Thursday, May 2, 2013

PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK (1): APAKAH MASALAH?

Pada posting HIV: Dimana berada dan bagaimana cara penularannya telah disebutkan bahwa HIV ditularkan melalui (1) Kontak dengan darah; (2) Kontak dengan sperma atau cairan vagina; dan (3) Dari ibu HIV positif ke janin dalam kandungan.
 
Pada awal-awal dunia mengenal HIV dan AIDS, penularan dari Ibu ke anak ini (Mother to Child Transmission, biasa disingkat MTCT) sudah diperhitungkan tetapi kasusnya belum ada. Pengendalian HIV dan AIDS masih berkutat pada penularan akibat kontak dengan darah (misal transfusi, jarum suntik, tindik dan alat-alat tusuk lainnya) dan kontak dengan cairan sperma atau vagina (melalui hubungan seksual baik dengan sesama jenis atau berlainan jenis).
 
Penularan dari Ibu ke anak dapat terjadi selama kehamilan, proses persalinan dan menyusui apabila ibu tersebut HIV positif. Ibu yang HIV negatif tentusaja tidak mungkin menularkan HIV ke bayinya. Masalahnya adalah tidak semua ibu tahu status HIVnya: positif atau negatif karena tidak pernah melakukan tes HIV.
 
Adanya penularan dari Ibu ke janin/anak menunjukkan bahwa HIV bukan lagi monopoli kelompok-kelompok khusus manusia, tetapi sudah masuk ke masyarakat umum. Hal ini perlu mendapatkan perhatian kita semua.
 
 
SEBERAPA BESAR MASALAHNYA?
 
UNAIDS (2011) dalam World AIDS Day Report 2011 melaporkan bahwa pada tahun 2010 sekitar 390.000 anak usia dibawah 15 tahun terinfeksi HIV. Sebagian besar terdapat pada negara berpenghasilan rendah dan menengah dan 90 persen diantaranya adalah akibat penularan dari ibu ke anak selama kehamilan, persalinan dan menyusui.
 
Menurut WHO (2011) dalam Global HIV/AIDS Response: Epidemic update and health sector progress towards Universal Access 2011 menjelaskan bahwa tanpa intervensi maka 20-45% bayi yang dilahirkan ibu HIV positif berpeluang terinfeksi HIV. Risiko penularan nyaris hampir sama, baik pada saat kehamilan, persalinan maupun menyusui, seperti dapat dilihat pada gambar di bawah:
 
 
Pada abad 21 ini seorang ibu HIV positif yang hamil tidak perlu terlalu khawatir bahwa janin dalam kandungannya akan terinfeksi HIV. Sejak 1995 sekitar 350.000 anak terhindar dari infeksi HIV karena ARV yang diminum ibunya. Masalahnya adalah masih banyak Ibu yang tidak mempunyai akses kepada pelayanan pencegahan dari ibu ke anak (Prevention of Mother to Child Transmission yang biasa disingkat PMTCT).
 
Upaya global dilaksanakan semakin intensif, sehingga bila pada tahun 2005 hanya 15% dari Ibu HIV positif di negara berpenghasilan rendah dan menengah memperoleh pelayanan PMTCT, maka pada tahun 2009 angka tersebut meningkat menjadi 53%.
 
 
EPILOG
 
Akses wanita ke pelayanan PMTCT harus semakin ditingkatkan. Hal ini untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan wanita/ibu itu sendiri selama hamil dan setelah kehamilan, demikian pula untuk mengurangi risiko melahirkan bayi dengan HIV positif.
 
Dengan minum ARV secara konsisten, maka risiko melahirkan bayi dengan HIV positif bisa diturunkan sampai dibawah 5%. Demikian UNAIDS (2012) dalam World AIDS Day Report – Result. Bahkan menurut aidsmap, risiko tersebut bisa diturunkan sampai dibawah satu persen dengan minum ARV, melahirkan dengan sectio caesaria bila viral load tinggi dan tidak memberikan ASI. Aidsmap juga mengutip hasil penelitian di Denmark, bila semua petunjuk PMTCT diikuti secara konsisten maka tidak ada bayi HIV positif yang dilahirkan ibu HIV positif.
 
Dapat disimpulkan bahwa penularan HIV dari Ibu HIV positif merupakan masalah tetapi dapat diatasi sepanjang prosedur diikuti secara konsisten dan konsekwen. Masalahnya adalah ketersediaan dan akses terhadap pelayanan. Bila ketersediaan dan akses sudah ada, mengapa peluang ini tidak dimanfaatkan?
 
 
RUJUKAN BACAAN
 

No comments:


Most Recent Post