Monday, March 4, 2013

MELACAK PERJALANAN MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS DALAM TUBUH MANUSIA (1)

Mycobacterium tuberculosis dalam jumlah sedikit sudah cukup untuk menimbulkan sakit. WHO Fact Sheet Oktober 2012 menyebutkan satu dari tiga penduduk dunia pernah terinfeksi TB dengan 10 persen diantaranya berpeluang untuk menjadi sakit.

Begitu hebatnya kuman yang satu ini kalau diabaikan keberadaannya. Tulisan ini melanjutkan posting Apa yang terjadi ketika seorang penderita TB Paru batuk.Semua dimulai dari batuk seorang penderita TB paru aktif.

Tidak hanya batuk, tetapi juga bersin, berbicara, berteriak, menyanyi termasuk tertawa. Melalui partikel airborne yang disebut droplet nuclei, tetes kasatmata berdiameter 1-5 mikron ini Mycobacterium tuberculosis numpang keluar.
 
SATU DROPLET BISA MEMUAT TIGA BAKTERI
 
Bakteri berbentuk batang dengan ukuran 0,3-0,6 kali 1-4 mikron (Wayne et al., 1984) ini memulai perjalanannya ke manusia lain, meneruskan tugas spesiesnya yang sudah berlangsung sejak ribuan tahun lalu. Droplet yang paling efektif (infektif) tentunya yang paling besar, yaitu diameter 5 mikron, bisa ditumpangi setidaknya 3 Mycobacterium. Berdesak-desakan tidak apa, yang penting keluar dulu.
 
Menurut Todar’s online textbook of bacteriology, dalam satu kali hentakan batuk kita bisa mengeluarkan 3000 droplet, sama banyaknya dengan droplet yang dikeluarkan selama bicara 5 menit. Jumlah droplet yang sama dikeluarkan oleh seorang penderita TB paru yang menyanyi selama 5 menit. Ditinjau dari jarak lontar, maka bersin adalah yang terjauh, sampai sekitar 3 meter.
 
Bisa dibayangkan bila seorang penderita TB Paru aktif batuk. Bila diambil rata-rata satu droplet memuat dua bakteri, maka dalam sekali batuk akan terlontar setidaknya 6000 bakteri yang siap mencari mangsa manusia yang ada disekitarnya. Merujuk ke Balasubramanian et al., 1994 satu droplet (yang berisi bakteri) sudah cukup untuk menginisiasi timbulnya lesi primer TB paru.
 
 
MELAYANG MENUJU ALVEOLI
 
Jules Verne menulis kisah fiksi perjalanan menembus kedalaman laut maupun perut bumi, mengapa kita tidak mencoba menulis kisah yang memang nyata bagaimana Mycobacterium tuberculoisis menembus paru-paru manusia. Pasti lebih seru, lebih-lebih bila ditulis oleh seorang story teller yang piawai.
 
Droplet nuclei dapat bertahan selama beberapa jam di udara terbuka bergantung kondisi lingkungan, sementara menurut beberapa kepustakaan, Mycobacterium tuberculosis bisa bertahan hidup 6-8 jam di kelembaban rendah.
 
Lama droplet berada di udara dan daya tahan hidup Mycobacterium tuberculosis di luar tubuh manusia sepertinya telah diatur supaya hampir sama. Dengan demikian selama droplet ada di udara, selama itu pula bakteri TB hidup. Tinggal menunggu siapa yang berada di dekat situ, dan ke arah mana angin membawa selama kurang-lebih 6 jam.

Bila kebetulan ada orang lain bernapas, mengisap droplet yang ditumpangi Mycobacterium tuberculosis maka proses infeksi pun dimulai.

Droplet besar akan mendarat di saluran napas bagian atas (rongga hidung dan tenggorokan). Tidak terjadi infeksi di tempat ini. Tetapi  droplet yang lebih kecil bisa langsung masuk ke paru-paru, menyusuri saluran pernapasan mulai dari trachea sampai akhirnya ke alveoli.

Alveoli adalah bagian paling terminal dari saluran pernapasan, berupa kantong, tempat paling banyak oksigen dan kebetulan bakteri TB ini sifatnya aerob (butuh oksigen). Di tempat ini lah infeksi TB paru dimulai.
 
Apa yang selanjutnya terjadi di alveoli dapat dibaca pada lanjutan tulisan ini: MELACAK PERJALANAN MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS DALAM TUBUH MANUSIA (2)
 
Rujukan bacaan:
 
Self-Study Modules on Tuberculosis (Modul 1)
Centers for Disease Control and Prevention, National Center for HIV/AIDS, Viral Hepatitis, STD, and TB Prevention Division of Tuberculosis Elimination, 2008
 
Avoiding Tuberculosis, The Health Academy, World Health Organization, 2004
 
Todar’s online textbook of bacteriology

No comments:


Most Recent Post