Wednesday, January 2, 2013

BATUK-BATUK BANYAK (B3) JANGAN-JANGAN BUKAN BATUK BIASA (B3)

Telah dijelaskan pada tulisan Batuk: Gejala penyakit yang banyak diabaikan bahwa batuk adalah refleks untuk menyingkirkan “sesuatu” yang mengiritasi saluran pernapasan mulai dari yang paling atas sampai paling ujung di alveoli paru. Harus disyukuri bahwa Allah mengaruniai kita “refleks batuk” sebagai suatu mekanisme pertahanan diri sekaligus sebagai “early warning” bahwa ada “something wrong” dalam saluran pernapasan kita
 
Batuk akibat Flu sebenarnya dapat sembuh sendiri dalam beberapa hari melalui mekanisme pertahanan alami tubuh manusia, sepanjang kita cukup istirahat dan makan menu yang bergizi. Masalah mulai timbul ketika batuk berkepanjangan sampai tiga minggu atau lebih. Dalam hal ini manusia sebagai makhluk yang dikaruniai “akal” seharusnya berpikir: “Ada apa dengan paru-paru saya? Jangan-jangan B3 (Batuk-batuk banyak) saya ternyata B3 (Bukan Batuk Biasa). Salah satu yang harus dipikirkan adalah kemungkinan kita terkena TB Paru.
 
 
MENGAPA KITA TIDAK MAU MEMIKIRKAN “JANGAN-JANGAN TB PARU”
 
Ada beberapa alasan dalam hal ini, antara lain:

1.   Memang tidak tahu kalau batuk kronis adalah salah satu gejala TB paru sehingga dibiarkan berlanjut dan berlalu tanpa perhatian.

2.   Adanya salah informasi yang menekankan bahwa gejala TB Paru adalah batuk dengan dahak bercampur darah sehingga rumusnya menjadi “Tidak ada darah berarti tidak ada TB”. Sebagai ilustrasi, awal tugas saya pada tahun 1978 adalah di Puskesmas Sulamadaha, Kecamatan Pulau Ternate. Dalam bahasa daerah setempat, batuk disebut “hokehe”, “darah” dikatakan “au” dan “tidak” adalah “ua”. Batuk darah dalam bahasa sehari-hari dikatakan “hokehe au”. Maka hari-hari terjadilah dialog antara Pak Mantri dengan pasien. Hokehe? Hokehe! Au? Ua! Ua au? Ua! Hanya dengan tiga kata: “Hokehe, au dan ua” maka kita bisa menetapkan seorang pasien mendapat injeksi Streptomisin dan tablet INH. Tapi ini adalah ceritera lebih dari 30 tahun yang lalu.

3.   Tidak ingin didiagnosa TB paru. Manusia memang aneh. Mereka bisa bangga kalau didiagnosa kholesterol atau kencing manis. Tetapi jangan TB Paru, rasanya seperti diberi label kena penyakit kalangan bawah yang merendahkan status sosialnya. Dalam hal ini mereka menggunakan rumus lebih baik tidak tahu daripada ketahuan.

 
PIKIRKAN TB PARU KALAU ADA GEJALA SEPERTI INI
 
TB paru adalah penyakit yang dapat disembuhkan tuntas. Semakin dini ditemukan semakin baik proses penyembuhannya. Semakin lambat ditemukan, walau masih tetap dapat disembuhkan, tetapi risikonya akan sama dengan apa saja yang terlambat: berakhir dengan penyesalan bahwa :nasi sudah terlanjur menjadi bubur”.
 
Oleh sebab itu curigailah TB Paru apabila ada gejala-gejala sebagai berikut:
 
1.    Batuk lebih dari 3 minggu
2.    Dada sakit
3.    Dahak bercampur darah
4.    Merasa lemah, cepat lelah
5.    Nafsu makan berkurang, berat badan turun
6.    Demam dan berkeringat pada malam hari.

ini dapat digunakan sebagai acuan untuk menjelaskan gejala TB Paru secara sederhana.
 
Kata kuncinya adalah “batuk lebih dari tiga minggu”. Jangan tunggu sampai terjadi batuk dengan dahak bercampur darah karena berarti sudah terjadi kerusakan jaringan paru. Langsung saja ke Puskesmas terdekat. Hampir semua Puskesmas di Indonesia mampu melakukan diagnosa TB dengan baik dan menyediakan obat cuma-cuma dengan metode DOTS (Directly Observed Treatment Short Course)
 
 
KESIMPULAN
 
WHO Global Tuberculosis Report 2012, menyatakan bahwa pada tahun 2012, dunia telah berhasil menemukan 5,8 juta kasus TB baru, yang merupakan 2/3 dari estimasi penderita TB yang diperkirakan mencapai 8,7 juta di seluruh indonesia.
 
Dengan semakin mantapnya pelaksanaan pengobatan TB Paru dengan strategi DOTS sejak 1995 Indonesia saat ini telah berhasil mencapai target MDGs 2015 untuk pengendalian TB: Penemuan sudah di atas 70% dan keberhasilan penyembuhan melampaui 80%. Masalah sekarang adalah menemukan yang belum ditemukan dan menyembuhkan yang belum disembuhkan dalam upaya kita menuntaskan masalah TB khususnya TB Paru di Indonesia.
 
Pemahaman dengan benar gejala-gejala yang mengarah ke TB Paru disertai kesadaran untuk memeriksaan kesehatan akan memberikan kontribusi tinggi dalam upaya pengendalian TB paru. Marilah kita bersama-sama berangkat dari rumusan kata yang amat sederhana: B3 jangan-jangan B3. (IwMM)

No comments:


Most Recent Post