Melanjutkan
tulisan MONYET, MANUSIA DAN TUBERKULOSIS (1): BELAJAR DARI GUBERNUR JOKOWI, terus
terang kalau tidak mengikuti tulisan tentang Pak Jokowi dan Monyet, saya tidak
akan tertarik dengan urusan Monyet dan TB. Memikirkan manusia dan TB saja tidak
ada habisnya, masih ditambah monyet.
Padahal dalam Jaman Globalisasi ini kita kenal
konsep: One World, One Health (OWOH). Pengertian sederhananya adalah:
Dalam memandang dunia yang seolah menjadi amat dekat dan saling terkait satu
sama lain seharusnya kita tidak memisah-misahkan lagi antara kesehatan manusia
dan kesehatan hewan. Prinsip-prinsip komplit tentang “One World, One Health”
dapat di download pada Contributing to One World, One Health (Annex 1:
The Manhattan principles on “One World, One Health”)
MONYET “RENTAN” TERHADAP TUBERKULOSIS
Ada
kedekatan antara Monyet dan Manusia. Salah satu akibatnya adalah antara monyet
dan manusia dapat saling menularkan penyakit. Banyak penyakit (bakteri,
parasit, virus dan jamur) yang ditularkan dari binatang ke manusia (Zoonosis)
dan sebenarnya baru sedikit penyakit zoonosis yang kita ketahui. Semua cara
penularan bisa terjadi pada penyakit zoonosis, termasuk penularan secara
airborne dan droplet (cara penularan TB).
Monyet
sangat rentan terhadap tuberkulosis dan bisa mendapatkannya akibat tertular dari
binatang lain maupun manusia dan tentusaja mampu menularkan TB ke manusia.
Manusia
yang dalam kesehariannya banyak kontak dengan binatang (pada tulisan ini:
Monyet) harus hati-hati, karena ada potensi dan risiko tertular penyakit
apabila binatang tersebut sakit (menular).
Lengkapnya
dapat dibaca di: Virginia Departmen of Health:
ANGKA KEJADIAN TUBERKULOSIS PADA MONYET
Bila kita membaca MMWR, CDC Atlanta, terbitan 30
Juli 1993, dengan Judul Tuberculosis in Imported Non Human Primates – United States, June 1990-May 1993
dapat kita baca bahwa Amerika
mengimpor monyet dari 9 negara (termasuk Indonesia) dan diantara monyet-monyet
tersebut ada yang terinfeksi TB.
Dari 81 kera ekor panjang yang ditemukan terinfeksi
TB, 76 (94 %) berasal dari Mauritania. 6 persen sisanya berasal dari Indonesia
(3 ekor) dan Filipina (2 ekor). Prevalensi kesakitan untuk kera dari Mauritania
adalah 2% (76 dari 3967), Indonesia 0,04 % (3 dari 7703) dan Filipina 0,02 % (2
dari 8910)
Editorial Note dari tulisan tersebut antara lain
menyebutkan bahwa bagaimanapun semua jenis kera ekor panjang rentan terhadap
tuberkulosis. Kaitan secara tidak langsung adalah monyet-monyet tersebut
diimpor dari negara yang prevalensi TB tinggi baik pada manusia maupun
binatang.
Penelitian lain dipimpin Dr. Lisa Jones-Engel, dari
National Primate Research Center, University of Washington, dilaksanakan hampir
10 tahun kemudian (tahun 2000-2005). Hasil penelitian tersebut dipublikasikan
di American Journal of Primatology, Juli 2012 dengan Judul: From the mouths of monkeys: Detection of Mycobacterium tuberculosis complex DNA frombuccal swabs of synanthropic macaques.
Penelitian dilaksanakan terhadap DNA yang diambil
dari mucosa rongga mulut monyet ekor panjang (Macaca sp) di 4 Negara Asia
yaitu: Indonesia, Thailand, Singapura dan Nepal, ditambah Gibraltar.
Penelitian di Indonesia dilaksanakan di tiga
tempat: Jawa (kemungkinan Jakarta) untuk monyet pertunjukan (performing
monkey), Tiga tempat di Sulawesi (utara, tengah dan selatan) untuk monyet
piaraan dan di Bali untuk kera yang berada di Pura (Temple).
Hasilnya dapat dilihat pada gambar di bawah:
Prevalensi TB pada monyet Indonesia rupanya paling
tinggi, disusul Thailand. Di kedua
negara ini prevalensi TB pada manusia juga tinggi. Sementara Singapura
dan Gibraltar, prevalensi TB pada monyet dan manusia keduanya rendah. Adapun
Nepal, termasuk negara yang prevalensi TB pada manusia tinggi tetapi disini
prevalensi TB pada monyet rendah.
Tabel di bawah menunjukkan karakteristik sampel
monyet ekor panjang (Macaca) yang di test IS 6110 dan positif Mycobacterium
complex (mayoritas Mycobacterium tuberculosis dan bovis).
Tentunya menarik bahwa dari 22 sampel monyet
pertunjukan di Jawa justru tidak ada yang positif TB. Dalam hal ini peneliti
menjelaskan:
Performing monkeys in
this village were the sole source of income for the residents, as such, the
care, feeding and housing of these animals was a priority for the community. In
2002 samples were obtained from 22 long-tailed macaques (M. fascicularis) kept by this community.
Intinya: Monyet
adalah satu-satunya sumber income masyarakat disitu. Dengan demikian
pemeliharaan, makanan dan kandang merupakan prioritas.
Lain dulu lain sekarang. Membaca beberapa tulisan di media saat ini, kandang, makanan dan pemeliharaan terkesan “terabaikan” sehingga kesehatan monyet pun menjadi tidak baik. Dapat kita baca tulisan di VivaNews berjudul Jokowi Musnahkan Enam Monyet terinfeksi TBC. Enam monyet ini adalah dari 64 ekor monyet atraksi yang berhasil diamankan. Sisanya masih dikarantina. Sejumlah 6 dari 64 berarti hampir 10 persen.
Mungkinkah ada pergeseran nilai? Dulu monyet dianggap mitra, sebaliknya sekarang monyet diperlakukan seperti budak belian?
Dari angka pada tabel di atas dapat dilihat bahwa prevalensi TB pada monyet Indonesia lebih tinggi dari monyet negara lain yang juga diteliti. Berturut-turut angka di Indonesia (rata-rata dari 3 lokasi), Thailand, Singapore, Nepal dan Gibraltar adalah: 57 %, 31,3 %, 2,7 %, 2,6 % dan 0 %.
EPILOG
Monyet rentan TB dan monyet banyak kena TB. Sementara TB sendiri adalah penyakit menular. Pertanyaannya adalah: Dari mana monyet tertular TB? Dapat dibaca pada lanjutan tulisan ini: MONYET, MANUSIA DAN TUBERKULOSIS (3): SIAPA YANGDULUAN MENULARKAN TB, MONYET ATAU MANUSIA?
Lain dulu lain sekarang. Membaca beberapa tulisan di media saat ini, kandang, makanan dan pemeliharaan terkesan “terabaikan” sehingga kesehatan monyet pun menjadi tidak baik. Dapat kita baca tulisan di VivaNews berjudul Jokowi Musnahkan Enam Monyet terinfeksi TBC. Enam monyet ini adalah dari 64 ekor monyet atraksi yang berhasil diamankan. Sisanya masih dikarantina. Sejumlah 6 dari 64 berarti hampir 10 persen.
Mungkinkah ada pergeseran nilai? Dulu monyet dianggap mitra, sebaliknya sekarang monyet diperlakukan seperti budak belian?
Dari angka pada tabel di atas dapat dilihat bahwa prevalensi TB pada monyet Indonesia lebih tinggi dari monyet negara lain yang juga diteliti. Berturut-turut angka di Indonesia (rata-rata dari 3 lokasi), Thailand, Singapore, Nepal dan Gibraltar adalah: 57 %, 31,3 %, 2,7 %, 2,6 % dan 0 %.
EPILOG
Monyet rentan TB dan monyet banyak kena TB. Sementara TB sendiri adalah penyakit menular. Pertanyaannya adalah: Dari mana monyet tertular TB? Dapat dibaca pada lanjutan tulisan ini: MONYET, MANUSIA DAN TUBERKULOSIS (3): SIAPA YANGDULUAN MENULARKAN TB, MONYET ATAU MANUSIA?
Link rujukan bacaan
Contributing
to One World, One Health
Virginia Department of
Health: Non-human Primates
Science daily: From the Mouths of Monkeys: Swab Technique Spots Tuberculosis in Non-Human
Primates
MMWR CDC Atlanta
American Journal of Primatology, July 2012
From
the mouths of monkeys: Detection of Mycobacterium tuberculosis complex
DNA from buccal swabs of synanthropic macaques
www.scienceblog.com (gambar
monyet)
Jokowi Musnahkan Enam Monyet Terinfeksi TBC
No comments:
Post a Comment