untuk ukuran 10 tahun yang lalu waktu 6 bulan itu cepat. Tapi untuk ukuran sekarang, apa tidak bisa lebih cepat lagi? Semakin pendek lama pengobatan, ketaatan pasien pasti makin tinggi. Disamping pengobatan butuh waktu lama, obat tersebut juga mahal, angka kesembuhan relatif rendah dan toksik. Dengan beberapa ARV (obat HIV) pun inkompatibel, sehingga sulit menetapkan paduan yang pas untuk TB-HIV.
 
Obat baru terus diteliti, dan kemungkinan dapat diperkenalkan setelah tahun 2013.
 
 
 
3. VAKSIN
 
Vaksin BCG yang saat ini kita kenal, usianya juga sudah lebih dari 90 tahun. Dampaknya dalam penurunan epidemi TB tidak nampak, dan efektivitasnya dalam memberikan perlindungan diragukan.
 
Penelitian terus dilakukan, tetapi saat ini kandidat utama vaksin pengganti vaksin BCG yang ditemukan Calmette dan Guerin ini belum lolos uji klinis fase 3
 
 
 
TUNTUTAN PASIEN
 
Penelitian terus dilakukan. Titik terang untuk obat dan diagnosa sudah ada. Tetapi tuntutan pasien melalui perwakilan Communities Affected by TB pada konggres ke 43 IUATLD di Kualalumpur cukup berat:

1.    Zero TB Death dan TB Infection
 
2.    Menyediakan sarana diagnosis yang cepat dan tepat
 
3.    Menyediakan vaksin TB yang efektif secepatnya
 
4.    Mengurangi lama pengobatan dengan obat baru yang tidak toksik. Tidak tanggung-tanggung tuntutannya. Untuk TB yang masih sensitif dengan OAT lini pertama, supaya diupayakan sembuh dalam 4 bulan pada tahun 2015 dan di bawah 2 minggu pada tahun 2025. Sedangkan untuk TB resisten obat dari 24 bulan menjadi 9 bulan.

Bukan main dan bukan main-main. Kita harus memihak pasien, jadi inovasi untuk penelitian tentang hal ini harus benar-benar intensif.

Monday, April 1, 2013

PENGENDALIAN TB: SUKSES TETAPI PERLU INOVASI BARU (1)

Success Story dalam pengendalian TB di Indonesia cukup banyak. Bisa kita lihat bahwa sejak 1995 terdapat 800.000 orang telah diselamatkan dari kematian dan sebanyak 2,1 juta orang penderita TB berhasil disembuhkan. Angka kesembuhan terus meningkat, sehingga sejak tahun 2010 mencapai 87 persen (target global: 85%). Tidak heran bila sasaran MDG (Millennium Development Goals) tahun 2015 tercapai sebelum waktunya.
 
 
PENGHARGAAN
 
Penghargaan tingkat internasional pun banyak diterima. Diantaranya adalah dari Sekjen PBB, BAN Ki-moon yang disampaikan kepada pemerintah RI tanggal 7 Maret 2012 dan Champion Award for Exceptional Work in the Fight Against Tuberculosis dari USAID kepada Kementerian Kesehatan RI pada tanggal 20 Maret 2012. Intinya adalah:

1.    Keberhasilan mencapai MDG (untuk TB)
2.    Kepemimpinan dalam meningkatkan akses penderita TB dan membangun kemitraan
3.    Kepemimpinan dalam pengendalian TB

Perlu dicatat bahwa Indonesia adalah negara pertama yang memperoleh penghargaan dari USAID dalam pengendalian TB.
 
 
TANTANGAN KE DEPAN
 
Guna mencapai visi dunia yang bebas TB pada tahun 2050, walau saat ini kita telah berhasil mencapai sasaran milenium tahun 2015, bukannya semakin kecil. Justru menjadi semakin besar, bahkan kalau tidak diwaspadai dan diantisipasi dari sekarang, perjuangan keras yang dilakukan sejak pelaksanaan strategi DOTS pada tahun 2005 bisa menjadi sia-sia (Dapat dibaca di: Strategi melawan tuberculosis dengan DOTS (1) dan seterusnya.
 
Selain kolaborasi dua penyakit yaitu TB dan HIV yang satu sama lain saling memperberat, masih banyak tantangan-tantangan lain yang harus kita hadapi, misalnya:

1. Munculnya TB Resisten obat: MDR-TB (Resisten kepada obat lini-1 INH dan Rifampisin) dan lebih berbahaya lagi adalah XDR-TB (Resisten kepada obat lini-2 (Fluoroquinolone dan obat suntik). Seperti kita ketahui, untuk TB yang tidak resisten obat angka kesembuhannya 95%, yang resisten obat untuk MDR-TB masih bisa 50-70 %, itupun harus berobat selama hampir 2 tahun, sedangkan yang XDR-TB angka kesembuhan cuma 10-30 %.

2. Rokok terkait dengan TB. Seorang perokok rawan kena TB demikian pula kalau kena TB lebih susah sembuh. Padahal didunia ini dalam urusan merokok, orang Indonesia ranking 3. Satu dari empat orang Indonesia merokok. Demikian pula jumlah perokok wanita dan remaja meningkat. Dan yang menyedihkan 70 % perokok termasuk dalam katagori miskin.


3. TB terkait dengan kemiskinan. Orang miskin mudah kena TB dan kalau kena TB karena produktifitas menurun maka orang bisa jadi miskin. Jadilah lingkaran setan: TB dan kemiskinan. (Baca: Tuberkulosis dan kemiskinan).


4. TB terkait dengan Diabetes (kencing manis). Dengan makin tingginya umur harapan hidup manusia dan keberhasilan program pengendalian penyakit menular, maka proporsi dan jumlah penderita penyakit tidak menular meningkat. Salah satunya adalah diabetes mellitus (kencing manis). Antara kencing manis yang tidak menular dan TB yang menular, keduanya bekerjasama untuk melumpuhkan manusia. Dapat dibaca pada posting Tuberkulosis dan diabetes mellitus: Tantangan baru.


5. TB menduduki ranking 7 untuk penyebab kematian ibu dan ranking 1 untuk penyebab kematian tidak langsung akibat persalinan


TRANSFORMASI PROGRAM PENGENDALIAN TB

Melihat besarnya tantangan yang sudah kita ketahui saat ini, dengan kemungkinan munculnya tantangan baru yang lebih heboh , maka program pengendalian TB selalu mengalami transformasi. Tahun 2004 kita berupaya keras untuk menerapkan strategi DOTS secara lebih baik. Tahun 2007 kita menerapkan Stop TB Strategy yang lebih luas, maka pada tahun 2015 nanti kita harus memperbaiki strategi pengendalian TB dengan:

1. Memberikan pelayanan yang lebih inovatif dan berpihak kepada pasien
2. Kebijakan yang lebih berani dan didukung oleh sistem yang jelas
3. Intensifikasi dan inovasi penelitian


Mengapa harus lebih inovatif? Dapat dibaca pada posting selanjutnya PENGENDALIAN TB: SUKSES TETAPI PERLU INOVASI BARU (2)

Most Recent Post